
Vita menggusah nafasnya sekali lagi sebelum dia membuka pagar rumah yang berada di depannya.
Rumah ini masih terlihat sama seperti terakhir dia menjejakkan kaki disini, asri dan menyejukkan.
Vita membuka pintu pagar hati-hati, mencoba kembali menata hati untuk berjumpa dengan sang ibu.
"Vita! Kamu datang nak," panggil ibu terdengar bergetar, membuat Vita terpaku, bahkan ia bisa sebegitu rindunya sama perempuan perkasa di depannya ini.
"Ibu." Vita berlari dan memeluk ibunya erat, tangis yang semula ingin ia tahan itu akhirnya keluar tak terbendung, disini di pelukan ibunya, dia menemukan tempat yang nyaman.
Ibu menangkup kedua pipi Vita, lalu mencium kedua pipi Vita dengan gemas, bahkan ibunya masih memperlakukannya seperti gadis kecil.
"Masuk nak." Ibu menggandeng tangan Vita.
Sudah lebih dari setahun Vita belum mengunjungi rumah ini dan tempat ini tidak banyak berubah, tempat ternyaman dimana dia dilahirkan, bertumbuh dan dewasa, tempat sederhana yang selalu dia rindukan.
"Ibu apa kabar?" Berdua duduk berdampingan saling menggenggam, seakan dari sana tercurah kerinduan.
"Baik nduk, kabar kamu baik juga kan?" tanya ibu mengulas senyum bahagia karena anak bungsu yang begitu dirindukannya akhirnya pulang.
"Iya bu, Vita juga baik." Vita merebahkan kepala di pangkuan ibunya.
"Syukur nak, itu yang selalu ibu doakan untuk kamu," kata ibu tulus sambil mengelus rambut hitam Vita.
"Ibu.... Vita mau minta maaf... Vita...." Dengan mata terpejam dan dengan suara patah Vita berucap, tenggorokannya tercekat, kata-kata yang ia sudah susun sejak beberapa hari yang lalu entah kemana perginya, semuanya tercecer tak ada satupun yang bisa dia ungkapkan dengan benar.
"Sudah, ndak usah kamu bicarakan lagi, ibu udah tahu, ibu kangen kamu, ndak mau denger apapun kecuali kabar kamu."
"Ibu..... " Bukannya tenang Vita justru tersedu, harusnya dia mengadu pada keluarganya, pada ibunya, bukan seperti kemarin yang harus melarikan diri dan semua ia pikirkan sendiri.
Bahkan ibunya tak menghakimi, kecemasannya akhirnya tak terjadi, ibunya baik-baik saja meskipun Vita yakin kalo perempuan yang melahirkannya tersebut pasti juga sama terlukanya dengan dirinya.
"Kamu bawa apa aja Vit, kok ibu lihat banyak banget keliatannya?" tanya ibu mengalihkan pembicaraan, tak perlu membicarakan sesuatu yang menyakitkan lagi, dan mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Titipan temen untuk Ibu." Vita memilih jujur, dia tak tahu sama sekali apa isinya, daripada kaya orang bodoh kalau-kalau ibunya mencecarnya dengan banyak pertanyaan lebih baik dia jujur.
"Temen apa temen?" tanya ibu tersenyum simpul lalu beranjak untuk mengambil salah satu totebag tersebut.
Vita menegakan tubuhnya dan bersandar pada badan sofa menatap ibunya yang terlihat asyik mengambil salah satu bungkusan disana.
"Ini ndak salah tho nduk? Ini pasti harganya mahal sekali."
__ADS_1
Mendengar perkataan ibunya, Vita bangkit lalu mengeluarkan semua isi dalam kedua totebag tersebut, dan mata Vita langsung melotot melihat isinya.
Tas, kain batik tulis, baju, semua barang branded, astaga berapa puluh juta yang sudah dikeluarkan oleh Mamat untuk ibunya.
"Bu... maaf banget, boleh nggak ini jangan diterima? Aku nggak enak bu, ini harganya puluhan juta," ucap Vita panik sendiri.
"Ya terserah kamu nak, ibu ikut apa mau kamu, tapi dia tersinggung ndak kalo kita tolak?" Ada nada khawatir disana.
"Aku telpon orangnya dulu deh." pamit Vita lalu melangkah menjauh menuju taman samping rumah.
Sedang ibu menghubungi kedua anaknya yang lain untuk mengabarkan keberadaan Vita.
Deringan ketiga telepon Vita baru diangkat oleh Mamat.
"Udah sampai?" tanya Vita.
"Bentar lagi, kenapa yang?"
"Itu nggak salah ya Mat, kamu ngasih bingkisan ke ibu kok barang branded semua dan segitu banyaknya, aku nggak bisa terima." Vita langsung bicara to the poin.
"Nggak papa buat ibu," suara Mamat terdengar lembut.
"Aku cuman mau kasih bingkisan aja kok kamu kesannya keberatan gitu?" Suara Mamat terdengar tak terima akan penolakan Vita.
"Pokoknya besok aku bawa balik!" Keukeuh Vita tak mau dibantah.
"Ya kalo gitu buang aja ke sampah!"
Lalu Klik sambungan telepon mereka terputus secara sepihak, karena Mamat mematikannya langsung, jelas tersinggung dengan ucapan Vita.
"Gimana Vit, pacar kamu marah?" tanya ibu khawatir melihat anak perempuannya mengacak-acak rambut.
"Bukan pacar bu," jawab Vita lirih, nah kan bahkan ibunya sudah berfikiran yang tidak-tidak.
"Oh bukan pacar." Senyum ibu mengembang mendengar perkataan anaknya yang terlihat salah tingkah.
"Apa katanya? Mau kan kita kembaliin barang itu?" tanya ibu.
"Katanya itu buat ibu, kalo aku nggak mau terima ya sudah buang saja ke tong sampah." jawab Vita dengan muka ditekuk.
"Ya sudah sih anggap aja pengenalan dengan calon mertua." goda ibu lalu masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Ibu!!"teriak Vita langsung berlari menyusul ibunya.
***
Malam harinya keluarga Vita semua berkumpul untuk makan bersama, sengaja ibu mengumpulkan anak, menantu dan cucu untuk menyambut kepulangan Vita.
Ketika bertemu dengan Ines Vita sengaja menjewer kuping Ines dengan gemas.
"Kamu ya ember bocor, janjinya mau keep ternyata ngomong sama bapakmu."
"Ya habisnya mereka marah melihat om Arya sama cewek lain Tan, aku jadi keceplosan, hehehe," sahut Ines cengengesan dengan muka tanpa dosa.
"Tapi dengan ini kan kami jadi tahu keadaan kamu dek, kami juga lega ternyata kamu bisa keluar dari hubungan yang tak membahagiakanmu itu," kata mbak Laras dari belakang lalu ikutan bergabung bersama mereka.
"Iya sih mbak, aku tuh sampai bingung, dulu kok aku bego banget ya, diselingkuhin berkali-kali masih aja mau terima dia balik," curhat Vita lirih.
"Namanya juga terlalu cinta makanya matanya ketutup sama belek segede gajah," kata Laras sambil nyengir.
"Nggak bisa ngeliat dong mah?" celetuk Ines terkikik.
"Iyalah, nah itu tantemu kan gitu dulu, lakinya kelakuan kayak setan tapi di mata dia bak malaikat, makanya dibela mulu"
Vita tersenyum kecut, sedang Ines tertawa ngakak mendengar ucapan mamanya.
"Betewe yang kemarin siapa tan? Pacar baru tante?" tanya Ines kepo.
"Kepo!" sahut Vita judes.
"Kata papa orangnya keren, sekeren namanya, nemu dimana tan?" goda Ines tak menyerah, akan dia korek informasi yang ia ingin tahu itu.
"Lo kira dia akik," ucap Vita merotasi matanya kesal.
Udah deh ya kalo para kaum hawa ngumpul, pasti deh omongannya bakalan ngalor ngidul tak karuan kayak gini.
Untung saja tadi Gina kakak tertua Vita setelah makan malam langsung ijin pulang karena ada rapat di kampungnya, kalo dia ikutan pasti Vita bakalan jadi rempeyek, habis diledek sama mereka semua.
Vita tersenyum melihat semua keluarganya yang berkumpul saling memberi support, ternyata apapun keadaan dirinya, keluarga tetaplah keluarga tempat kita berbagi.
Ah rasanya Vita menyesal kenapa tak segera berlari kepelukan keluarga, kalo ternyata bersama mereka Vita mendapat kekuatan baru.
Ternyata keluargaku adalah Surgaku..... batin Vita terharu.
__ADS_1