
Di hadapan Vita sekarang duduk seorang pria dengan wajah mirip dengan Mamat, hanya rambut saja yang membedakan keduanya, Mamat dengan rambut hitamnya sementara pria di depannya sudah ada beberapa uban menghiasi beberapa helai rambutnya.
"Pi, aku pulang ingin memperkenalkan kekasihku." Mamat terlihat biasa saja, tidak seperti Vita yang terlihat grogi dan gelisah.
Vita berdiri dan mengulurkan tangan memperkenalkan diri yang untungnya disambut baik oleh Tama.
"Vita om." ucap Vita memperkenalkan diri.
"Jadi gadis ini yang bikin oma dan mamimu uring-uringan Mat," ucap Tama menggusah nafasnya pelan, mau marah tapi melihat ada kehidupan lagi di kedua mata putranya, ia jadi tak tega.
Sejak kepulangan ibu dan istrinya dari tempat Mamat tempo hari, hampir tiap hari mereka mengeluhkan berbagai hal tentang Vita kepada dirinya.
Padahal menurut Tama tak ada yang aneh dengan Vita baik dari penampilan maupun sopan santunnya, ya meskipun di mata Tama Vita hanya terlalu sederhana tapi tetap ada sisi cantik dan menariknya.
Pantas saja Mamat sampai tak bisa berpaling dari Vita meskipun perempuan itu berstatus janda, terlihat sekali kalo Mamat begitu memuja dan menjaga Vita.
Mata yang berbinar itu bisa menandakan sebesar apa cinta Mamat terhadap Vita, mata yang binarnya sudah menghilang sejak lima tahun lalu.
"Mathew mau minta restu pi, Mathew mau segera menikahi Vita," kata Mamat sungguh-sungguh.
"Kalo papi tak memberi restu?" tanya Tama tegas.
"Ya Mathew nikah tanpa restu karena yang aku mau cuman Vita bukan yang lain." tegas Mamat tanpa terintimidasi.
"Kamu berani melawan papi, melawan oma?" tanya Tama pelan, sengaja tak ingin membangkitkan amarah anak lelakinya yang susah mengontrol diri itu.
"Demi kebahagiaanku, tapi.... kalo papi ingin aku melajang seumur hidup ya nggak papa, buatku Vita atau tak menikah seumur hidup," putus Mamat santai.
"Astaga!" desis Tama frustasi.
"Ya udah kamu datang dulu nanti buat makan malam, ajak Vita sekalian, kamu harus minta restu juga ke oma dan mamimu kan."
***
Malam ini Mamat menggandeng Vita menapaki tangga teras kediaman orang tuanya.
Tangan Vita terasa dingin dalam genggaman Mamat, usapan ibu jari Mamat yang mengusap punggung tangan Vita tampaknya tak memberi pengaruh yang berarti.
"Nggak usah panik gitu, cukup diam dan jangan masukan ke hati apa yang mereka ucapkan, aku yang akan meladeni mereka," kata Mamat lembut mencoba memberi kekuatan kepada Vita.
"Aku takut," cicit Vita lirih.
__ADS_1
"Oma dan mami urusanku, tapi kamu jaga jarak juga dengan Monik, walaupun dia baik tapi kadang mulutnya judes kayak lampir."
"Kalo papi kamu? Kira-kira kalo kayak tadi udah kasih restu belum?" tanya Vita.
"Sebenarnya aku tuh sebel tahu denger restu restu mulu!" umpat Mamat dengan muka bete.
"Eh?"
"Sebel.... jadi inget si Restu selingkuhannya Vivian."
"Jadi masih sakit hati nih ceritanya, belum move on," sindir Vita.
Mereka berdebat terus sampai tanpa mereka sadari sejak tadi mereka hanya berdiri di teras dan tak melanjutkan langkah ke dalam rumah.
Tanpa mereka sadari perdebatan keduanya diperhatikan oleh Maureen, yang hanya menggeleng melihat keduanya masih tetap berdebat saja.
Sekarang Maureen tahu kenapa adik lelaki satu-satunya itu bisa cinta mati sama Vita, menggelengkan kepala pelan atas tingkah keduanya.
"Ehem.... " Suara Maureen menginterupsi keduanya.
"Mau tetap disitu aja?" lanjut Maureen langsung berbalik ke dalam rumah.
"Itu Monika?" tanya Vita mengeratkan genggamannya.
"Bukan, itu Maureen, jangan takut dia galak cuman casing nya doang, aslinya mah baik, beda sama Monika, muka kalem galaknya minta ampun."
Vita manggut-manggut mencoba mengingat siapa yang perlu diwaspadai dan diajak berteman.
Mereka berjalan tetap dengan bergandengan tangan, Vita terkagum dengan penampakan dalam rumah megah itu.
Tadi dari luar sudah luar biasa penampakannya, dan dari dalam lebih wah lagi, banyak hiasan kristal dan gucci-gucci yang Vita tahu harganya tak mungkin murah.
"Udah dateng Mat," sapa Tama ketika melihat putranya masuk ke ruang keluarga.
"Kita makan dulu aja ya, baru nanti kita ngobrol," ajak Tama lalu melangkah menuju ke ruang makan.
Disana sudah duduk Maureen dan Randi suaminya, juga ada Monika yang kebetulan datang sendiri karena suaminya sedang perjalanan dinas ke luar negeri.
Lalu tampak Vena dan oma yang menatap nyalang Mamat yang dengan mesra menggandeng Vita dan nenarikan kursi untuk Vita.
Sebuah senyuman tercipta dari bibir tipis Vita, dengan senyuman itu Vita mengucapkan terimakasih atas perhatian Mamat.
__ADS_1
"Bi.... makanannya tolong dikeluarkan!" perintah mami Vena si nyonya rumah di tempat ini.
Satu persatu makanan dikeluarkan, dan dalam hening mereka menikmati makanan di depan mereka, tak ada satupun yang mengeluarkan suara.
Setelah selesai menikmati makan malam mereka, sekarang mereka berpindah ke ruang keluarga, semua mata memandang Vita dengan tatapan yang berbeda-beda, yang jelas tatapan ketidaksukaan jelas terlihat di mata oma, mami dan Monika.
Sedang Maureen yang melihat bagaimana cara Vita memperlakukan Mamat di meja makan dan juga cara interaksi mereka, paham satu hal bahwa Vita termasuk perempuan yang melayani pasangan dengan segenap hati dan terlihat lebih menurut, beda jauh dibandingkan Vivian yang sering dominan dan mau menang sendiri, jadi bagi Maureen tak heran kalau Mamat jadi secinta itu dengan Vita.
"Jadi maksud kalian kemari tuh apa? Bisa dijelaskan Mat?" Tama membuka obrolan melihat ketegangan semakin tercipta disana.
"Seperti yang Mathew sampaikan kepada papi tadi siang, Mathew mau meminta restu untuk menikahi Vita," jawab Mamat menjawab pertanyaan Tama.
"Kamu sudah yakin?" tanya Tama lagi.
"Sudah pi, kalo aku belum yakin ngapain aku bawa kesini buat kenalan sama keluarga," sahut Mamat mantap.
"Mami nggak setuju!" Vena tegas menolak.
"Mi.... " tegur Tama lembut.
"Nggak pi, mami nggak setuju, status dia hanya seorang janda, dan derajat dia nggak sama dengan kita, mami nggak mau dia manfaatin Mathew!"
"Oma juga nggak setuju, oma bisa nyariin yang lebih baik dari perempuan itu, banyak cucu temen oma yang sederajat sama kita yang lebih pantas mendampingi Mathew." Kini suara oma juga terdengar ketus menolak pilihan Mathew.
"Aku tetap akan menikah meski mami dan oma tak setuju!" tegas Mamat menantang pendapat oma dan maminya.
Vita hanya menundukkan kepala, ditolak seperti ini rasanya ternyata lebih menyakitkan daripada semua yang pernah ia bayangkan.
Sementara Maureen berdecak atas keputusan mami dan omanya yang selalu memprioritaskan jabatan, kekayaan dan sejenisnya.
"Emang nggak bisa dipertimbangkan lagi Mat?" tanya Monika lembut, tapi matanya menatap tajam ke Vita.
"Udahlah yang penting kan Mathew bahagia, emang seneng ya liat dia kayak kemarin yang kayak orang mati nggak ada jiwanya gitu!" kata Maureen santai.
"Enak aja kamu ngomong Reen!" bentak Vena tak setuju dengan ucapan Maureen.
"Kan dia yang ngejalanin, kalo dia ngerasa bahagia dengan Vita kita bisa apa?" celetuk Maureen.
"Benar apa yang diucapkan Maureen mi, mau bagaimanapun kan Mathew yang mau jalani, dia bahagia sama Vita, kita sebagai orang tua nurut aja maunya anak," nasehat Tama lembut.
"Pokoknya mami nggak setuju, kalo kamu tetap menikah sama dia, langkahi dulu mayat mami!"
__ADS_1