The Mantans

The Mantans
Bab 69 : Tetangga masak kepo


__ADS_3

Disini Mamat berada, di sebuah rumah sederhana dengan berjuta kenyamanan di dalamnya.


Menghadap perempuan sepuh yang begitu bersahaja di matanya, Mamat mencoba menenangkan debar jantung yang tiba-tiba menggila, dia seorang pebisnis handal yang mampu menjalankan perusahaan hingga sesukses sekarang, ternyata bisa grogi juga berhadapan dengan ibunya Vita.


Mamat bisa bernafas lega mengetahui Vita yang berada disana saat ini, meskipun tak dipungkiri bibir Mamat kelu ketika ingin menyampaikan maksud kedatangannya.


"Nak Metiu.... " suara lembut ibu Vita membuyarkan lamunannya.


Mamat menegakkan badan, seolah sedang menghadapi persidangan dengan ibu sebagai hakim dan dirinyalah tersangkanya.


"Kamu lagi ada masalah sama Vita?" tanya ibu lembut.


Mamat tak menjawab hanya menatap dalam mata ibu yang begitu teduh menatapnya, tak ada kemarahan di dalamnya, tatapan seorang ibu yang penuh kasih.


"Saya minta maaf bu, kalo saya tak bisa menjaga Vita seperti yang ibu dan keluarga harapkan."


Ibu masih menunggu penjelasan Mamat, karena ibu tahu dari mata Mamat terlihat luka yang begitu dalam, ibu tahu Mamat begitu mencintai putrinya.


"Saya benar-benar menyayangi Vita dan ingin menjadikannya bagian dalam hidup saya, mendampingi saya dan bahagia bersama," lanjut Mamat.


Ibu tersenyum mendengar ketulusan dalam perkataan Mamat, rasanya hati ibu adem mendengar nada tulus itu.


"Perjalanan hidup Vita tak mudah nak, kamu tahu kan kisah hidupnya, dan ibu yang tak ingin dia mengalami hal serupa lagi."


"Iya bu saya tahu, maka dari itu saya minta ibu percaya sama saya, saya hanya ingin membahagiakan Vita."


"Ya nak ibu percaya, kamu lelaki yang baik."


Sedang mereka terus berbincang, Vita yang baru turun dari ojek online langsung mendengus kesal melihat mobil hitam mulus telah terparkir di halaman rumah orang tuanya.


Vita heran sama itu cowok, kok tidak bisa membiarkan dirinya berfikir dan menimbang keputusan yang terbaik untuk mereka, sudah tahu keluarga Sutama menentang tetap saja tak membuat Mamat mundur.


Sampai sebuah suara mirip toa milik bulek Ning tetangga depan rumah ibunya berteriak menyapanya dan membuyarkan lamunannya.


"Kok bengong wae tho Vit? Ndak masuk rumah? Itu masmu dateng belum lama lho. "


Vita tersenyum kecut mendengar suara bulek Ning itu.

__ADS_1


'Dasar tetangga kepo sukanya mau tahu urusan orang mulu, gue bilangin ke mbak Rens16 buat bikin novel tentang tetangga-tetangga kepo kayak lo baru tahu rasa!' umpat Vita kesal lalu melangkah dengan malas untuk masuk ke dalam rumah, karena suara bulek Ning pasti udah didengar ibu dan Mamat.


Vita masuk dari pintu samping, sengaja tak ingin menganggu pembicaraan keduanya.


"Nduk, ini ada nak Metiu," panggil ibu ketika melihat bayangan Vita masuk ke dalam rumah lewat pintu samping.


"Ibu temenin dulu aja, Vita sakit perut kebanyakan makan tadi!" teriak Vita dari dalam kamar.


Sengaja tak ingin bertemu Mamat, tapi Vita tak berani berterus terang kepada ibu, daripada nanti dia diceramahi lagian ia tidak bohong mengenai perutnya yang sakit.


Ibu tersenyum melihat Mamat yang terus menatap kamar putrinya yang telah tertutup sempurna itu.


"Tunggu aja ya Nak, ibu tinggal masak dulu," pamit ibu lalu berdiri dan menghilang di dapur, sengaja memberikan keduanya waktu buat mengobrol.


Sambil menunggu Vita yang tak juga keluar, Mamat kembali mengotak-atik ponselnya berbalas pesan dengan Henry.


Hingga satu jam pun berlalu dan Vita belum juga menampakkan batang hidungnya di hadapan Mamat.


'Vita kenapa ya, kok ke toilet lama banget' batin Mamat khawatir.


"Lho Vita belum keluar kamar ya nak?" tanya ibu ketika keluar dari dapur dan mendapati Mamat masih duduk sendirian.


"Ish tuh bocah ya," omel ibu lalu mendorong pintu kamar Vita yang tak terkunci.


Ibu melotot melihat anak perempuannya sedang tertidur pulas bergelung dibawah selimutnya.


"Kebiasaan ih si Vita, hobby kok molor padahal ditungguin orang!" gerutu ibu gemas, lalu kembali keluar dari kamar.


"Vita kenapa bu?" tanya Mamat khawatir.


"Ndak kenapa-napa, malah tidur anaknya ."


"Ya sudah bu nggak papa, saya titip Vita ya bu, jangan boleh pergi dari rumah, besok siang saya kemari lagi." pamit Mamat lalu mengambil tangan ibu dan mencium takjim.


"Ndak mau makan dulu nak? Ibu masak gurame bakar," tawar ibu.


"Nggak usah bu, saya langsung pulang saja."

__ADS_1


"Yang sabar ya nak, Vita memang kalo ngambek susah dibujuknya, merajuknya lama, kamu yang tahan ya." nasihat ibu sambil menepuk-nepuk pundak Mamat dengan lembut.


Mamat mengangguk pelan, sekali lagi pamit dan melajukan kembali mobilnya keluar dari gang sempit tersebut dengan diiringi tatapan kepo ibu-ibu yang sengaja menjulurkan kepala lewat jendela.


"Wah calon mantunya orang kaya tho bude?" tanya bulek Ning kepo setelah Mamat tak lagi terlihat.


"Doain aja bulek, semoga berjodoh." senyum ibu terukir di bibirnya.


"Pinter ya Vita sekarang cari calon suaminya," bulek Ning kembali berucap membuat ibu ingin cepat-cepat masuk agar tak lagi menanggapi ucapan tetangganya yang pasti akan terus mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.


Ibu hanya tersenyum menanggapinya lalu masuk ke dalam, tak menghiraukan para tetangga yang sudah mulai menjulurkan kepala dari rumah masing-masing mau ikutan berghibah.


"Mathew udah pulang bu?" tanya Vita yang sudah duduk di kursi ruang tamu dengan melipat kaki keatas dan menaruh kepala di atas lutut.


"Kamu lagi berantem?" tanya ibu yang disambut gelengan Vita.


"Kok keliatannya dia bingung gitu?" tanya ibu lagi.


"Aku nolak ajakannya nikah bu," sahut Vita akhirnya, lebih baik dia meminta nasihat ibunya, karena praktis dia tak punya sahabat sekarang, satu-satunya sahabat yang ia punya adalah Wulan yang sekarang tinggal diluar negeri mendampingi suaminya dengan kesibukan yang luar biasa itu.


"Kenapa? Bukannya Metiu baik?" tanya ibu.


"Iya baik banget malah bu, tapi Vita merasa nggak pantes menjadi pendampingnya."


"Lho kok?"


"Ya karena status Vita yang sekarang bu dan juga kita dari keluarga biasa aja bu, jauh banget ngejomplangnya dengan dia yang anak konglomerat dan juga anak lelaki satu-satunya."


"Jodoh itu sudah ada yang atur nduk, kalo memang dia jodohmu pasti Tuhan akan dekatkan, percaya sama ibu."


"Nggak tahu ah bu, Vita nggak mau terlalu berharap."


"Perbanyak doa, cari jawaban dari Atas ya nduk." ucap ibu sambil mengelus kepala Vita dengan sayang.


Lalu ibu bangkit membiarkan Vita meneruskan kembali lamunannya.


Sebelum benar-benar menghilang ke dalam kamarnya ibu berucap, "Oh iya besok dia akan kemari lagi, kamu jangan pergi, bicara dengan kepala dingin."

__ADS_1


Vita tak menyahut, hanya dengusan kasar yang keluar dari hidungnya, menghadapi kenyataan kalo ibunya sudah terlanjur suka dengan Mamat.


__ADS_2