
Mamat menggendong bayi mungil nan cantik itu dengan hati-hati, anak pertama buah cintanya dengan Vita istri terkasihnya yang berjenis kelamin perempuan itu membuat dunianya berwarna.
Berjalan menuju lobby rumah sakit, tak sedikitpun ia melepaskan tangannya untuk menggendong sang buah hati yang wajahnya mirip dengan dirinya dan sang mommy.
"Bisa nggak Hun?" tanya Vita melihat Mamat tampak rikuh menggendong bayi itu sambil masuk dalam mobil
"Bisa, kamu istirahat aja, biar aku yang gendong," jawab Mamat sambil menimang bayi mungil itu dalam gendongannya, sesekali mencium pipi gembil itu.
"Kita pulang ke Solo atau ke TW pak?" tanya pak Adnan supir mereka ketika keduanya duduk anteng di bangku belakang.
"TW pak." sahut Mamat cepat.
TW rumah utama yang dibangun oleh Mamat untuk keluarganya dengan disain open space dan halaman luas agar anak-anaknya kelak bisa bergerak dan bermain bebas.
Mamat menginginkan memiliki banyak anak dalam pernikahannya dengan Vita, berbanding terbalik dengan sang istri yang hanya ingin memiliki dua anak, mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi itu.
Mobil memasuki gerbang tinggi di depannya, tampak keluarga besar mereka telah berkumpul untuk menyambut kedatangan sang bintang utama kali ini.
Valletta Atria Praja namanya, bayi mungil yang sukses mencuri hampir semua anggota keluarga besar mommy dan daddy nya.
"Sini Mat, biar mbak Gina gendong." Gina mengulurkan tangan meminta bayi mungil dalam gendongan Mamat.
Serasa tak rela, tapi Mamat tahu bahwa semua orang pasti ingin bergantian menggendong sang primadona mungil ini.
"Bawa ke kamar langsung aja mbak," pinta Vita sambil berjalan pelan di depan kakak sulungnya itu.
Gina mengikuti Vita yang berjalan menuju kamar utama, keputusan Vita dan Mamat untuk tak menggunakan pengasuh untuk membantu mereka mengurus Letta, jadilah biar tak merepotkan kedua orang tuanya, box bayi Letta diletakan di kamar tidur Vita dan Mamat.
Gina meletakkan bayi mungil itu dengan hati-hati di box bayinya." Duh Vita, anak kamu cantik banget sih, hidungnya mirip banget sama Mathew."
"Kayaknya aku nggak kebagian apa-apa deh mbak, mirip bapaknya banget," protes Vita dengan menggembungkan mulutnya.
"Biarin deh mau mirip siapa, yang penting ponakan bude cakep ya nak."
Dan seperti mengerti apa yang dibicarakan orang dewasa disekitarnya, bayi mungil itu menjulurkan lidahnya dan membasahi bibir tipisnya.
__ADS_1
"Yang... makan dulu." Mamat melongokan kepala dari balik pintu.
"Ayok mbak, tinggal aja, biar Letta tidur," ajak Vita menyusul suaminya ke meja makan.
Ruangan besar itu telah disulap menjadi tempat makan dadakan, untuk orang tua yang tidak bisa duduk di karpet, mereka akan makan di meja makan dengan sesekali mengobrol kesana kemari.
Sedangkan Gina dan Erwin beserta keluarganya memilih duduk mengampar di karpet menikmati menu ikan bakar dan menu lainnya yang menggugah selera.
"Sini Vit makan deket oma," panggil oma sambil melambaikan tangan memanggil istri cucu kesayangannya.
Demi Cicit perempuan satu-satunya, karena cicit dari Monika dan Maureen semuanya lelaki, jadilah oma buyut rela melakukan perjalanan jauh ke rumah Mamat.
"Wah bakalan jadi primadona nih," celetuk Laras sambil mencocol rujak ke sambelnya.
"Iya aku jadi ada saingannya ya mah," sahut Ines pura-pura sedih, karena di keluarga Vita juga hanya Ines cucu perempuan satu-satunya.
"Tapi cakepan Letta," kata Vita cuek.
"Ish.... pakai diperjelas lagi nih tante."
"Coba belum punya tunangan," gumam Ines pelan yang sayangnya masih bisa didengar jelas oleh Wahyu.
"Maksudnya gimana tuh Yang?" tanya Wahyu sewot.
"Eh.... ya nggak gimana-gimana," jawab Ines membuat semua yang ada disana tergelak.
Menjelang sore keluarga Vita pamit undur untuk kembali ke rumah masing-masing, sudah dicegah dan diminta untuk menginap, tapi mereka tak ingin mengganggu kebersamaan orang tua baru tersebut.
"Letta bangun Hun?" suara Vita terdengar serak, karena waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
"Kasih asi dulu Yang, haus kali." Mamat mengangkat tubuh mungil itu dan menyerahkan kepada Vita.
Dengan rakus gadis mungil itu menyesap sumber kehidupannya dari sang ibu, Mamat yang melihat putri kecilnya sedang meny*su sang istri hanya bisa gemas dan menciumi kaki mungil yang terbalut dengan kaos kaki bermerk tersebut.
"Kamu udah sehatan kan Yang?" tanya Mamat sambil mengusap kepala Vita dengan sayang.
__ADS_1
"Udah, begini enaknya kalo lahiran normal Hun, bisa segera pulih."
"Sempet nggak tega lihat kamu kayak kemarin."
"Ini belum seberapa Hun, dulu waktu aku ngelahirin Gilang, aku mulesnya sampai dua hari nggak lahir-lahir tuh anak."
"Pasti lucu ya Gilang dulu," gumam Mamat sendu.
"Iya, lucu pinter dan nggak rewel, tahu mamanya sibuk cari uang untuk biaya hidup kami," sahut Vita sambil menerawang, mengingat anak pertamanya yang sudah berpulang meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
"Sudah jangan diinget-inget, nanti kamu jadi sedih." hibur Mamat terus mengusap punggung sang istri.
"Habis ini dua lagi ya Yang?" pinta Mamat lucu.
"Ini aja belum ilang sakitnya, udah mau nambah lagi," gerutu Vita lalu mengangkat Letta dan mengembalikan ke box tidurnya, setelah Letta kembali tertidur.
"Lho katanya udah nggak sakit?" Mamat mengernyitkan kening bingung dengan pernyataan Vita, tadi ditanya udah sehat, sekarang masih sakit.
"Aduh gimana aku jelasin ke daddy ganteng ini ya, pokoknya gini aja sayangku, kita nikmati peran sebagai orang tua ini sebaik-baiknya, nanti kalo udah waktunya mau nambah anak ya nggak papa nambah anak lagi, tapi jangan banyak-banyak, cukup dua aja, oke sayang." sahut Vita gemas sendiri dengan pola pikir Mamat absurd.
"Padahal aku pengen punya anak banyak, biar rumah rame, seru."
"Inget lho Hun, istri kamu ini udah nggak muda lagi, ya kali setiap tahun suruh ngelahirin biar bisa hamil dibawah umur empat puluh tahun."
"Bahaya ya?" tanya Mamat.
"Berisiko aja."
"Oh ya udah kalo gitu dua aja Yang," sahut Mamat memeluk pinggang Vita lembut.
"Tidur yuk, mumpung Letta tidur."
"Boleh begituannya kapan lagi?"
"Hah!"
__ADS_1