
Satu jam telah berlalu, dan tak ada tanda-tanda pintu ruang operasi di depannya segera terbuka.
Vita duduk dilantai dengan kedua kaki menekuk untuk menyembunyikan wajah lelahnya, satu jam nangis itu ternyata membuat capek juga.
Tersisa Retno yang masih setia menemani Vita disini, sementara Susi disuruh oleh Vita untuk pulang.
Kedua gadis itu mengeryit heran ketika seorang pria perlente duduk di kursi tunggu di depan kamar operasi.
Pria tua itu melirik Retno dan Vita sekilas, pasti salah satu gadis ini adalah pujaan hati dari tuan mudanya, yang beberapa waktu lalu di bawa ke resto dan menghebohkan hampir seluruh karyawan di sana.
Tuan mudanya yang berhati dingin itu tampaknya sudah mulai mencair hatinya, semoga saja nona muda ini bisa menyembuhkan hati tuannya.
Ceklek
Pintu ruang operasi terbuka, dan seorang dokter muda dengan atributnya keluar menemui keluarga korban.
Vita ikut bangkit dan berjalan mendekat, keningnya mengkeryit melihat seorang pria tua mendengar penjelasan dokter dengan seksama.
'Ah mungkin bapak ini yang menabrak Mamat, hingga dia merasa perlu bertanggungjawab terhadap kesembuhan Mamat' batin Vita.
"Maaf Pak, apa bapak yang tadi terlibat kecelakaan dengan Mamat?" tanya Vita sopan.
"Oh bukan mbak," jawab pria itu sopan.
"Lalu bapak ini siapa?" tanya Vita lagi.
"Anggap saya atasannya Mat.... Mamat maksud saya, perkenalkan nama saya Henry, kalo mbak ini siapa ya?" Pria yang mengaku Henry tadi memperkenalkan diri dengan sopan kepada Vita.
"Em.... nama saya Vita, saya yang punya kafe tempat Mamat bekerja," jawab Vita.
"Jadi Mamat ini atasan yang sebenarnya yang mana?" Goda Henry santai setelah ia mendengar penjelasan dokter mengenai kesehatan Mamat setelah selesai operasi yang tak begitu mengkhawatirkan.
Vita hanya tersenyum simpul mendengar candaan Henry yang terasa garing di telinganya, karena dia belum akan tenang sebelum melihat kondisi Mamat yang sebenarnya, walaupun tadi dokter bilang kondisi Mamat stabil dan tak perlu ada yang dikhawatirkan tetap aja Vita belum tenang.
Tak berselang lama, brankar yang membawa Mamat keluar dari ruang operasi menuju ke kamar rawat VVIP.
Mamat masih tertidur pulas mungkin efek obat bius yang belum hilang, hanya tangan yang terlihat memakai gips sehabis dioperasi tadi.
Ah rasanya Vita tak tahan untuk tak menangis, Vita tak bisa membayangkan kalo Mamat kenapa-napa tadi, pasti perasaan bersalah dan takut kehilangan yang akan menggerogotinya.
"Mbak Vita, saya pamit ya, saya rasa mas Mamat lebih membutuhkan mbak Vita daripada saya, ini kartu nama saya kalau nanti mbak Vita perlu bantuan saya." Pak Henry menyerahkan kartu namanya kepada Vita, lalu membungkukkan kepala dan berlalu dari kamar rawat Mamat.
__ADS_1
Retno menyenggol lengan Vita pelan lalu berbisik, "Ada yang aneh nggak sih mbak? Kenapa nama mas Mamat jadi Mathew ya? Dan kenapa dia dirawat di kelas VVIP?"
Vita tersadar dari lamunannya, kemudian logikanya kembali bekerja. "Iya ya Ret, masak bosnya baik banget sampai ngasih ruangan VVIP gini."
"Kepo aku, apa jangan-jangan itu tadi bapaknya, mas Mamat dari istri yang disembunyikan, istilahnya anak tak diakui gitu," gumam Retno semakin melantur bicaranya.
"Hush.... udah jangan souzon kamu!" Omel Vita pelan.
"Ya udah deh mbak, aku mesti tetep disini apa pulang nih mbak? Aku nggak mau ngeganggu mbak Vita kalo kepengen berduaan sama mas Mamat," bisik Retno sambil menaik-turunkan alis menggoda Vita.
"Apa sih Ret!"
"Mbak Vita nggak usah sungkan sama aku mbak."
"Kamu mau aku potong gajinya ya?" Ancam Vita kesal.
"Iya iya mbak, sensi amat bawaan, aku pulang dulu ya," pamit Retno lalu melangkah keluar dari kamar rawat Mamat.
Vita duduk di bangku dekat ranjang, menggenggam lembut tangan Mamat, rasanya sebagian hatinya ikut terluka melihat Mamat terbaring tak berdaya.
Kelelahan dan kebanyakan menangis membuat kantuk tiba-tiba menyerang Vita, membuat perempuan itu meletakan kepalanya di samping tangan Mamat yang sedang dia genggam.
Tak berapa lama Mamat terbangun dan mengerjabkan matanya pelan, kepalanya sedikit berputar efek obat bius yang belum sepenuhnya hilang.
Mamat ingin mengelus kepala Vita tapi niat itu dia urungkan karena takut membangunkan Vita, jadilah dia hanya menatap Vita dengan lembut, ada yang menghangat di dalam hatinya.
Pergerakan kecil Mamat akhirnya membangunkan Vita.
"Mat..... mana yang sakit?" tanya Vita langsung menegakan tubuhnya.
"Kenapa tidur disini, nggak capek memang?" Bukannya khawatir dengan keadaannya, cowok itu malah mengkhawatirkan Vita, membuat Vita mendengus.
"Kenapa situ khawatirin sini, khawatirin diri sendiri dulu, situ yang terluka bukan sini yang terluka!" ketus Vita dengan mata berkaca-kaca.
Mamat tersenyum melihat Vita mengomel dengan mata mengembun. "Sini aku peluk."
Dengan cemberut Vita mendekat, membiarkan tubuhnya dipeluk oleh Mamat.
"Jangan kayak gini lagi, aku takut," bisik Vita menahan tangisnya.
"Aku bahagia," ucap Mamat mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Lama mereka saling berpelukan menyalurkan segala rasa, tak perlu ucapan manis, Mamat tahu bahwa perasaan terhadap Vita bersambut.
Vita mengurai pelukannya. "Kenapa bisa kayak gini?"
"Kejadiannya cepet banget, ada pickup nyelonong terus brak, aku nggak ingat apa-apa," jawab Mamat mengelus pipi Vita lembut.
Vita menyentuh tangan Mamat yang sedang membelai pipinya, matanya terpejam menikmati sentuhan Mamat.
"Aku panggil dokter dulu." Vita menekan bel di atas tempat tidur Mamat.
Tak lama dokter ditemani seorang suster masuk ke dalam ruang rawat Mamat, memeriksa dengan seksama dan mengajukan beberapa pertanyaan, setelahnya kembali keluar dari sana.
"Oh ya Mat, kenapa nama yang tertera di sini Mathew?" tanya Vita penasaran.
"Dasar nggak peka, kan memang namanya Mathew, kamu nggak baca nama aku waktu jadi saksi jual beli rumah kamu?" Omel Mamat sambil merotasi matanya.
"Eh iya ya, kok aku lupa." Vita menggaruk kepala yang tak gatal.
Mamah hanya menggeleng melihat Vita yang terlihat lebih cantik dari sebelumnya, padahal Vita yang ada dihadapannya ini belum mandi dan masih kucel, membuat imajinasi Mamat travelling kemana-mana, menjadi suami istri maksudnya ya, bukan travelling yang aneh-aneh.
"Jadi?" tanya Mamat lembut.
"Jadi apa?" Vita balik bertanya.
"Kita apa?" Mamat mengembalikan pertanyaan lagi.
"Cewek cowok kan?" Goda Vita tersenyum.
"Cckk.... bukan itu maksudku!"
"Lalu apa maksudnya?"
"Ya udah kalo gitu aku pergi lagi aja."
"Berani pergi, awas kamu!" Ancam Vita galak.
"Makanya kalo ditanyain tuh jawab yang bener sayang," kata Mamat lembut.
Vita tersipu, siapa coba yang tak suka dipanggil sayang sama pujaan hati.
"Mbak.... jadi kita pacaran sekarang?" tanya Mamat lagi.
__ADS_1
"Kalo pacaran kenapa masih panggil mbak!"