
Vita menggeliatkan tubuhnya, seperti kebiasaan ketika bangun tidur malam ia akan merentangkan tangan dan kakinya , menggerakannya berulang-ulang seperti orang yang sedang terbang.
Sebuah kekehan masuk ke telinganya dan aroma maskulin masuk dalam indera penciumannya, seketika menyadarkan dirinya.
Vita lantas teringat dimana dirinya sekarang berada, kamar Mamat.
Dengan gerakan cepat Vita langsung bangun dari rebahannya, Mamat sudah ada dipinggir tempat tidur besar ini dan mengamatinya dengan geli.
'Astaga, memalukan sekali kelakuan absurdku inii' Vita mengomel panjang pendek dalam hati.
"Selamat pagi," sapa Mamat lembut menyambut Vita.
"Kok kamu disini sih Mat?!" Bukannya membalas sapaan manis dari Mamat, justru tuduhan yang terlontar dari bibir Vita.
"Ini kan kamar aku, kamu lupa kamu dimana?" Senyum Mamat terkembang melihat tingkah Vita yang se menggemaskan ini ketika bangun tidur.
"Kamu tidur disini Mat? Kamu cari kesempatan dalam kesempitan ketika aku tidur?" berondong Vita terus menatap curiga karena Mamat terus tersenyum sambil menaikturunkan alisnya.
"Kalo boleh sih aku mau tidur disini? Tapi aku takut sama mas Erwin, ntar aku digebuk." Mamat melontarkan candaan yang semakin membuat Vita salah tingkah.
"Mamat!!!" teriak Vita frustasi.
"Iya iya enggak kok, yuk sarapan, aku udah siapin makan pagi buat kamu." ajak Mamat menarik lembut tangan Vita.
Dirasa tak ada pergerakan yang berarti, Mamat akhirnya menggendong Vita ala bridal style, yang langsung mendapat teriakan makian dari perempuan cantik tersebut.
"Hush... jangan teriak-teriak ah, nanti suara kamu serak lho yang." tegur Mamat membuat Vita meleleh.
Vita ini sudah tidak muda lagi, sekian tahun tak ada apa romactic way sama Arya (yang dulu masih berstatus suaminya), dan ketika sekarang dia mendapat perlakuan manis tersebut otomatis membuat dirinya luar biasa malu.
Mamat meletakkan Vita hati-hati di kursi bar yang di depannya sudah tersaji menu sarapan untuk keduanya.
Vita menatap makanan di depannya dengan tatapan tak percaya, karena begitu detailnya Mamat menyiapkan semua untuknya.
Ditengan-tengah menikmati sarapannya, bayangan Arya dan perempuan itu kembali terbayang oleh Vita, sakit banget rasanya, walau bibirnya mengucapkan bahwa semuanya baik-baik saja, dan dia sudah mengikhlaskan semua, tetap saja ada sebagian dirinya yang masih merasakan luka yang sama.
"Kenapa malah ngelamun? Sarapannya nggak enak?" tanya Mamat lembut.
__ADS_1
Vita tersentak. "Enak kok, enak banget malah, yang masak siapa? Kamu?" tanya Vita kembali menggigit sandwich-nya berusaha menggusah pikiran negatifnya.
"Aku yang masak," jawab Mamat lembut.
Vita menganggukkan kepala kembali menggigit roti ditangannya."Habis ini aku pulang ya Mat? Nggak enak perempuan nginep di tempat cowok."
"Mau ngapain? Disini aja."
"Nggak enak Mat, masak aku nginep di rumah kamu?" sahut Vita keukeuh.
"Kan katanya mau healing tiga hari, ini baru sehari, masak sudah mau pulang? Lagian disini banyak kamar, kalo kamu nggak suka tidur di kamarku, aku akan siapkan kamar lain di resort ini."
"Tetep aja nggak elok, masak aku nginep disini, betewe kemarin kamu tidur dimana?" Vita mengalihkan pembicaraan, males adu urat dengan Mamat yang belakangan hari tak suka dibantah keputusannya (dalam artian yang positif ya).
"Di kamar yang dekat kolam renang, nggak mungkin aku tidur satu kamar sama kamu, takut kebablasan." jawab Mamat jujur, melihat tingkah lucu Vita di pagi hari merupakan sweetest moment buat Mamat, makanya dia tak ingin menguji imannya sendiri untuk hanya berduaan dengan Vita dengan suasana yang in*im seperti ini.
"Kalo gitu aku yang pindah kamar deket kolam aja deh Mat, biar keliatan beneran healing, kalo perlu nanti aku bayar juga deh biar rasanya kayak nginep beneran," cerocos Vita yang mendapat hadiah sentilan di keningnya.
Vita mengusap keningnya yang terkena sentilan Mamat dengan cemberut, kenapa sekarang dirinya kayak anak kemarin sore yang sering mendapat hukuman seperti ini sih, padahal dia kan lebih tua dari Mamat, ngeselin memang.
"Habisnya ngomongnya ngaco, kamu mau pindah kesini dan memilih kamar termahal aja pasti akan aku ijinin kok dan tentu saja aku gratisin!" kata Mamat mantap.
"Dih maunya kamu aja," cibir Vita sewot.
"Oh... atau kamu lebih suka nggak deket sama aku biar kamu bisa leluasa ketemu ama mantan kamu yang berjibun itu?" tuduh Mamat dengan nada sarkas.
"Sukanya nuduh!" sungut Vita.
"Habisnya aku heran disuruh disini nggak mau,apalagi alasannya kalo nggak kepengen bebas."
"Nggak ada hubungannya tahu!"
"Lagian ya aku heran, kenapa sih kamu punya mantan sebanyak itu, bikin repot kan sekarang."
"Ya kan nyari yang terbaik, walau akhirnya tetep nemunya yang ba*ing*n juga sih." Tawa Vita terdengar berderai, menertawakan kemalangannya dalam memilih pasangan.
"Masih meratapi cowok jelek itu?" tanya Mamat mengusap puncak kepala Vita dengan sayang.
__ADS_1
"Yah.... aku nggak mau bohong sih Mat, masih ada yang terasa nyeri ketika melihat dia, apalagi sama perempuan lain, kadang aku tuh mikir salahku dimana, kurangku tuh apa?" ucap Vita dengan mata menerawang.
"Kalo dibilang aku masih cinta sih rasanya udah nggak ya, cuman kayak pengen apa ya, balas dendam mungkin, terus prove myself sama dia, bahwa aku tuh better off without him, yang kayak-kayak gitu," sambung Vita.
"So... buktiin kalo gitu," tantang Mamat.
Vita tersenyum mendengar ucapan Mamat, bahagia ada yang mengerti dirinya sebesar itu, bikin Vita terharu.
"Dan asal kamu tahu Vit, tuh cewek yang digandeng mantan laki kamu tuh menurut aku sih nggak banget deh, aku dikasih sepuluh kayak gitu gratis aja ogah, mantan kamu matanya katarak, yang kayak gitu diembat!"
"Dih... ngomongnya ih, begitu amat!" tabok Vita pelan.
"Udah ah ngomongin mantan yang nggak berguna gitu, sekarang buruan mandi, nggak kepengen liat-liat emang?" tanya Mamat beranjak dari duduknya lalu memberesi bekas sarapan mereka dan menaruhnya di tempat pencucian piring.
"Tapi mataku bengkak gini Mat, malu diliat orang."
"Pakai kacamata item, biar nggak kelihatan, ayok buruan."
Dengan enggan Vita beranjak ke kamar mandi yang ada di ruangan tersebut, mandi secepat kilat lalu keluar udah rapi dengan baju santainya.
Setelah memasangkan Vita kacamata hitamnya, Mamat menggenggam dan mulai menyusuri jalan setapak yang berada di bagian belakang resort.
Resort ini tidaklah besar hanya terdiri dari beberapa bungalow, bangunan hotel yang terdiri dari tiga lantai (khusus lantai tiga dipergunakan oleh Mamat dan om Henry sebagai tempat tinggal) lalu ada juga restauran dengan nuansa alam yang sering disewa oleh pejabat atau pengusaha ketika mengadakan acara, karena memang suasananya cozy banget.
Sepanjang perjalanan mereka, beberapa karyawan di tempat itu mengganguk hormat kepada Mamat, dan cowok itu membalas dengan menganggukan kepala samar, terlihat cool berbeda pembawaannya ketika sedang bersama Vita.
Vita terkekeh pelan, membuat Mamat yang berjalan di depannya menoleh heran kepadanya.
"Kenapa?"
"Mereka tahu nggak sih kalo bos mereka tuh pernah menyamar jadi tukang ojek dan lebih parahnya lagi jadi pesuruh di Omah Pasta."
"Aku kan cuman iseng kalo lagi gabut aja pergi jalan pakai motor, ya kalo akhirnya ketemu kamu dan terperangkap pesona kamu, kan itu kebetulan yang membahagiakan," sahut Mamat cuek.
"Beneran Mat, aku mau tanya kamu segabut itu ya waktu itu?"
"Yang penting kan gabutku membawa berkah karena ketemu kamu."
__ADS_1