The Mantans

The Mantans
Bab 44 : Who are you?


__ADS_3

"Yang lagi nostalgia sama mantan kayaknya asyik banget nih."


Mamat (lebih nyaman pakai nama itu kali ya) menyandarkan tubuhnya di tembok dekat pintu, jelas-jelas merasakan kecemburuan yang sangat besar melihat interaksi keduanya.


"Siapa Vit?" tanya Raka pelan.


Vita terlihat salah tingkah, rasanya kaya lagi kepergok selingkuh oleh kekasihnya.


"Em... Mat, kenalin ini....Raka..." Vita belum selesai memperkenalkan mereka saat ucapannya dipotong cepat oleh Mamat.


"Mantan pacar!" potong Mamat datar.


"Dih gitu amat nadanya?" tanya Vita penasaran.


"Biarin!"


"Kok kamu tahu Raka mantan pacarku?"


"Nggak penting aku tahu darimana !" jawab Mamat masih dengan suara datar.


"Em sorry, aku nggak bermaksud gimana-gimana kok sama Vita." Raka yang merasa tak enak hati mencoba memberi penjelasan, karena melihat gestur kedua orang di depannya ini terlihat jelas kalau mereka pasti ada apa-apa nya.


"Nggak bermaksud apa-apa tapi nemuin mantan di belakang istri? Kalo mau fair ajak istri biar nggak jadi fitnah mas," ucap Mamat sinis.


"Apaan sih Mat." Vita menarik tangan Mamat lembut, mengajaknya duduk di sampingnya.


Mamat menurut, merasakan genggaman lembut tangan Vita membuat emosinya yang sudah mencapai ubun-ubun dan siap meledak itu akhirnya mereda.


"Em.... Ka, kenalin ini Mathew, em....." Vita berulang kali menjeda ucapannya, karena bingung memperkenalkan Mamat sebagai siapanya.


"Tinggal bilang pacar yang sebentar lagi jadi suami aja susah amat sih Yang." celetuk Mamat cuek.


Vita melotot dan kehabisan kata mendengar ucapan Mamat yang terdengar childish banget itu, astaga, ternyata cowok pendiam ini kalo cemburu serem.


"Beneran dia pacar kamu Vit?" tanya Raka tak enak hati.


Vita garuk-garuk kepala, dengan malu akhirnya menganggukan kepala, semata-mata untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.


"Sorry bro, aku nggak tahu kalo Vita udah punya pacar," sambung Raka menatap Mamat dengan sorot mata meminta maaf.


"Kalo belum punya pacar, mau dipepet lagi? Mau dijadiin bini kedua?" tuduh Mamat asal.


Dengan kesal Vita menggeplak tangan Mamat dengan keras, kesal sama ucapan Mamat yang cringe, astaga ternyata kalo cemburu bikin kesel.


"Mat.... Raka kesini tuh mau bayar uang pesanan yang dulu dibatalin itu lho, yang akhirnya makanannya kita bagiin ke anak-anak jalanan."

__ADS_1


"Bener kan tebakanku kalo ada andil mantanmu di dalamnya?"


"Dih.... main tuduh aja sih, dengerin penjelasannya dulu," omel Vita gemes.


"Kalo gitu aku pamit aja ya Vit, thanks lho udah welcome sama aku," pamit Raka mengangguk sekilas ke Mamat, lalu melangkah keluar.


Sebelum Raka benar-benar keluar, Vita menyerahkan kembali amplop coklat itu kepada Raka.


"Plis nggak usah diperpanjang lagi Ka, aku nggak enak kalo terima ini." Sambil menyerahkan amplop kepada Raka, mata Vita melirik Mamat memberi kode Raka.


Raka mengangguk mengerti."Thanks ya Vit dan sekali lagi sorry ya."


Setelah Raka pergi dari hadapan mereka, langsung Vita melontarkan omelan terhadap Mamat. "Maksudnya apa tadi?" tanya Vita sewot.


"Yang mana?"


"Yang tadi ngomong calon suami."


"Kan emang calon suami, kamu nggak mau jadi istri aku emang?"


Vita merotasi matanya jengah, "Emang kamu udah ngelamar ke ibu aku?"


"Ceritanya nantangin minta dilamar nih, ayok!" jawab Mamat tegas, membuat Vita bungkam.


"Ayok sekarang juga anter aku ke ibu kamu." sambung Mamat dengan hati deg-degan, takut Vita mengiyakan, udah cinta sih, tapi belum mau langsung nikah, kepengen pengenalan lebih dalam lagi.


"Nah kan kamu aja belum berani ngenalin aku ke keluarga kamu, sok-sokan nantangin buat ngelamar." Kekeh Mamat.


"Aku kan pernah gagal, aku nggak mau asal milih pasangan hidup, aku aja nggak tahu kamu anak siapa, tinggal dimana aja, udah deh nggak usah ngomongin nikah, mending penjajakan dulu, belum tentu mulus juga, siapa tahu ditengah jalan bubar."


"Omongan tuh dijaga, jangan asal bunyi aja," tegur Mamat tak suka.


"Kan bener yang aku omongin, salahnya dimana?" tanya Vita.


"Ayok kalo kamu pengen tahu rumahku." Mamat bangkit berdiri, berniat menggandeng tangan Vita yang tentu saja langsung ditepis oleh perempuan itu.


"Jangan ngaco deh, aku lagi banyak kerjaan, tuh panggangan aja masih pada belum masuk oven, udah kamu pulang aja sana, ngrecokin mulu," usir Vita tanpa mempedulikan Mamat, ia langsung kembali ke dapur, menyelesaikan pekerjaannya.


Mamat tersenyum simpul melihat tubuh Vita menghilang di balik pintu, perasaan gundah yang semalam dia rasakan, terasa menguap begitu saja ketika bertemu dengan Vita.


Aneh rasanya, setelah hatinya mati suri lebih dari lima tahun, tiba-tiba detak jantungnya kembali berirama, mana suaranya kenceng banget jedag-jedug nya, bikin ngilu yang ngedengerin.


Mamat duduk santai menikmati kopi yang disuguhkan Vita, jemarinya lincah memainkan ponsel, membalas pesan dari Henry, hari ini resort cukup sibuk karena beberapa hari ke depan seluruh resort disewa untuk acara pernikahan anak salah satu pejabat di kota ini.


Belum lagi Agrowisata yang dia kembangkan belakangan mulai ada peminatnya hingga Mamat mau tak mau menambah sajian menu untuk pengunjung disana, nah karena hal itulah ia mengambil beberapa menu dari kafe ini selain biar penjualan Vita meningkat, juga untuk meringankan chef disana.

__ADS_1


Vita kembali keluar dan bersiap membuka kembali kafenya yang sementara waktu tadi sengaja dia tutup.


Mamat melirik Vita yang duduk di balik meja kasir, dengan rambut yang digulung tinggi memperlihatkan leher putihnya yang mulus.


Cantik dalam kesederhanaannya, berbeda dengan....Mamat menggelengkan kepala, mencoba mengusir bayangan itu dari benaknya.


Sepiring nasi lengkap dengan lauknya Vita letakan dihadapan Mamat. "Kalo masih sakit kenapa keluyuran?" tanya Vita melirik tangan kanan Mamat berbalut gips, rasanya hari ini ia kepengen bersilat lidah terus dengan Mamat.


"Kan yang sakit tangan, kaki ama yang lainnya sehat."


"Susah ngomong sama kamu, aku lebih suka Mamat yang dulu, yang polos, pendiam dan...." Vita tak melanjutkan ucapannya, ingin melontarkan kata pencemburu tapi sengaja dia tahan.


"Dan apa?" tanya Mamat penasaran.


"Nggak jadi!" ketus Vita.


"Mamat yang kamu sebutin tadi kan sosok jadi-jadian, aslinya ya kayak gini ini." kata Mamat meraih piring di depannya dan mencoba menyuapkan makanan dengan tangan kiri dengan kesusahan.


"Cckk.... sengaja!" sungut Vita lalu meraih piring itu dan menyuapi Mamat dengan hati-hati.


"Kan kemarin aku bilang enakan makan disuapi." kekeh Mamat pelan, membuat Vita mendengus tambah kesal.


"Kalo kerjaan kamu udah selesai, mau nggak aku ajak ke suatu tempat?" tanya Mamat.


"Kemana?" tanya Vita kepo.


"RHS, pokoknya ikut aja."


"Tapi jangan ajakin makan aneh-aneh kaya kemarin, sayang uangnya!" kata Vita memberi syarat.


"Kan aku udah bilang nanti aku minta potongan harga ke pak Henry, tenang aja sih."


"Nggak enak tahu Mat, masak kita ngerugiin orang sih, pak Henry kan jualan, perlu ngegaji karyawan juga." Nasihat Vita.


Mamat terkekeh mendengar perkataan Vita. 'Resto punya gue, ngapain gue suruh bayar' batin Mamat geli.


Selepas Vita selesai bekerja, dengan mengendarai mobil yang dikemudikan supir (untuk hal ini pun Mamat bilang mobil ini pinjam punya pak Henry) mereka melaju menuju resort milik Mamat.


Vita tertegun, enggan untuk turun, tebakannya benar, Mamat mengajaknya lagi ke tempat ini.


"Tuh kan kesini lagi." Vita berkata dengan bibir manyun.


"Ayok turun, ada yang mau aku omongin dengan kamu masalah kafe," bujuk Mamat lembut.


Dengan terpaksa Vita turun, mengekori Mamat yang jalan di depannya, dan lebih terheran lagi ketika hampir semua pelayan menunduk hormat kepada Mamat.

__ADS_1


'Oh God..... who are you exactly?'


__ADS_2