
Sudah terlihat kesibukan di kediaman orang tua Vita dengan dihias sedemikian rupa, halaman rumah itu telah tampak terpasang tenda putih dengan kursi-kursi yang tertata rapi.
Tepat hari ini acara pertunangan antara Mamat dan Vita akan dilaksanakan, awalnya Mamat mengusulkan agar acara dapat dilakukan di resortnya saja, tapi Vita dengan tegas menolak dan untuk menghormati ibunya Vita meminta agar acaranya tersebut dapat diadakan di rumah sang ibu.
Tak banyak tamu yang diundang, hanya keluarga inti dan kerabat dekat saja, itu saja pasti sudah memenuhi semua kursi yang ditata di rumah yang memang tak begitu luas itu.
Tetangga yang awalnya kepo dengan aktivitas di rumah Vita akhirnya terdiam setelah menerima bingkisan berisi makanan dengan souvenir mewah di dalamnya yang sengaja dibagikan oleh Vita untuk kabar pertunangannya.
Vita menatap cermin yang memantulkan wajahnya yang sedang dipoles make up oleh MUA yang diundang untuk mendandaninya.
Rasanya kembali dejavu seperti saat Vita dan Arya menikah dulu, dia juga melaksanakan akad nikah di rumah dan baru mengadakan resepsi di gedung malam harinya.
Segera Vita mengusir bayangan itu dalam benaknya, dia bukannya belum move on, hanya saja ada setitik keresahan di dalam hatinya sana, takut terlalu cepat menerima lamaran Mamat, takut mengalami hal serupa, tapi kembali lagi Vita memantapkan hati bahwa Mamat bukan Arya yang akan mengecewakannya.
Buktinya syarat yang diajukan oleh Vita agar Mamat bisa membawa restu dari seluruh keluarganya benar-benar di berikan oleh Mamat, hari ini keluarga inti Mamat akan hadir pada acara ini meski minum sang oma yang tak sanggup melakukan perjalanan jauh dari Jakarta ke Solo.
Pintu kamarnya diketuk seseorang." Tan, om Mathew udah dateng." Ines menampakkan batang hidungnya di hadapan Vita.
"Oke."
Vita berjalan diapit Laras dan Gina, menuju ke tempat ibu dan Erwin yang telah menunggunya.
Dihadapannya sudah duduk Mamat dengan diapit oleh mami dan papinya, Vita mencuri pandang sekilas, dan Vita dapati Mamat sedang menatapnya dengan..... memuja.
Melirik sekilas ke arah calon ibu mertuanya, tak lupa menyunggingkan senyum terbaik, tapi... mami Vena hanya menarik bibirnya sedikit dengan tatapan yang terlihat sinis di mata Vita.
Vita kembali menundukkan kepala, apa mungkin Tama atau Mamat yang memaksa dua perempuan paling berkuasa di keluarganya itu untuk menurut pada kemauannya.
__ADS_1
Ah sudahlah nanti akan ia tanyakan ke Mamat langsung saja, Vita kembali fokus kepada pembawa acara di depan sana yang telah memulai acara.
Satu persatu prosesi dilalui Vita dan Mamat, salah satunya dengan bertukar cincin, dan seperti yang menjadi perdebatan tak ada putusnya antara Mamat dan Vita sebelumya mengenai ganti tidaknya cincin Vita, kini di jari Vita melingkar dua cincin, cincin lamaran dari Mamat tersemat di jari manis kanannya, dan cincin pertunangan di jari manis kirinya.
Sepertinya Vita harus mulai membiasakan diri menerima segala kemewahan itu, meski itu tak begitu ia sukai, tapi apa daya karena calon suaminya memang berasal dari keluarga sultan.
Setelah semua prosesi acara pertunangan itu selesai, kini tiba waktunya untuk membicarakan tanggal pernikahan Mamat dan Vita.
Vita mendesah mendengar pembicaraan orang-orang disekitarnya mengenai tanggal pernikahan mereka, Mamat versus keluarga Vita versus keluarga Mamat.
Jadi ketiganya meminta waktu yang berbeda, Mamat meminta pernikahan mereka dilaksanakan satu dua bulan kedepan, keluarga Vita meminta dilaksanakan enam bulan lagi agar keduanya bisa lebih saling mengenal, sedang keluarga Mamat meminta dilaksanakan satu atau dua tahun kemudian.
Karena pusing mendengar adu pendapat diantara ketiganya, Vita lebih memilih menyingkir ke teras samping sambil menikmati puding buah di tangannya.
"Kok disini Vit?" tanya Maureen sambil menghempaskan ****** di samping Vita.
"Yang sabar ya, ini baru awal lho belum masuk beneran ke keluargaku," goda Maureen sambil terkekeh.
Vita menyunggingkan senyum, entah karena perkataan Maureen tadi atau lelah karena mendengar perdebatan yang masih terus berlangsung hingga saat ini.
"Mathew anak lelaki dan cucu lelaki satu-satunya di keluarga papi dan mami, jadi dia terbiasa dituruti semua kemauannya oleh kami, dia cowok dingin dan kaku, minim ekspresi, tapi dia sebenarnya baik, hanya saja kamu harus kuat mental sama ke-posesifan-nya, itu juga yang membuat hubungan dia sebelumnya berantakan, karena dia posesif habis dan overprotective."
"Aku tahu kak, awalnya kan hubunganku dengan dia juga hasil pemaksaan yang dilakukannya, tapi setidaknya aku bahagia begitu dicintai dan dihargai seperti ini," ucap Vita menatap lekat kepada calon kakak iparnya tersebut.
"Titip adik gue ya Vit, tolong bahagiain dia, at least gue tahu dia ada ditangan yang tepat, gue nggak sanggup ngelihat matanya kosong kayak beberapa tahun ya lalu," ujar Maureen menggenggam tangan Vita lembut.
"Makasih kak sudah mau menerima aku meski statusku seperti ini," balas Vita sambil mengulas senyum manis.
__ADS_1
"Semua pada ribut tante malah enak-enakan disini, dipanggil tuh," tegur Ines membuat suasana haru tersebut jadi buyar.
"Ayo kak, masuk," ajak Vita menggandeng tangan Maureen.
"Vit, sini nak, ada yang ingin kami bicarakan." Vita melangkah mengambil duduk disebelah Mamat.
"Kami mau tanya kamu ingin pernikahan kamu dilaksanakan tanggal berapa dan mau konsep seperti apa?" tanya Ibu lembut, semua pasang mata menatapnya menunggu usulan darinya.
"Kalo boleh Vita meminta sih Vita ingin pernikahan Vita yang sederhana saja hanya keluarga dan teman dekat saja yang diundang, dan Vita ingin pernikahan itu dilaksanakan di resortnya Mamat saja, kalo tanggal pernikahan saya rasa empat bulan dari sekarang sudah cukup untuk kami mengenal dan mempersiapkan pernikahan kami," jelas Vita.
"Cckk." Terdengar decakan tak setuju dari Mamat yang duduk disampingnya.
"Kamu nggak ingin pernikahan di ballroom hotel yang?" tanya Mamat frustasi dengan kesederhanaan Vita tersebut.
"Ya buat apa, kan yang penting maknanya bukan mewahnya kan?" tegur Vita lembut.
"Terus itu tanggalnya nggak bisa dimajuin jadi dua bulan aja, kelamaan buat aku?!" sungut Mamat kesal.
"Ya udah tiga bulan saja ya, biar persiapannya tidak terlalu mepet," jawab Vita akhirnya.
Keluarga Mamat menatap Vita dengan pandangan takjub pantes saja Mamat klepek-klepek, disamping cantik Vita juga perempuan penurut, yang tak akan meninggikan suara ketika menghadapi Mamat, dan yang paling penting Vita jauh dari kata matrealistis.
"Ya udah deh tiga bulan saja dari sekarang pernikahannya, papi mami nggak keberatan kan pernikahannya dibikin sederhana?" tanya Mamat meminta pertimbangan kedua orang tuanya, bagaimanapun dia anak lelaki satu-satunya takutnya kedua orang tuanya mempunyai konsep yang berbeda dengan Vita dan dirinya.
Tama menggeleng pelan, sedang Vena tersenyum lebar menanggapi konsep pernikahan yang diminta Vita, jujur dia tidak siap memperkenalkan Vita yang seorang janda sebagai menantunya.
"Deal ya, jadi kami bisa mulai mempersiapkan pernikahan kami," kata Mamat membuat semua yang ada disana menganggukan kepala.
__ADS_1