
"Jadi siap menjelaskan apa yang terjadi?" tanya Vita kepada Mamat, mereka sekarang ada di rumah Vita, duduk berdampingan di sofa dengan duduk menyerong saling berhadapan, Vita menekuk lututnya menopang dagu disana.
Pada akhirnya Vita luluh juga setelah Mamat mengekorinya tanpa lelah, bahkan kalo pengunjung kafe sedang sepi, Mamat kembali seperti ulet bulu yang menempel di badan Vita.
Risih? Tentu saja risih tapi mau bagaimana lagi kalo protesannya tak dihiraukan oleh Mamat, cowok ganteng dengan tinggi seratus tujuh lima centimeter itu tetap cuek meskipun terlihat lucu dengan menempel perempuan mungil seperti Vita.
"Jadi?" Vita mengulang pertanyaannya lagi melihat Mamat masih betah mengunci bibirnya dengan tangan yang asyik menjelajah ke rambut dan wajah Vita.
"Kamu mau tahu apa?" respon Mamat akhirnya setelah tangannya berulang kali ditepis sama Vita.
"Ya itu dua V, tadi maksudnya apa?" Vita mengeryit melihat Mamat ditanya jawabnya muter-muter kayak gasing alias ngeles mulu.
"Ya kamu, Vita dan Vivian, bikin pusing!" jawab Mamat.
"Lha emang aku ngapain?" Vita tak terima dikata bikin pusing Mamat.
"Bandel, nggak mau dijaga, semaunya sendiri."
"Enak aja ya kamu ngomong! Aku bandel darimananya?" Vita nyolot mendelik tak terima dikatain bandel.
"Ya itu disuruh jadi manager restauran nggak mau!"
"Gini deh, aku akan kerja di resort kamu, tapi dengan catatan jangan otak-atik kafe aku, biar kafe tetap aku handle, aku bisa kok atur waktu, nah untuk mantan tunangan kamu yang mau caper lagi ke kamu, aku tanya sekali lagi, kamu beneran udah move on dari dia? Sudah yakin sama aku?" tanya Vita menegaskan sekali lagi.
"Udahlah Yang, aku beneran mau serius sama kamu, kalopun keluargaku nggak setuju aku nggak peduli."
"Deal ya?" Vita mengulurkan tangan mengajak Mamat berjabat tangan, walau sebenarnya Vita tidak suka kalo tak mendapat restu dari kedua belah pihak keluarga.
"Deal!" Sahut Mamat menerima uluran tangan Vita, lalu menarik perempuan itu dalam pelukannya.
"Jadi kalo nanti Vivian aku kungfu, kamu ikhlas kan? Nggak marah kan?" tanya Vita waktu pelukan mereka terlepas.
"Hah?!"
__ADS_1
"Kagetnya biasa aja kali pak, gitu amat kayak nggak ikhlas mantannya kenapa-napa."
"Siapa yang nggak ikhlas? Kamu mau kungfu, mau silat, mau taekwondo, silakan, tapi aneh aja ngeliat kamu yang manis jadi barbar kayak gini."
"Deal ya?" Vita ganti menyodorkan kelingking minta promise ke Mamat, dengan senyum geli Mamat menautkan jari kelingkingnya ke Vita.
"Jadi beneran besok banget aku kerjanya? Nggak nunggu Senin depan aja, biar aku urusin kafeku, atur-atur biar oke aku tinggal," tawar Vita.
"Ya mauku sih gitu, tapi kalo kamu maunya Senin juga nggak papa sih, yang penting aku yakin kamu bisa jaga diri dari perempuan ular itu."
"Tenang Mat, aku tuh bisa jaga diri dengan baik, yang penting kamu udah yakin sama hubungan ini, jadi aku tahu mesti bertindak seperti apa untuk mempertahankan hubungan ini, walau sebenarnya sih bukan aku banget ya harus rebutan cowok kayak gini, duh malu udah tua."
"Kalo kamu, yakin nggak ama hubungan ini?" tanya Mamat penasaran dengan isi hati Vita yang tampak adem ayem itu.
"Ya sebenarnya sih buat aku terlalu cepet aja, tapi aku kudu percaya juga namanya takdir, jalani aja dengan ikhlas," jawab Vita enteng.
"Berarti kalo langsung aku ajak nikah mau dong?" tanya Mamat sumringah.
"Oke deh."
***
Vita telah resmi bergabung dengan Panorama resort, tepatnya menjadi manager restauran.
Setelah tadi diperkenalkan secara singkat oleh Mamat (sebenarnya cukup Manager HRD saja agar tak menimbulkan kecemburuan sosial) dengan semua karyawan yang bekerja disana, Vita memulai harinya dengan pengenalan pekerjaan.
Semua karyawan menunduk hormat kepadanya, siapa yang tak kenal Vita kan, calon istri dari si empunya resort, kalo bisa sih semua ingin berteman dengannya, menjilat demi sebuah jabatan, dunia kerja kadang memang sesadis itu.
Tapi Vita yang sudah berpengalaman puluhan tahun bekerja di Jakarta, yang merangkak dari bawah hingga bisa menjadi supervisor di sebuah perusahaan multinasional tentu tak mengenal istilah jilat-menjilat, kalo pada akhirnya dia terdampar disini, itu semua karena paksaan Mamat bukan dia yang meminta atau lebih parahnya mengemis.
Dalam sehari Vita mempelajari sistem kerja disana lalu tanpa berlama-lama dia membuat gebrakan untuk meningkatkan penjualan resto.
Waktu istirahat telah tiba, kakinya melangkah mau menuju ruangan Mamat, sayup-sayup dia mendengar orang yang lagi asyik berghibah, pelan Vita mengendap dan mendengarkan pembicaraan orang-orang tersebut hanya untuk iseng.
__ADS_1
"Gimana rasanya dipimpin sama calon permaisuri? Asyik nggak orangnya?"
"Judes banget ternyata orangnya, udah gitu perfeksionis, beda banget dengan kesehariannya yang kita kenal, kayaknya kan manis, baik banget."
"Denger-denger pak boss disamperin tunangannya, tapi milih si calon permaisuri."
"Padahal kalo dilihat-lihat cantikan tunangannya ya, kok pak boss bisa kecantol sama dia sih, udah gitu statusnya janda lagi, hadeuh nggak habis pikir aku."
"Kan biasanya pelakor tuh lebih jelek dari yang sah, iya nggak sih?"
Kuping Vita yang menguping sejak tadi akhirnya panas juga dan dengan dada yang menggemuruh, Vita melangkah menjauh dengan perlahan, lalu kembali berjalan mendekat dengan sepatu pantofelnya yang sengaja dihentakkan ke lantai agar terdengar oleh manusia-manusia tak punya kerjaan yang menghabiskan istirahatnya dengan mengghibah dirinya.
"Nov.... " panggilnya pura-pura.
"Eh... i iya bu Vita." Novi yang dipanggil langsung bangkit berdiri dan menghampiri Vita, jangan lupa dadanya yang berdetak kencang, takut Vita mendengar pembicaraannya dengan ketiga temannya.
"A ada apa ibu mencari saya?" tanya Novi gelagapan.
"Saya cuman mau nanya, pak Toni hari ini masuk apa off ya?"
"Em nanti sore buk, ada yang bisa saya bantu?" Novi menawarkan bantuannya karena dia disana sebagai senior waiter yang membantu pekerjaan Toni apabila mereka beda shift.
"Saya butuh beberapa masukan sih, tapi besok saja deh, saya minta Toni untuk masuk pagi barengan saya."
"Ba baik bu Vita, nanti saya sampaikan ke pak Toninya." Novi mengangguk lega, mengira Vita tidak mendengar pembicaraannya barusan dengan beberapa rekannya.
"Oh iya Nov, kalo istirahat tuh dipakai buat istirahat jangan buat ghibah, kan sayang waktunya kebuang percuma, lagian belum tentu lho apa yang kalian ghibahin itu bener, jangan suka kepo sama urusan orang lain." Vita berbalik dan berlalu dari sana, membuat Novi dan teman yang lain berdiri gemetaran menyadari Vita mendengar pembicaraan mereka.
Belum jauh melangkah Vita bertemu dengan Vivian yang tampak selalu cantik sedang menyunggingkan senyum yang tulus tapi terlihat seperti mengejek itu.
Vita berhadapan dengan Vivian, mata mereka saling menatap intens.
Ada apalagi ya, kita tunggu kelanjutannya ya.
__ADS_1