The Mantans

The Mantans
Bab 72 : Sutama Praja


__ADS_3

Rasa sayang yang terlalu berlebihan, terlebih lagi untuk seorang Mamat yang kalo sudah jatuh cinta level bucinnya sudah masuk ke level unlimited, jadi apapun akan Mamat berikan dan usahakan untuk orang yang ia cintai.


Tetapi karena yang jadi kekasih Mamat sekarang adalah Vita yang sederhana, yang tak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dengan meminta barang mewah dan semacamnya, bisa ditebak kan permintaan Vita pasti out of the box banget.


Dari banyaknya hal yang ingin Mamat berikan untuk Vita, perempuan itu malah memintanya untuk datang memohon restu kepada keluarganya di Jakarta, kalau mereka akan melanjutkan hubungan mereka ke jenjang selanjutnya.


Bagaimana Mamat tidak semakin jatuh cinta coba, bukan hanya wajah Vita yang cantik tapi kepribadian perempuan itu juga cantik.


Akhirnya Mamat menyetujui dan mewujudkan permintaan Vita tersebut, hingga rela harus mengendarai mobil selama hampir tujuh jam untuk sampai ke Jakarta.


Sebenarnya Mamat hanya ingin berkunjung sendiri dan tak ingin mengajak Vita untuk berkunjung ke keluarganya, tapi kekasihnya itu merajuk dan memaksa, alasannya ingin sekalian makan steak premium yang dijual disalah satu resto yang berada di gedung tertinggi di Jakarta ini.


Dengan berat hati Mamat mengijinkannya, meskipun ia lebih ke khawatir kalau Vita mengalami penolakan lagi dari keluarganya yang nantinya akan membuat sakit hati perempuannya.


"Aku boleh mampir ke makam anakku nggak Mat?" tanya Vita ketika mereka telah sampai ke apartemen Mamat dan sedang beristirahat.


"Tentu boleh, besok pagi kita ke makam, siang kita ke kantor papi, dan malam kita berkunjung ke rumah orang tuaku."


Vita menelan ludahnya dengan kesusahan, bayangan wajah oma dan maminya Mamat dengan tatapan merendahkan masih begitu jelas terlihat.


"Jangan cemas, semua akan baik-baik saja, percaya sama aku, oke." Mamat mengelus puncak kepala Vita.


Perempuan itu tersenyum tipis, dia sangat bersyukur dicintai sebesar ini, meskipun ini belum akhir dari perjalanan cinta mereka, tapi bisa mengenal Mamat dan merasakan betapa besar cinta laki-laki itu membuat Vita tak berhenti mengucap syukur.


"Siap-siap gih, katanya mau makan steak premium sambil ngeliat Jakarta dari ketinggian," kata Mamat.


"Aku kan becanda Mat, itu kan cuman alasan aku aja biar boleh ikut kemari," sahut Vita sambil terkekeh.


"Nggak papa ayok cepetan ganti baju sana."


"Nggak ah, sayang uangnya, makan steak jutaan gitu." tolak Vita akhirnya.


"Sesekali nggak papa lah ya, mumpung lagi di Jakarta, sudah punya pacar pula," bujuk Mamat lagi.


"Iya tapi aku nggak mau ah kesana, makan yang biasa aja kan bisa."

__ADS_1


"Ya udah mau makan apa?" tanya Mamat akhirnya.


"Aku tuh pengen makan soto betawi yang ada di pojokan pasar Glodok itu lho Mat."


"Hah?! Dimana?" tanya Mamat memperjelas apa yang barusan didengarnya.


"Pasar Glodok!" jawab Vita lebih keras.


Melihat Mamat ketap-ketip menatap Vita dengan wajah bingung, tak ayal hal itu membuat Vita terkekeh, dia seakan diingatkan siapa lelaki di depannya ini.


"Maaf ya, aku lupa kalo pacarku tuh sultan, pasti belum pernah masuk Glodok!" goda Vita dengan tawa.


"Ya udah deh makan dimana aja, tapi jangan yang fine dining gitu ya," sambung Vita setelah tak mendengar tanggapan Mamat.


"Kalo gitu aku pesen makanan aja ya, kita dinner di apartemen saja, daripada bingung mau kemana lagian kamu juga perlu istirahat, besok kan acara kita padet," ucap Mamat hanya bisa membuat Vita melongo.


Bagaimana ceritanya akhirnya tetap makan di rumah, perdebatan mereka tadi pada akhirnya tak menghasilkan apapun, Vita tetap dikurung di dalam rumah.


Cckk....Mamat memang juaranya kalau bikin alasan yang kayak beginian.


Keesokan harinya, seperti rencana yang telah dibuat oleh Mamat dan Vita kemarin, hari masih terbilang pagi ketika kedua sejoli itu telah sampai di depan makam Galang.


Makam itu tampak bersih, pasti bude Ningsih yang rajin mengunjungi dan membersihkan makam tersebut.


Ada kerinduan dan sesak yang tiba-tiba menghimpit dada, mengingat di dalam sana terbaring tubuh bocah kecil buah cinta Vita dan Arya.


Mamat mengusap punggung Vita dengan lembut, mengetahui punggung perempuan itu bergetar, Mamat tahu Vita sedang menangis dalam diam.


Tak lama mereka disana, mereka memutuskan untuk berangkat menuju ke kantor Sutana corp atau lebih tepatnya kantor papinya Mamat.


Setelah berjibaku dengan lalu lintas Jakarta yang selalu padat, mereka akhirnya sampai ke sebuah gedung pencakar langit milik Sutama corp.


"Siap?" tanya Mamat menggenggam tangan Vita yang mulai keringatan karena gugup.


"Kalau nanti papi kamu mengusir kita gimana?" Vita membalikkan pertanyaan.

__ADS_1


"Ya nggak gimana-gimana, kita pulang dan melanjutkan hidup," jawab Mamat santai.


"Astaga, bisa santai gitu ya jawabnya." ketus Vita keki.


"Emang aku kudu jawab apa?" tanya Mamat mengernyitkan kening


"Jawab yang masuk logika gitu, misal ya aku akan berusaha biar mereka bisa menerima hubungan kita."


"Nggaklah ngapain aku buang-buang waktu, mereka nggak ngerestui ya udah, toh aku nggak butuh wali buat nikahin kamu."


"OMG pacar gue ternyata songong ya!" Vita merotasi matanya tak bisa mengerti jalan pikiran Mamat.


"Udah ah, ayok turun!" ajak Mamat.


Keduanya melangkah memasuki lobby, hampir semua mata melotot tak percaya melihat Mamat yang pergi melarikan diri selama lima tahun tiba-tiba kembali dengan menggandeng tangan seorang perempuan.


Tiba-tiba Vita merasa ingin mengubur dirinya dalam tanah, melihat sorot mata penasaran dari karyawan disana tentang sosok Vita yang ada di samping Mamat.


Untung saja Vita telah mempersiapkan diri dengan busana yang pantas, paling tidak walaupun terkesan sederhana tapi penampilannya tidak terlalu terbanting dengan Mamat yang sialnya meski hanya menggunakan kemeja dan celana jeans tetap terlihat ganteng dan keren.


Mungkin selama pengenalan awal mereka ada yang salah dengan mata Vita, dulu dia melihat Mamat itu biasa banget, tak ada yang special, kenapa sekarang setelah mereka resmi berpacaran justru pesona pria itu semakin terlihat dan semakin mempesona.


Damn!


Jantung Vita semakin berulah ketika mereka telah sampai di lantai teratas gedung ini, tempat dimana ruangan direktur utama yang tak lain papinya Mamat itu berada.


"Selamat pagi mbak Wanda, papi ada?" sapa Mamat membuat Wanda sekretaris yang mengabdi selama puluhan tahun kepada papinya itu terkaget akan kedatangan Mamat.


"Selamat pagi pak Mathew, pak Sutama ada pak, sebentar saya beritahu beliau dulu ya." Pamit Wanda berdiri dan bergegas menuju ke ruangan bosnya.


Wanda mengetuk pintu pelan, dan setelah dipersilahkan masuk oleh si empunya ruangan, Wanda pun masuk dan tak lama kemudian kembali keluar.


"Silakan masuk pak Mathew." Wanda mempersilakan masuk dan sesekali melirik Vita yang tangannya tak lepas dari genggaman Mamat.


Mamat masuk ke dalam ruangan tersebut, dan menjumpai seorang pria setengah abad dengan muka yang mirip dengan Mamat.

__ADS_1


Sutama Praja


__ADS_2