
Vita mengerjabkan matanya menatap ruangan tempatnya berada dalam keadaan gelap.
Cukup lama terdiam, hingga akhirnya sadar dimana dirinya berada sekarang. Kamarnya. Sepanjang hari menghabiskan waktu untuk tidur dan beristirahat.
Menggeliat sebentar lalu menyalakan lampu tidur yang berada di atas nakas disamping ranjang.
Meraih ponselnya yang sudah berkedip diujung ranjang, sebentar lagi mungkin terjatuh ke lantai nyaris ketendang kakinya yang tak bisa diam.
Melirik sekilas nama yang tertera di layar tipis, lalu menggeser tombol hijau menerima panggilan tersebut.
"Ya Ret." sapa Vita dengan suara serak ciri khas orang bangun dari tidur.
"Mbak Vita ndak kesini?" tanya Retno dengan suara nyaris berbisik.
Vita mengeryitkan kening bingung dengan pertanyaan Retno, jelas-jelas Vita minta libur hari ini karena kondisi badannya yang sedang kurang fit.
"Kenapa emang Ret? Ada masalah di kafe?"
"Ini mak Lampir sudah tiga kali bolak-balik kesini nyari mbak Vita." terang Retno.
__ADS_1
"Mak Lampir? Mak Lampir siapa?" tanya Vita bingung dengan nama asing yang baru dia dengar.
"Itu tuh istrinya mas Evan." jawab Retno diakhiri dengan kekehan pelan seakan takut terdengar oleh Rara.
"Hah!? Ngapain dia nyari aku?" seru Vita kebingungan.
"Au ah mbak, mbak Vita kesini aja deh, sebel aku ngeliatnya."
"Sorry Ret, tapi badan aku beneran rentek banget nih, takutnya besok aku malah tambah parah kalo nekat kesana." tolak Vita, bukannya Vita takut ya, Vita hanya malas meladeni sesuatu yang tidak penting seperti ini.
"Mbak Vita takut?" tanya Retno berspekulasi sendiri.
"Heh bocil! Gue nggak salah ngapain gue takut, asal lo tahu ya hidup gue udah ruwet, gue nggak mau tambah ruwet! Bilang sama dia, gue tungguin besok di taman kota jam sembilan pagi, gue nggak mau usaha gue diacak-acak sama tuh orang." Sembur Vita kesal atas pernyataan Retno barusan, dan tanpa permisi langsung sambungan telepon mereka, Vita putus sepihak.
Vita kembali menarik selimut hingga menutup seluruh kepalanya, rasanya emosinya naik hingga ke ubun-ubun, ingin teriak, ingin memaki, tapi di rumah hanya sendirian, lalu mau memaki siapa.
***
Keesokan harinya tepat jam sembilan pagi Vita benar-benar mendatangi taman kota seperti yang kemarin dia ucapkan kepada Retno untuk ia sampaikan kepada Rara.
__ADS_1
Dari tempatnya berdiri Vita bisa melihat punggung Rara duduk di sebuah bangku dengan pohon sebagai naungannya.
Tanpa ragu Vita melangkah mendekat, semakin ingin cepat menyelesaikan masalahnya dan tahu apa yang dimau sama istri mantan pacarnya dulu itu.
Vita duduk disebelah Rara dengan tiba-tiba, membuat Rara menoleh kaget.
"Nggak usah banyak basa-basi, kamu mau apa cari aku?" tanya Vita dengan mata menatap ke depan, sedikitpun enggan menatap perempuan cantik di sebelahnya yang entah kenapa hari ini dandan terlalu berlebihan.
Rara terdiam sejenak, shock dengan suara Vita yang terdengar ketus dan dingin.
"Em.... aku cuman mau kamu ngejauhin Evan." akhirnya suara Rara keluar juga setelah mencari kata yang tepat untuk diucapkan terhadap Vita.
"Ngejauhin yang bagaimana maksud kamu?" tanya Vita reflek menolehkan kepala, bingung dengan permintaan Rara, karena dirinya bahkan tak pernah mendekat ke arah laki-laki tersebut.
"Jangan temuin dia!" tegas Rara dengan suara lirih.
"Mbak Rara....perlu mbak Rara tahu, aku nggak pernah tertarik lagi sama Evan, kisah percintaan kami bahkan sudah usai puluhan tahun yang lalu, dan ingat lho kalo aku tuh bukan cewek perfect yang diidamkan suaminya embak, seharusnya embak nggak perlu sekhawatir itu sama aku, embak kan yang terpilih menjadi istrinya Evan, embak tuh cantik banget dan nilainya pasti diatas rata-rata, lebih dari aku yang nothing kayak gini, jadi kenapa embak takut aku rebut Evan." ucap Vita dengan suara pelan tapi terdengar mengintimidasi.
"Dan tolong embak kasih tahu Evan untuk enggak dateng-dateng lagi ke kafeku, karena aku risih sama dia, aku bukan cewek murahan yang mau merebut dia dari istrinya, karena kalo sampai aku gelap mata bisa-bisa nanti Evan aku tonjok." sambung Vita setelah Rara tak sanggup membalas ucapannya.
__ADS_1
Rara melongo mendengar ucapan demi ucapan Vita, dia yang semula ingin mengonfrontasi Vita jadi tergagap tanpa suara.
"Kalo sudah tak ada lagi yang ingin mbak Rara sampaikan, aku permisi karena masih banyak yang harus saya lakukan, sekali lagi tolong bilang ke Evan jangan dateng lagi temuin aku." Vita bangkit lalu meninggalkan Rara yang terlihat terpekur sambil menundukkan kepala.