
"Vita!"
Vita membeku di tempat menatap kakaknya yang berdiri di hadapannya.
Seketika Vita melepaskan tangan Mamat yang masih menggenggam erat.
"Mas Erwin..... mas ngapain disini?" tanya Vita gelagapan.
"Mas yang harusnya nanya, kamu ngapain keluar dari hotel dengan seorang cowok?" tanya Erwin dingin dengan melirik Mamat yang tampak salah tingkah.
"Mas.... "
"Maaf mas, lebih baik kita duduk di coffee shop aja disana, kita bisa jelasin ke mas Erwin." Perkataan Mamat disambut lirikan sinis oleh Erwin, tapi tak urung dia mengikuti Vita dan Mamat yang berjalan menuju coffee shop yang berada di sudut hotel tersebut.
"Mau minum apa mas?" tanya Mamat ketika mereka sudah duduk saling berhadapan, Vita dan Mamat duduk berdampingan sementara Erwin duduk si hadapan mereka terhalang meja.
"Em... pesenin mas Erwin latte aja Mat," jawab Vita setelah pertanyaan Mamat menggantung dan tak mendapat jawaban dari Erwin.
"Kamu biasa kan chocolate chips?" tanya Mamat yang langsung dijawab anggukan Vita.
Sebelum berlalu, Mamat menyempatkan mengelus kepala Vita dengan lembut, yang langsung mendapat pelototan tajam dari Erwin.
"Mas.... ini nggak seperti yang mas Erwin pikirin kok." Vita membuka percakapan dengan kakak lelaki satu-satunya yang sekarang sedang mengetatkan rahang, menahan amarahnya.
Wajar saja Erwin marah melihat adik semata wayangnya keluar dari hotel dengan bergandengan tangan bersama seorang pria, kalo tak menahan diri rasanya Erwin ingin memberi pelajaran pada cowok itu yang sialnya terlihat begitu perhatian sama adiknya.
"Ada hubungan apa kamu sama dia? Kok bisa keluar hotel barengan? Kalian nggak nginep disini kan?" interogasi Erwin setelah terdiam cukup lama memperhatikan sangat adik.
"Dih....apaan sih mas, aku masih punya harga diri, kalik aku nginep sama orang yang belum sah jadi suami aku," jawab Vita melengos jengah dengan pertanyaan kakaknya.
"Jadi bener yang Ines bilang kalo kamu udah pisah sama Arya?"
"Mas Erwin udah tahu?"
Erwin mengedikkan bahu." Syukur deh kalo kamu sudah bisa keluar dari hubungan toxic kayak gitu."
"Ibu udah tahu mas?" tanya Vita khawatir, karena bagi seorang ibu melihat rumah tangga anaknya berantakan itu pasti menghancurkan hatinya.
"Mas rasa sih udah bisa nebak arahnya, karena belum lama ibu mendengar dari tetangga yang melihat Arya bergandengan tangan dengan perempuan lain," jelas Erwin sambil menatap intens adiknya.
Vita menunduk, ternyata rasanya masih saja terasa sakit, walau hanya mendengar kabar tentang lelaki itu.
__ADS_1
"Tenang saja Vit, mas rasa ibu akan mengerti kok, nanti mas bantu ngejelasinnya," hibur Erwin setelah melihat Vita berulang kali membuang nafasnya kasar.
"Lalu dia tadi siapa? Pacar?" tanya Erwin kembali mencecar Vita.
"Bu bukan mas!" jawab Vita cepat.
"Iya mas, saya pacar Vita," sahut Mamat setelah kembali duduk dengan membawa tiga minuman yang tadi dia pesan.
"Apaan sih Mat?! Jangan ngaco deh!" bentak Vita kesal.
"Jadi kalian pacar atau bukan?" tanya Erwin memastikan kembali kepada kedua orang yang duduk di depannya tersebut.
"Iya."
"Bukan."
Suara Vita dan Mamat terdengar bersamaan, membuat Erwin mengulum senyum.
"Jadi gimana Mat? Nama kamu Mat...Mat siapa?" tanya Erwin tak menghiraukan tatapan protes dari Vita yang tak mengijinkan Erwin bertanya tentang Mamat.
"Maaf mas nama saya Mathew tapi lebih suka pada manggil Mamat," jawab Mamat sambil menyodorkan tangan kirinya (karena tangan kanannya lagi di gips) untuk menjabat tangan Erwin.
Vita mencibir mendengar Mamat memperkenalkan diri, dia sendiri yang kemana-mana memperkenalkan diri dengan nama Mamat, sekarang kok menyalahkan orang lain.
"Sekitar enam bulan yang lalu mas."
"Sudah tahu status Vita apa kan? Nggak masalah buat kamu?" tanya Erwin lagi.
"Status Vita yang janda maksud mas Erwin?" tanya Mamat memastikan lagi pertanyaan Erwin.
"Dih... bisa nggak sih, jandanya jangan disebut-sebut!" omel Vita lirih.
"Kan biar jelas sayang."
"Uhuk...uhuk....Apaan sih kamu Mat!" Vita sampai tersedak mendengar panggilan Mamat untuknya.
"Ehem.... ehem.... " potong Erwin ketika melihat keduanya mulai beradu argumentasi lagi.
"Iya saya tahu mas masa lalu Vita dan saya tidak mempermasalahkan, sekarang kan janda semakin di depan, " ucap Mamat tersenyum sambil melirik Vita yang tampak semakin sewot.
"Keluarga kamu?" tanya Erwin.
__ADS_1
"Ada di Jakarta mas." jawab Mamat cepat.
"Bukan itu maksud saya, keluarga kamu mempermasalahkan status Vita nggak? Atau kamu juga seorang duda?" tanya Erwin memperjelas pertanyaannya.
"Saya jamin keluarga saya tak akan ikut campur urusan saya, termasuk mempermasalahkan status Vita yang seorang janda," jawab Mamat mantap.
Vita menyugar rambutnya dengan frustasi mendengar pembicaraan kedua pria tersebut yang terus-terusan membahas statusnya sebagai seorang janda.
"Kalo kerjaan?" tanya Erwin sengaja bertanya detail semata-mata untuk memastikan Vita di tangan orang yang tepat tidak seperti pasangan adiknya sebelumnya yang tak tahu diri itu.
"Saya punya usaha sendiri mas, yang saya yakin bisa menghidupi Vita nanti."
"Pada ngomong apaan sih ini, bikin mules aja tahu!" celetuk Vita dengan muka memanas, dan sayangnya tak dihiraukan sama kedua pria yang sedang berbincang serius itu.
"Satu lagi pertanyaan saya, kamu beneran cinta sama adik saya?" tanya Erwin tegas.
"Ngapain saya kejar kesini kalo saya nggak cinta sama dia mas, asal mas tahu ya, adik mas ini pergi dari rumahnya buat ngehindarin saya, makanya saya sekarang jemput dan paksa dia buat pulang." cerita Mamat antusias membuat Vita terdiam dan ingin mengumpat Mamat sejadi-jadinya.
'Dasar tukang ngadu!'
"Ya udah kalo gitu, saya titip adik saya ke kamu, kalo kamu mainin perasaannya saya nanti datang minta pertanggungjawaban dari kamu, ngerti kan?" ancam Erwin serius.
"Siap mas, saya akan laksanakan perintah mas Erwin dengan sebaik-baiknya." Angguk Mamat mantap.
Vita menatap kakaknya dengan sorot mata tak percaya, bagaimana bisa kakaknya itu baru ketemu sekali dengan Mamat dan langsung percaya dengan menitipkan dirinya tanpa curiga.
Mereka melepas kepergian Erwin, lalu kembali beranjak menuju mobil yang sudah menunggu mereka dari tadi.
"Jadi ke tempat pak Min?" tanya Mamat kepada Vita yang sejak memasuki mobil lebih memilih menatap keluar.
"Nggak jadi, nggak nap*u!" jawab Vita kesal.
Mamat terkekeh melihat Vita yang sedang merajuk itu.
"Pak.. masukin alamat bakso pak Minta ke GPS!" perintah Mamat yang langsung dilaksanakan oleh supirnya tersebut.
"Kenapa hmmm?" tanya Mamat setelah tak kuat didiamkan Vita dari tadi.
"Kesel sama kamu aja, kenapa jawabannya seperti itu, kalo mas Erwin nanggapinnya serius gimana?" tanya Vita menatap Mamat yang sedang tersenyum manis itu.
"Ya nggak kenapa-napa, bagus malah." Mamat mengedikkan bahu cuek.
__ADS_1
"Au ah capek ngomong sama kamu, semua dibikin enteng!"