The Mantans

The Mantans
Bab 39 : Mantan terindah?


__ADS_3

Ketika dua insan sedang jatuh cinta, meski keduanya belum berani mengakuinya, tetap saja tingkah laku keduanya terlihat berbeda. .


Susi dan Retno sering saling lirik dan mengulum senyum mereka mengamati tingkah kedua orang di depannya, terlihat jelas dari tingkah Vita yang sering salah tingkah dan Mamat yang lebih perhatian dan overprotective terhadap Vita.


"Sabar ya Sus, orang sabar disayang Tuhan." Goda Retno mengusap pundak Susi dengan lembut karena melihat Vita dan Mamat berbincang dengan mesra.


"Aku uwis iklas kok Ret, emang cocoknya mas Mamat sama mbak Vita, ganteng ketemu cantik, ndak kayak aku yang gosong kaya pantat panci, yo jelas ndak sepadan sama mas Mamat." ucap Susi sambil nyengir, mencoba tabah meskipun hatinya ngenes.


"Beneran lho yo, yang ikhlas, jangan cuman manis di bibir, dibelakangnya main santet."


"Omonganmu itu lho Ret, kayak ndak punya Tuhan wae tho, wong edyan kowe!"


Retno membalas makian Susi dengan tertawa cekikikan, beneran tak ada tenggang rasa sama sekali ke sahabat yang sedang patah hati.


Secepat itu sendau gurau mereka terhenti ketika waktu bekerja dimulai, tekun dan semangat tergambar jelas dari keduanya.


Lonceng di pintu berbunyi menandakan ada pelanggan yang masuk ke kafe mereka, Vita menyambut dengan hangat, ada yang berbeda dari Vita, wajah ceria dan muka bahagia tercetak di sana.


Paham dong kalo Vita yang beberapa tahun belakangan miskin kasih sayang dari pasangannya, ketika ada seseorang yang memberikan perhatian lebih pastinya dunia yang terlihat suram itu akan berubah penuh warna merah kuning hijau, persis kayak warna pelangi.


Walau belum ada keputusan untuk menerima atau menolak cinta Mamat tetapi kalo ada laki-laki yang memberi perhatian lebih itu seperti sebuah oasis yang ada di padang gurun, menyegarkan dan menyejukan jiwa.


Lalu segala kecerian itu seketika menguap saat melihat Evan melangkah memasuki kafenya.


Dengan terpaksa Vita mengulas senyum palsu sekedar untuk menjaga sopan santun menyambut pelanggan yang datang.


"Selamat pagi Vit, aku boleh sarapan disini kan?" tanya Evan sopan sambil mengulas senyum manis.


Dulu waktu mereka pacaran, senyum itu adalah senyum terfavoritnya karena mampu menggetarkan hati Vita dan sering kali membuat dirinya terperangkap pesona tampan Evan.


Tapi kini setelah Evan menjadi mantan dan meninggalkan dengan sejuta kata yang menyakitkan, justru senyum itu sesuatu yang memuakkan dimatanya, dendam? Nggak sih, hanya tak ingin berinteraksi lebih jauh.

__ADS_1


"Bolehlah, mau pesen apa Van?" tanya Vita ramah, padahal dalam hati dongkol setengah mati.


"Teh anget sama fettucini aja Vit."


"Oke tunggu bentar ya."


Lalu Vita berteriak ke dalam memberitahu Retno buat menyiapkan pesanan Evan.


"Duduk sini Vit, aku pengen ngobrol sesuatu sama kamu." ajak Evan sambil melambaikan tangan ke arah Vita.


"Nggak ah Van, aku nggak enak sama Rara dan juga Mamat, nanti kita dikira ada apa-apa." tolak Vita hati-hati agar tak melukai perasaan Evan.


"Sebentar aja." Evan sedikit memaksa, malas Vita mendekat.


Untuk meminimalisir praduga tak mendasar dari orang-orang, Vita memanggil Retno untuk menyaksikan pembicaraan keduanya, mumpung kondisi kafe lagi sepi, kalo perlu nanti Vita akan rekam pembicaraan mereka untuk bukti.


Vita duduk berhadapan dengan Evan terhalang meja. "Mau bicara apa Van? Kamu tahu kan kejadian terakhir kemarin, aku nggak mau lho dicap sebagai pelakor.oleh istri kamu, aku harap kamu ngerti posisiku."


"Jangan ngaco deh kamu Van!" sahut Vita kesal.


"Aku bicara jujur Vit, andai aku bisa putar waktu."


"Ngapain sih berandai-andai, kita putus karena kita nggak jodoh, kamu tuh punya istri Van, jangan gampang menyerah dengan keadaan kalo lagi ada masalah!" nasihat Vita bijak.


"Aku sebenarnya udah daftarin perceraianku ke pengadilan Vit, sebelum ketemu kamu juga rumah tanggaku bermasalah." jelas Evan sambil berusaha meraih tangan Vita untuk dia genggam.


"Terus urusannya ama aku apa? Rumah tangga kamu yang bermasalah, kenapa lari ke aku, kamu tahu aku tuh punya luka batin yang sangat serius dengan namanya pelakor, rumah tanggaku berantakan juga karena pelakor, bahkan sampai saat ini aku aja belum bisa berdamai dengan diriku sendiri, paham kan Van! Aku harap apapun masalahnya kamu bisa menyelesaikan dengan baik, jangan langsung pengen cerai, jangan tiru langkah aku, plis jangan temuin aku lagi, aku nggak mau dijadikan kambing hitam!" petuah Vita panjang lebar, lalu Vita memutuskan beranjak keluar dari kafenya, membuat Retno yang ditinggal menjadi panik.


Evan hanya bisa termenung melihat Vita pergi karena kesal dengan tingkahnya yang childish, apa mau dikata baru sekarang Evan menyadari bahwa ternyata Vita layak untuk dikejar, dan perasaannya tumbuh dengan sendirinya melihat Vita yang terlihat cantik dan mempesona seperti sekarang.


Tak lama berselang Mamat memasuki tempat itu, sempat terpaku karena melihat Evan duduk termenung disana.

__ADS_1


Mamat mengedarkan pandangan dan mencari keberadaan Vita yang tak ditemuinya dimanapun juga.


"Mbak Vita pergi keluar mas gegara berantem sama mas Evan." celetuk Retno melihat Mamat tak menemukan Vita.


"Tapi Vita nggak kenapa-napa kan Ret?" tanya Mamat penuh khawatir.


Retno mengedikan bahu tanda tak tahu. " Tadi sih habis berdebat sama mas Evan terus keluar tanpa pamit."


Mamat menghela nafas panjang, prihatin dengan kondisi Vita, berstatus janda yang memiliki stigma buruk di mata masyarakat, apalagi ini sampai dikejar-kejar kembali oleh para mantannya.


Cckk.... Tapi ya bagaimana lagi Vita memang cantik dan menggoda sih, Mamat yang single aja bisa sampai kesengsem kaya gini.


Perlahan Mamat mendekati Evan yang masih asyik dengan makanannya, seolah tak ada yang terjadi.


Mamat menghempaskan badannya di kursi bekas Vita duduk tadi, menatap lelaki di depannya yang masih terlihat tampan diusia yang tak muda lagi itu.


"Mas.... saya harap mas Evan paham sama kondisi Vita." Mamat membuka percakapan setelah sejenak keduanya berdiam diri.


"Kenapa?" tanya Evan pura-pura tak tahu yang dimaksud Mamat.


"Mas tahu kan apa yang terjadi dengan rumah tangga Vita? Saya yakin mas Evan tak akan menempatkan Vita pada posisi yang sulit seperti ini kalo mas Evan beneran sayang dan peduli sama dia."


"Kamu punya hak apa nyuruh-nyuruh saya?" tanya Evan tak terima, sengaja mengejek Mamat yang dimatanya tak tahu diri karena berani mencintai Vita.


"Vita pacar saya mas!" sahut Mamat cepat.


"Seorang tukang ojek? Vita mau sama tukang ojek?" tanya Evan semakin merendahkan Mamat.


"What's wrong sama tukang ojek mas? Halalkan? Lagian mas ini kan cuman mantannya Vita, harusnya cerita kalian tuh selesai belasan tahun yang lalu." sarkas Mamat.


"Hahaha..... aku memang mantannya Vita, asal kamu tahu Vita tuh cinta mati sama aku dulu, bisa dibilang aku tuh mantan terindahnya." sahut Evan tak mau kalah.

__ADS_1


"Mantan terindah? Namanya mantan tak ada yang indah mas, apalagi kalo tuh mantan nyakitin dia sebegitunya. Plis jangan terlalu percaya diri deh!"


__ADS_2