
"Arya mana Vit?"
Kata-kata Evan tadi pagi kembali terngiang, entah untuk maksud apa mantan pacar pertamanya itu datang berkunjung dan bertanya tentang kehidupan pribadinya, tentang Arya.
Tak mungkin kan kalo cowok itu tahu tentang persoalannya, sedang ia sengaja menutup rapat masalah ini, jangankan Evan keluarganya hanya Ines yang tahu.
"Mbak, setelah ini saya harus kemana lagi?" tanya Mamat pelan membangunkan Vita dari lamunannya.
"Delivery berikutnya nanti jam lima sore Mat, kamu istirahat dulu aja." jawab Vita setelah menggusah semua pikiran liar yang sedang bercokol di otaknya.
Dari kesemua mantannya, tak bisa dipungkiri kalo Evan merupakan tipe cowok idaman banget buat Vita, tinggi, putih, ganteng dan pinter, membuat Vita meleleh tak berdaya.
Bahkan sosok Bima yang jadi pacar keduanya tak mampu mengusir pesona Evan dari otak dan hatinya, keduanya pasti Vita bandingkan.
"Mbak." panggil Mamat pelan, melihat Vita sejak kedatangan pria tadi lebih banyak bengong dan melamun.
Vita mendongak menatap Mamat yang berdiri tak jauh dari tempat duduknya.
"Ada masalah?" tanya Mamat hati-hati.
__ADS_1
Tak menjawab, Vita malah menutup matanya, kesan capek jelas tercetak pada wajahnya yang ayu.
Tak ingin mengganggu Vita, akhirnya Mamat hanya terdiam, mengamati wajah ayu yang sedang memejamkan matanya itu.
***
Pukul enak sore di hari yang sama.
Vita lagi asyik berbincang dengan pelanggan yang sedang menunggu makanan pesanannya siap ketika suara bel di pintu berbunyi menandakan ada pelanggan yang memasuki kafenya.
"Selamat datang." sapa Vita ramah membuat pelanggan yang berdiri di depannya menyingkir dan memilih duduk di kursi sambil menunggu.
"Hai Vit." sapa Evan melambaikan tangan, muka gantengnya masih terlihat fresh meski hari sudah beranjak sore, masih memakai baju kerjanya pertanda dia langsung mendatangi Vita tanpa pulang dulu ke rumah.
Mau menghindar bagaimana pun juga tetap saja pada akhirnya Vita harus menemui Evan.
"Maaf ya Van, aku tinggalin tadi." ucap Vita setelah duduk di hadapan Evan terhalang meja.
"It's oke Vit, aku tahu kamu sibuk, thanks udah nyempetin buat nemuin aku." sahut Evan lembut, ya pada dasarnya Evan memang sopan sejak dulu, tutur katanya manis dan lembut.
__ADS_1
"Kamu mau minum apa Van?" tanya Vita berusaha biasa saja, walau jujur hatinya agak grogi menghadapi Evan, maklum cinta pertama dan pacar ter-perfect jadi memang beneran membekas di hati Vita, walaupun sudah tak ada cinta yang tertinggal di sana.
"Lemon tea aja."
"Oke, wait ya." Vita bangkit dari duduknya lalu melangkah ke dapur, tak berapa lama Vita kembali keluar dengan nampan berisi es lemon tea.
"Thanks Vit." Evan meraih gelas di hadapannya dan menyesapnya pelan.
"To the point aja Van, ada apa kamu nemuin aku, nggak mungkin dong nggak ada maksud apa-apa." cecar Vita langsung bertanya pada pokoknya, jujur males kalo pertemuan mereka disalahartikan oleh Rara, kalo Vita sendiri tak kan ada masalah, tapi Evan, dia kan suami Rara, Vita tak mau disebut pelakor.
"Em.... cuman pengen nyambung silaturahmi aja sih, itu kalo kamu nggak keberatan ya." ucap Evan tenang.
"Aku sebenarnya nggak keberatan Van, cuman aku nggak enak sama Rara, aku nggak mau pertemanan kita disalahartikan sama pasangan kamu." sahut Vita tegas, ya dari awal memang kudu tegas kalo tidak ingin terjadi hal-hal di luar nalar.
"Aku bisa handle Rara kok Vit, tenang aja." Evan tersenyum menatap Vita dengan tatapan yang entahlah.
"Nggak gitu juga Van, aku nggak suka aja kalo rumah tanggamu kacau gara-gara aku."
"Enggak Vit, percaya sama aku." tegas Evan mantap.
__ADS_1
"Lagian aku mau minta maaf juga sama kamu atas semua sikapku dulu ke kamu, aku pikir aku keterlaluan dulu." sambung Evan dengan tatapan terluka.
'Ada apa lagi ini?' batin Vita nelangsa.