The Mantans

The Mantans
Bab 71 : Apa aku semenarik itu?


__ADS_3

Akhirnya setelah gencatan senjata, Vita dengan berat hati menyetujui untuk kembali pulang ke rumahnya, padahal ia masih ingin bermalas-malasan di rumah ibunya, solo travelling menjelajah ke seluruh pusat jajanan di sekitaran kota Solo.


Emang ya punya pacar posesif itu menyebalkan meski disatu sisi tak ia pungkiri menyenangkan juga, karena untuk modelan perempuan seperti Vita yang tak neko-neko, pasti ia tak keberatan untuk di-posesif-in.


Berbanding terbalik dengan Vivian yang suka dengan kebebasan dan hiruk pikuk pertemanan , cowok posesif seperti Mamat pasti membuat dirinya terkekang, tak bisa mengekspresikan diri, makanya dia tergoda untuk berselingkuh dengan Restu yang kepribadiannya bertolak belakang sekali dengan Mamat.


"Udah sana balik ke kantor, jangan ganggu aku, aku kan udah ngundurin diri dari kantor kamu," usir Vita mendorong Mamat lembut untuk keluar dari kafenya.


"Enak aja, aku belum acc ya!" ketus Mamat sambil merotasi matanya.


"Ya udah acc aja, ya kalo masih mau pacaran sama aku ya yang itu harus di acc."


"Eh kamu seenaknya aja ngomong ya, itu cincin udah ngelingker di jari manis kamu, acc atau nggak acc kamu tetep jadi tunangan aku!" Mamat mengacak rambut Vita gemas.


"Ya kan salahnya sendiri, masangin cincin nggak ijin sama yang punya jari," sahut Vita sambil merotasi kedua matanya.


"Kalo ijin, yang punya jari suka jual mahal, males jadinya."


"Ya iya dong, masak mau diobral!"


Selagi mereka berdebat, Susi dan Sena hanya melihat keduanya dengan melongo.


Terutama menurut pandangan Sena, Mamat yang biasanya irit bicara dengan aura yang selalu mengintimidasi itu bisa seramah dan senarsis itu jika sama Vita, pemandangan langka yang tak akan sering ia jumpai.


Selepas Mamat pergi dari sana (karena terus-terusan diusir oleh Vita), Vita kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda tadi.


"Kenapa kalian melongo begitu?" tanya Vita penasaran.


"Nggak pernah liat pak Mathew kayak tadi mbak, ternyata kalo bucin seperti itu ya?" gumam Sena heran.


"Kaget Sen?"


"Gimana nggak kaget mbak, pak Mathew yang aku kenal itu selalu dingin gitu lho auranya, irit bicara pula."


"Aku sejak awal nggak pernah merasa terintimidasi sih sama dia, kan emang kenalnya pas dia nyamar jadi tukang ojek, jadi ya aku kira orangnya pendiam gitu, ternyata huft." ucap Vita mencoba berkeluh kesah, membuat Susi dan Sena terkekeh pelan.


"Ini udah beres semua yang pesanan bu Camat?" tanya Vita sambil menata beberapa totebag yang berderet di depannya.

__ADS_1


"Udah mbak, habis ini manggang buat pesenan mbak Lola buat arisan ntar sore."


"Jadi hari ini kita full ngerjain pesenan aja ya, nggak buka kafe?" tanya Vita memastikan, karena selama dua hari kabur itu ternyata pesanan datang bertubi-tubi.


"Iya mbak, nggak sempet kalo harus ngerjain yang lain, lagian di depan udah aku gantungin tulisan habis kok"


"Oh oke kalo gitu."


"Ini udah dibayar semua kan Sen?" tanya Vita lagi, mengantisipasi kejadian tak mengenakan yang disebabkan oleh Erina waktu itu.


"Udah mbak, bahkan bu Camat udah bayar full termasuk sama pesanan untuk minggu depan." jawab Sena dari arah dapur sana.


"Kenapa nggak nyuruh mbak Sinta sama Retno masuk barengan aja sih mbak?" protes Susi.


"Pertama karena dapurnya kecil nggak bakalan muat nampung buat lima orang, kedua ya biar tenaga kalian nggak ke forsir."


"Nah ngomong-ngomong tempat kecil, sebelah kan rukonya di sewain mbak, kenapa nggak kita sewa sekalian aja, kan kita bisa memperbesar kapasitas produksi kita," usul Sena pas dia keluar dari dapur.


"Aku belum berani Sen, takut danaku nggak cukup."


"Coba aku bantu itung ya mbak, nanti kita diskusikan kalo ada kekurangan modal mau bagaimana, mau pinjam atau mau gimana."


Vita tampak berfikir, usulan Sena memang menggiurkan, tapi ada kekhawatiran tersendiri kalau usaha ini tidak seperti yang ia harapkan.


"Lagian kenapa nggak ngomong sama pak Mathew aja sih mbak, kan pasti dia mau bantu," usul Sena membuat Vita melotot tak setuju.


"Sembarangan, kan dia belum jadi apa-apa ku."


"Kan udah pacaran, sebentar lagi juga udah jadi istri."


"Masih pacaran, belum menikah, aku nggak mau berhutang budi sama siapapun Sen, nggak enak kalo terjadi apa-apa."


"Masak do'anya begitu sih mbak, doa tuh yang baik, minta disegerakan gitu," nasihat Sena.


"Lagian aku tuh insecure banget lho sama Mamat, kayak langit sama bumi perbedaannya," gumam Vita.


"Insecure gimana, mbak Vita cantik gini."

__ADS_1


"Dih.... katarak lo!" maki Vita gemes bukan perbedaan itu yang ia bicarakan.


Tapi memang Vita tahu dirinya apa adanya, bahkan jarang memoles wajahnya dengan berbagai macam produk skincare, masak Sena bilang dia cantik.


"Mbak Vita nggak sadar apa ya? Kalo mbak Vita tuh menarik dalam kesederhanaan, nggak pernah menor tapi cantik banget polosan gini, apalagi udah dari sononya kulitnya putih mulus."


"Emang iya aku semenarik itu?" tanya Vita masih terbengong dengan ucapan Mamat.


"Ya kalo aku sih terus terang tertarik."


"Mas Sena!" teriak Susi dari balik meja kasir, entah sejak kapan gadis manis itu udah bertengger di sana.


"Apa sih Sus, nggak jelas banget!" omel Sena masih mengusap dadanya yang masih deg-degan.


"Jangan ngomong kayak gitu di depannya mas Mamat, bisa-bisa mas Sena dimu*ilasi ntar."


"Anak kecil tahu apa sih?!"


"Coba aja kalo nggak percaya, tuh orangnya datang." Susi langsung turun dari bangku dan melenggang kembali ke dapur.


Mamat melangkah gagah memasuki kafe, matanya menatap tajam ke arah Vita dan Sena yang sedang duduk berhadapan.


Vita tersenyum lebar melihat bara api dalam mata Mamat, bukannya takut, Vita justru kesenangan untuk menggoda pacar eh tunangannya tersebut.


Tanpa berkata-kata Vita langsung duduk di sebelah Vita, melingkarkan tangan ke pundak Vita dan mencium pelipis Vita tanpa malu di hadapannya ada Sena.


"Dah deh mbak, mumpung ada pak Mathew dibicarakan aja masukan dari saya tadi." Sena berdiri, pintar membaca situasi, melihat Mamat sedang terbakar cemburu itu, lebih baik Sena menyingkir daripada ucapan Susi tadi jadi kenyataan.


"Ngomong apaan barusan sama Sena?" tanya Mamat dingin.


Bukannya terintimidasi, Vita justru terkekeh melihat Mamat yang sedang menahan kecemburuannya.


"Heh pak, otaknya jangan travelling kemana-mana, emang pacar situ cantik apa, semua-semua dicemburui," cibir Vita kesal.


"Emang pacar aku tuh cuantik banget, kalo bisa sih pengen aku karungin terus aku bawa pulang, aku kunci di dalam kamar, hanya untuk aku."


Vita shock mendengar pengakuan Sena tadi dan pengakuan Mamat barusan, rasanya Vita tak menganggap dirinya sesepecial, buktinya ia diselingkuhi Arya berkali-kali.

__ADS_1


"Apa aku semenarik itu sih Mat?" tanya Vita speechless.


"Yes you are!"


__ADS_2