
Ada pepatah yang berkata diam adalah emas, mungkin untuk beberapa kasus memang baik, tapi untuk beberapa kasus justru menjerumuskan orang yang bersangkutan.
Seperti yang dialami oleh Vita saat ini, ketika diamnya selama ini disalahartikan oleh orang lain.
Sometimes kita memang harus bersuara dan membela diri sendiri agar tak dituding, disalahkan bahkan lebih parahnya ditunjuk oleh orang lain.
Sejak kepergian Erina dari hadapannya, Vita masih terdiam di tempat duduknya, merenungi permasalahan yang sedang dia hadapi saat ini.
Dituduh merebut suami orang bahkan ketika dirinya diam dan tak melakukan perbuatan apapun untuk menarik perhatian suami orang lain.
Hey.... apakah mereka lupa bahwa suaminya saja direbut oleh perempuan lain dan dia tak ingin melakukan pembelaan, apakah mungkin Vita juga menjadi pelakor, jawabannya tentu tidak.
Tanpa Vita sadari Susi berjalan mendekat, sengaja memelankan suara untuk menyapa Vita agar bossnya tersebut tak kaget mendengar panggilannya.
"Mbak.... aku ijin keluar dulu ya mau nganter pesanan."
Vita menatap Susi dengan mata sayu, mengangguk pelan dan kembali terbengong.
Susi dan Retno saling pandang, tentu tak berani mengungkapkan isi pikiran mereka terhadap bossnya yang terlihat seperti orang linglung.
Tak ingin banyak menunda pekerjaan karena pengiriman ke beberapa tempat yang pastinya membutuhkan waktu yang tak sebentar, Susi akhirnya berjalan keluar sambil menenteng keranjang plastik yang berisi tumpukan pesanan langganan.
Bunyi lonceng dari pintu membangunkan lamunan Vita, bergegas Vita kembali ke balik etalase untuk melayani langganan yang datang.
Mungkin dengan menyibukan diri, persoalan yang menimpa dirinya akhir-akhir ini bisa sedikit terabaikan.
Vita masih asyik berbincang dengan pelanggan ketika suara telepon menginterupsi pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Omah Pasta disini, ada yang bisa saya bantu?" tanya Vita ramah.
"Hallo.... bisa saya bicara dengan pemilik Omah pasta atau penanggung jawabnya." sahut si penelepon dengan suara judes.
"Iya dengan saya sendiri, maaf saya bicara dengan siapa ya?" tanya Vita masih dengan suara sopan, meski dia tahu ada yang tidak beres dengan suara orang di seberang sana yang terdengar tidak bersahabat.
"Gimana sih mbak, saya pesen lasagna dikirimnya pastel tutup? Mana saya pesen untuk hidangan arisan hari ini, kalo begini lalu gimana?!" Omelnya dengan suara tak ramah.
"Maaf atas ketidaknyamanan, maaf saya bicara dengan siapa biar saya cek dulu ya." jawab Vita masih mempertahankan suaranya agar tak ikutan meledak.
"Hesti, nama saya Hes ti." Si penelepon sengaja mengeja namanya, terdengar marah.
"Sebentar mbak Hesti saya cek dulu ya. Mohon kesediaanya menunggu." Vita meletakkan ponselnya lalu membuka buku catatan pesanan pelanggan.
Dari bentuk tulisan yang tertera disana itu adalah tulisan Retno, dan rasanya tak mungkin gadis itu salah mencatat pesanan.
"Ya mbak." sahut Retno bergegas menghampiri Vita.
"Kamu catat pesenan bu Hesti kan? Salah nggak catatannya? Soalnya beliau komplain nih." Tegur Vita tak terdengar marah atau emosi.
"Eh?" sahut Retno bingung, karena seingatnya nggak mungkin dia salah menulis setiap pesanan pelanggan.
"Maaf mbak nggak mungkin aku salah, mungkin mbak itu lupa pesen apa? Lagian mana ada pastel tutup minta ekstra keju mozarella!" ketus Retno kesal.
Vita menghela nafas panjang, tak mau menyalahkan Retno seratus persen karena memang mereka juga menerima pemesanan by phone.
"Mbak Hesti, terimakasih atas kesediaanya menunggu, menurut karyawan saya yang menerima pemesanan dari embak bahwa yang kami kirim sesuai dengan pesanan embak." Jelas Vita hati-hati.
__ADS_1
"Jadi maksud kamu, saya yang salah pesen gitu!" celetuk Hesti ketus.
"Bukan begitu mbak." sahut Vita menahan rasa dongkol dalam hati, kalo tak mengingat pelanggan adalah raja, pasti Vita sudah menyemburkan makiannya.
"Bilang aja ngeles, nggak mau tanggungjawab!" balas Hesti sengit.
"Jadi mbak Hesti mau saya ganti rugi seperti apa?" tanya Vita masih berusaha sopan.
"Saya minta potongan harga lima puluh persen!" tegas Hesti cuek.
"Hah?!" Vita tersentak kaget, otak bisnisnya langsung menghitung kerugian yang harus dideritanya, lima puluh ribu kali lima puluh, langsung bahu Vita melemah.
"Oke mbak, saya akan transfer balik ke rekening mbak." ucap Vita akhirnya.
"Gitu dong, daripada saya viralkan mending ganti rugi, saya tunggu segera." Dan tanpa permisi langsung sambungan telepon mereka Hesti putus sepihak.
Retno menatap Vita dengan perasaan bersalah. "Gimana mbak? Dia minta discount?"
"Iya Ret, tapi beneran kamu nggak salah nyatet pesenen mereka kan?" tanya Vita menyakinkan sekali lagi.
"Beneran mbak." jawab Retno yakin.
"Oke deh Ret, mulai sekarang setiap pesanan by phone kita minta konfirmasi ulang lewat WA aja buat pegangan kita." intruksi Vita akhirnya, lalu mengotak-atik ponselnya dan mengembalikan dana pelanggan melalui mobile banking.
Sementara ditempat lain, Erina dan Hesti tersenyum smirk, senang karena bisa mempermainkan Vita.
"Ini baru peringatan pertama, jangan main-main ama aku!" ucap Erina dingin.
__ADS_1