
Vita duduk berhadapan dengan Vivian, Vita merasakan aura dingin Vivian begitu kuat mengintimidasinya.
Tapi Vita tetap kalem, sesekali menyunggingkan senyum manis atau lebih tepatnya dimanis-manisin.
Menghadapi perempuan tak tahu malu ini, yang berniat memungut seseorang yang telah dibuangnya ke tempat sampah, tak perlu pakai tarik urat.
"So.. kita udah disini, apa yang mau lo omongin?" tanya Vita datar.
"Gue tak perlu bicara panjang lebar, jauhi Mathew, dan urusan kita selesai." Vivian berucap tanpa berfikir.
"Kenapa gitu gue kudu ngejauhin dia? Emang dia siapanya elo?" tanya Vita dengan senyum smirknya.
"Perlu gitu gue jelasin?" ketus Vivian dengan muka songong.
Vita mengedikan bahu tak peduli, sebenarnya malu berebut cowok kayak gini, usia sudah tak muda lagi, Vita hanya ingin hidup tenang, setelah kemunculan para mantan yang meresahkannya yang sudah bisa ia atasi, kini justru hubungan percintaannya dengan Mamat yang menemui hambatan dan lagi-lagi karena mantan.
"Lo pasti tahu kan kalo gue tunangan.... " ucapan Vivian menggantung.
"Mantan tunangan kalo lo lupa!" serobot Vita ketus.
"Whatever you say, gue nggak ngerasa putus sama dia, sampai kapanpun gue nganggep Mathew tunangan gue, dan gue nggak akan berhenti sampai dia kembali ke dalam pelukan gue." cerocos Vivian dengan menekankan kata per kata dengan jelas.
"Gue berhubungan ama dia lama, tiga tahun lebih, dia bahkan yang pertama untuk gue, kami bahkan pernah tinggal bareng, menghabiskan malam-malam panas berdua, so, gue rasa dia takkan melupakan gue semudah itu, lo hanya buat pelariannya saja."
Entah kenapa ucapan Vivian yang terdengar memprovokasi itu, menancap ke ulu hati Vita, dia merasa dadanya seakan diremas, dia tahu bahkan dia sudah tak suci lagi, tapi tinggal bersama sebelum mereka sah, rasanya tak sesuai dengan norma ketimuran kan.
"Jadi aku harap kamu mundur, sebelum kamu semakin hancur dan patah hati," telak Vivian dengan senyum mengejek.
Belum sempat Vita menjawab perkataan Vivian, dari arah pintu luar, Mamat terlihat berlari menghampiri keduanya.
__ADS_1
Mamat bisa melihat raut muka masam Vita dengan rahang mengetat, walaupun Vita terlihat tenang dan tak terprovokasi tapi melihatnya saja Mamat tahu Vita sedang menahan emosinya.
"Yang... " panggil Mamat khawatir, dia mengambil duduk di sebelah Vita, menggenggam tangan perempuan itu yang berada di atas meja.
"Kenapa sayang?" tanya Vita menatap mesra Mamat sambil mengelus rahang Mamat dengan tangan lain yang tak digenggam oleh pria itu.
"Are you ok?" tanya Mamat menatap intens Vita, ada nada khawatir disana.
"Oke. Don't worry!" jawab Vita tersenyum.
"Lo ngapain sih Vi, gue kan udah bilang jangan ganggu hidup gue lagi, ngerti bahasa manusia nggak sih?!" maki Mamat kesal.
"Dia kan sebangsa alien dari planet mars yang nggak paham omongan manusia," sahut Vita dengan suara malas.
"Lo!" teriak Vivian sambil menunjuk muka Vita.
"Coba aja, aku akan kasih rating jelek di resort kamu," ancam Vivian.
"I don't care!" sahut Mamat cuek
"Ayo yang." Lalu Mamat menarik tangan Vita lembut dan menuntun Vita menuju ke kamarnya, meninggalkan Vivian sendirian disana tak mempedulikan perempuan itu.
Sepanjang perjalanan menuju kamar Mamat, tak sedikitpun suara yang Vita keluarkan, bibirnya manyun, kesal mendengar Vivian mengumbar aktivitas ranja*gnya dengan Mamat, bikin enek, sumpah.
Mamat mendorong Vita lembut untuk duduk di sofa yang berada disana, jelas sekali kalo perempuan itu sedang badmood.
Mamat mengambilkan air putih dari dispenser dan menyodorkan ke Vita.
"Diminum dulu yang." Mamat mengelus rambut Vita dengan sayang.
__ADS_1
Muka Vita masih tertekuk dengan bibir manyun, dia menyesap minumnya lalu meletakkan gelas itu kembali ke meja, berjaga-jaga kalau dia emosi dengan melempar gelas misalnya.
"Udah tenang? Dia ngomong apaan tadi?" tanya Mamat lembut.
Vita menatap Mamat galak, masih terlihat kesal dengan setiap perkataan Vivian tadi yang jelas masih terngiang di telinganya.
"Dia bercerita kalo kalian sudah berhubungan selama tiga tahun, dan pernah tinggal bareng menghabiskan malam-malam panas, jadi kamu pasti tak bisa melupakan dia, aku cuman pelarian kamu dan aku disuruh mundur," terang Vita dengan mata menyorot tajam, entah kenapa hatinya terasa sakit mengetahui kenyataan itu, meskipun Vita juga tahu dia juga sudah tak suci lagi, tapi mendengar kenyataan hubungan Mamat sampai sejauh itu dengan Vivian, jujur hatinya terluka.
Mamat sempat shock mendengar ucapan Vita, dia tahu dia tak sesuci itu untuk tak melakukan hubungan ba*an dengan Vivian yang waktu itu masih jadi tunangannya, hubungan yang sudah terjalin seserius itu, dan ia secinta itu terhadap Vivian, jadi agak mustahil kalo ia bisa menahan diri.
"Yang, aku.... aku minta maaf ya," lirih suara Mamat teredam oleh sesak di dalam dada.
Vita menarik nafas dalam sambil memejamkan mata, rasanya tak adil juga kalo dia marah sama Mamat atas semua kelakuannya dulu, padahal mereka tidak sedang dalam menjalin hubungan apapun.
"Kamu beneran sudah nglepasin dia Mat, kamu sampai melarikan diri seperti ini, apakah kamu nggak menyesal nanti?" tanya Vita lebih untuk menyakinkan dirinya sendiri.
"Beneran sayang, aku sudah move on setelah mengenal kamu, nggak ada lagi dia di hati aku, suer!" Mamat mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V
"Jujur sih rasanya tuh sakit hati denger itu semua, kok kayak aku nggak ikhlas kamu sudah sejauh itu sama dia, tapi aku nggak boleh naif, toh aku juga udah nggak utuh sekarang kan," gumam Vita lirih.
"Jadi kamu cemburu yang? Kamu beneran cinta sama aku dong kalo gitu?" girang Mamat kesenangan.
Vita merotasi matanya, bingung melihat Mamat yang kesenangan seperti itu."Kalo aku nggak suka nggak cinta ngapain aku terima begitu aja kamu yang langsung mengaku-aku jadi pacar aku, aneh!"
"Jadi waktu itu kamu udah ada rasa dong ama aku yang?" tanya Mamat antusias.
"Astaga, perlu gitu itu kita bahas? Kamu tuh pemimpin yang cool dan galak, nggak malu berubah kayak kucing manis gini?" Vita menggeleng heran.
"Yang penting bagiku sekarang, kamu ternyata bisa cemburu juga!" Kata Mamat melenceng dari pembicaraan mereka.
__ADS_1