The Mantans

The Mantans
Bab 54 : Maunya serius tapi....


__ADS_3

Vita mengerucutkan bibir dengan kesal melihat Mamat memasukan mobil ke dalam halaman rumah orang tuanya.


Permintaan Vita agar Mamat menunggunya di ujung gang tak dihiraukan oleh cowok tersebut.


Sekarang Vita harus siap menerima tatapan kepo tetangga rumah ibunya yang melihat mereka kedatangan tamu seorang laki-laki ganteng dengan mengendarai mobil mulus tanpa goresan sedikitpun itu.


"Kan aku udah bilang tunggu di depan aja, kamu ngeyel amat ih," tegur Vita dengan suara rendah dan pelan, karena takut terdengar oleh ibunya dan tetangga yang masih penasaran dengan sosok Mamat, dan mencoba mencuri dengar.


"Aku bukan supir taksi online ya, yang bisa kamu suruh nunggu dimana aja," gerutu Mamat pelan.


Walau awalnya manyun tapi pada akhirnya Vita terkekeh mendengar ucapan Mamat dan membiarkan saja Mamat mengikuti langkahnya memasuki rumah, setidaknya itu lebih baik daripada melihat tatapan kepo dari tetangga sekitar rumah ibunya.


Namanya juga hidup di kampung, yang rumahnya saling berdempet dengan rumah tetangga, sehingga harus siap menerima kekepoan para tetangga yang sering kali julid.


Lihat Vita bawa laki-laki ke rumah, otak mereka pasti loading buat cari bahan gimana caranya buat dighibahin.


"Ibu ada Mathew," panggil Vita dari depan pintu kamar ibunya yang sengaja dibuka lebar.


"Tumben panggil Mathew, biasanya juga Mamat," bisik Mamat menggoda Vita, lalu duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu.


"Dih namanya juga ngenalin ke orang tua, ya kalik nama samaran yang disebut."


"Oh ada nak Matiu," sapa sang ibu ramah menghampiri Vita dan Mamat.


"Namanya Mathew bu bukan Matiu, hahahaha." tawa Vita berderai setelah mengucapkan kalimat tersebut.


"Hush kamu itu lho, ibuk e salah kok malah diketawain sih," tegur ibu sambil tersenyum malu karena kelakuan anaknya yang kadang kalau bicara suka nyablak itu.


Mamat mengambil tangan kanan ibu dan mencium tangan itu dengan hormat.


"Makasih lho nak kamu jadi repot-repot kasih oleh-oleh ke ibu segala," kata ibu dengan binar bahagia melihat calon anak mantu yang sekilas saja terlihat lebih baik dari Arya.


"Tidak repot kok bu."


"Nak Metiu tinggalnya dimana? Kerjanya apa?" tanya ibu sekedar ingin mengenal lebih dekat calon menantu yang dikenalkan anak perempuannya.

__ADS_1


"Nggak jauh dari Vita bu, saya kerja di resort," jawab Mamat sopan.


"Idih nggak mau ngaku yang punya resort," gumam Vita lirih yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri..


"Udah lama kenal sama Vita?"


"Baru enam bulanan bu."


"Serius sama Vita kan nak, nggak bakal mainin kan?" tanya ibu penuh harap.


"Ibu ih... apaan sih." gerutu Vita kesal dengan pertanyaan ibunya.


Mamat tersenyum mendengar gerutuan Vita. "Saya sih maunya serius bu, tapi Vitanya yang belum mau, belum siap katanya, " adu Mamat dengan sengaja, siapa tahu dengan begitu ibu bisa menasehati anaknya agar tak jual mahal dengan niat baiknya.


"Astaga Mat!" Vita sudah melotot dan ingin mencubit lengan Mamat ketika mendengar interupsi ibunya.


"Vita ndak boleh kayak gitu nak, ada yang serius, yang baik kalo bisa disegerakan malah bagus tho," nasihat ibunya lembut.


"Iya bu ini Vita lagi tanya hati Vita dulu, Vita nggak mau terburu-buru, biar kami pengenalan dulu bu." Vita menyahut membuat ibu tersenyum bahagia.


"Beneran ya nak?" tanya ibunya dengan suara memohon.


"Iya pasti bu," jawab Vita.


"Oh ya kalo kamu ndak kuat buat datang ke nikahannya Fara, ndak usah datang nak, nanti ibu yang akan kasih alesan," ucap ibu sebelum kami berpamitan.


"Iya bu."


Vita lalu berpamitan, dan lihatlah tetangga kepo mereka kembali melongokan kepala penasaran ketika mobil Mamat perlahan melaju meninggalkan rumah.


Rasanya Vita ingin banget memaki Mamat karena nekad menjemput Vita sampai rumah ibu, habis ini pasti gosip menyebar keseluruhan kampung kalo Vita sudah punya calon suami.


Duh.... semoga saja tidak ditambahi dengan berita, ternyata cerai dari Arya karena cari yang lebih tajir, lebih ganteng atau berita kalo dia selingkuh duluan, beneran sesuatu yang merepotkan buat Vita.


"Fara yang dimaksud ibu tadi siapa Yang?" Mamat memecah kebisuan, apalagi melihat Vita cemberut sejak keluar dari rumah ibu.

__ADS_1


"Adiknya Arya."


"Maksudnya?" tanya Mamat penasaran.


"Kemarin aku ketemu adiknya Arya, sempet ngobrol, basa-basi, dia undang aku buat dateng ke nikahannya Sabtu depan."


"Trus?" tanya Mamat ada nada tak suka dalam suaranya.


"Jangan negatif thinking dulu, aku memang dari dulu deket kok dengan adik-adik Arya, dan salah satu alasan aku tetap bertahan dalam pernikahan toxic itu ya salah satu alasannya karena mereka baik dan selalu support aku." Jelas Vita tak mau Mamat berpikiran yang aneh-aneh.


"Kamu mau dateng?" tanya Mamat datar.


"Aku belum tahu, rasanya tuh nggak nyaman aja, tapi melihat Fara yang memohon kayak kemarin rasanya nggak tega juga, bingung jadinya."


"Kalo memang nggak mau dateng jangan maksain, jangan suka nggak enakan buat nolak sesuatu, tapi kalo kamu mau dateng ya aku siap nemenin, sekalian buat nunjukin ke mereka bahwa kamu bahagia lepas dari Arya."


"Eh kok arahnya jadi kesana?" Vita menoleh cepat, maksudnya hanya bercerita dan tak meminta Mamat menemaninya.


"Kenapa kaget gitu, nggak mau aku temenin?" tanya Mamat dengan nada sarkastis.


"Eng.... enggak," jawab Vita gelagapan, bingung mau memberi jawaban, dia hanya belum siap go public hubungannya dengan Mamat, masih banyak waktu kan, Vita tak mau terburu-buru, belum sejauh itu juga, aduh susah Vita mau menjelaskannya.


"Ya pokoknya kalo kamu mau datang ya nggak papa, yang penting jangan sendiri kesananya."


"Kan ada ibu, ada mas Erwin juga," sahut Vita.


"Pokoknya harus sama aku!" putus Mamat tanpa mau dibantah lagi, satu hal ini yang sangat Vita tak sukai, semena-mena.


Bayangkan saja Vita yang terbiasa mandiri dalam segala aspek, dalam beberapa bulan terakhir harus mau diatur-atur oleh Mamat ya walaupun Mamat bukan ngatur yang dalam artian yang mengekang pasangannya gitu, tapi bagi Vita hal itu membuatnya jengah alih-alih tersanjung.


Katakanlah Vita bodoh atau apalah namanya, karena sejatinya kalo seorang perempuan mendapat perlakuan manis seperti itu kan pasti klepek-klepek.


Tapi Vita memang tidak seperti perempuan pada umumnya yang mudah luluh dengan perhatian super seperti ini, bagi dia cukup sewajarnya saja jangan terlalu berlebihan.


Memang masing-masing orang punya pendapat sih ya tak bisa dipaksakan apa yang mereka suka dan tidak.

__ADS_1


__ADS_2