The Mantans

The Mantans
Bab 38 : Saling menyembuhkan


__ADS_3

Tepat pukul sembilan malam Vita dan semua karyawannya mulai berbenah untuk pulang setelah seharian mereka berada di kafe Omah Pasta.


Mamat berjalan mendekat dan berbisik pelan. "Mbak Vita capek nggak?"


Tanpa melihat Mamat karena lagi konsentrasi menghitung hasil penjualan hari ini, Vita bergumam. " Nggak begitu Mat, kenapa?"


"Ikut aku yuk mbak," Mamat kembali berbisik di telinga Vita biar duo rusuh yang berada di dapur itu tak mendengar percakapan mereka.


"Mau kemana Mat?" tanya Vita mengangkat kepalanya, tanpa sengaja berbicara dengan suara sehingga Retno dan Susi yang sedang berjalan beriringan dari dapur mendengar percakapan Vita dan Mamat.


"Cie cie mas Mamat ngajakin mbak Vita ngedate." Goda Retno tanpa filter.


"Kamu yang tabah ya Sus." bisik Retno membuat wajah Susi merah padam malu sekaligus marah karena dikuliti perasaan sukanya di depan orang yang dia suka.


Dengan gemas Susi memukul punggung Retno, kenapa bibir Retno hobinya nyinyir mulu, persis kaya kaleng rombeng.


"Dih yang mau kencan mbak Vita ama mas Mamat kenapa yang kamu KDRT aku Sus?"


"Habis mulutmu lemes kayak ndak pernah disekolahin aja." sewot Susi.


"Sembarangan! Bapakku aja sampai jual sawah buat nyekolahin aku Sus!"


Vita dan Mamat saling melempar senyum menanggapi celotehan kedua gadis itu, malu karena rencana mereka diketahui.


Setelah kedua bocil itu pergi dan semua pekerjaan telah selesai, Mamat meminta kunci motor Vita lalu memasukannya kedalam kafe.


"Kita naik motor aku nggak papa kan?" tanya Mamat lembut yang langsung dijawab anggukan oleh Vita.


Mamat naik keatas motor tak lupa menurunkan besi pijakan untuk Vita, sebuah tindakan kecil tapi berarti besar untuk seorang perempuan.


"Sudah siap?" tanya Mamat memastikan kembali Vita duduk aman di boncengan dengan helm terpasang sempurna di kepala.


"Kita mau kemana sih Mat?" tanya Vita penasaran melihat tingkah aneh Mamat.

__ADS_1


Sudah paham kalo Mamat ada rasa padanya, tapi rasa sakit akibat pengkhianatan suaminya belum pulih benar bahkan masih membekas dan menyisakan pedih yang sampai sekarang masih terasa perihnya.


Untuk memulai sebuah hubungan baru dengan orang lain bukanlah hal yang mudah bagi Vita, apalagi Vita belum begitu mengenal baik Mamat.


Semua tak perlu diburu-buru dan disegerakan kan? Perlu proses dan menata ulang hati yang telah remuk tak berbentuk sehingga siap menerima sosok baru dalam hidupnya.


Lamunan Vita terputus ketika motor Mamat berhenti disebuah resort mewah dengan pemandangan indah dari lampu-lampu dari kota yang terletak di bawah sana.


"Kita mau ngapain kesini Mat?" otak Vita travelling kemana-mana, mendadak tubuhnya berubah dingin dan menggigil, tidak mungkin Mamat merencanakan sesuatu yang jahat kan, mengajak check in misalnya.


Oh Vita lupa kalo dia baru mengenal Mamat beberapa bulan yang lalu, karena Mamat berperilaku baik selama ini belum tentu kalo dia beneran baik kan.


"Mikirin apa hmm?" tanya Mamat ketika melihat tubuh Vita yang menegang.


"Otaknya jangan travelling kemana-mana, aku cuman mau ngajakin makan enak, badan kamu kurus kering begitu kayak orang kurang gizi." Setelah mengucapkan kalimat itu Mamat meraih tangan Vita dan mengajaknya menuju sebuah resto yang terletak di belakang bangunan ini.


Beberapa pekerja ingin menyapa Mamat selaku pemilik resort ini, tetapi kedipan mata Mamat mengurungkan niat mereka.


Mamat menarik kursi untuk Vita lalu dirinya duduk di depan perempuan itu, menatap Vita yang terlihat kebingungan.


"Sesekali mbak, mumpung tadi habis terima gaji dari mbak Vita."


"Jangan gaya deh, gajimu tuh cuman UMR Mat, kalo kamu pakai makan ditempat kaya gini, nanti seterusnya kamu mau makan pakai apa?"


"Tenang mbak, nanti aku minta discount sama pemiliknya." sahut Mamat cuek lalu melambaikan tangan ke salah satu pelayan.


Pelayan datang menghantarkan daftar menu, sekali lagi dengan gelengan pelan Mamat memberikan kode agar pelayan di depannya tak menyapanya.


Vita menekuri buku menu itu dengan seksama, mencari menu dengan harga paling murah agar tak memberatkan kantong Mamat apabila cowok tersebut bersikeras untuk membayarnya nanti.


Dengan senyum tertahan Mamat memperhatikan Vita yang kyusuk membaca daftar menu di tangannya.


"Saya pesen steak wagyu dua dengan kematangan medium well nya mbak." kata Mamat setelah menunggu beberapa saat dan Vita belum menentukan mau makan apa, lalu Mamat menyerahkan kembali menu ke pelayan.

__ADS_1


Vita mengangkat wajahnya dengan panik. "Mat.... itu mahal Mat, pilih yang lain aja!"


"Nggak papa sesekali mbak." sahut Mamat sambil meminta pelayan mencatat pesanan mereka.


Vita mengerucutkan bibirnya, dia tadi sempat membaca berapa harga makanan yang dipesan Mamat, rasanya sayang uang segitu dipakai buat sekali makan.


Dulu waktu Vita masih bekerja di Jakarta, makanan seperti itu sering ia santap, tapi sekarang ketika dirinya masih merintis usaha rasanya tak elok menghamburkan uang seperti ini.


Karena Mamat tetap bersikeras dengan menu pilihannya akhirnya Vita memilih diam saja, nanti biar dia yang akan membayar tagihan makan mereka, walaupun sebenarnya tak baik seorang perempuan membayar ketika sedang bepergian dengan seorang laki-laki.


Pipi Vita bersemu merah, memikirkan kata kencan yang baru saja melintas didalam kepalanya.


Mamat tak sanggup mengalihkan pandangannya dari wajah Vita yang terlihat merona, terlihat cantik, manis dan imut dimata Mamat.


Keduanya masih tenggelam dalam pikiran masing-masing, sampai pelayan datang menghidangkan makanan pesanan mereka.


Vita shock melihat steak yang tersaji di hadapannya, daging wagyu dilengkapi baby lobster dan aneka sayuran bertumpah ruah.


Melihat Vita melongo, Mamat menarik piring saji dihadapan Vita, lalu mengiris daging steak menjadi potongan kecil, lalu mengangsurkan kembali kehadapan Vita.


Vita menatap Mamat dengan tatapan terharu, merasakan tepukan tangan Mamat dipunggung tangannya yang berada di atas meja.


"Dimakan, jangan bengong aja."


Dengan kikuk Vita mulai menyantap makanannya, kemana larinya kata-kata pedas nan usil yang sering terucap dari bibir manisnya itu.


Perlakuan Mamat yang manis seketika membuat Vita salah tingkah, mungkin sekian tahun tak mendapat perlakuan seperti ini dari Arya membuat dirinya tersanjung.


Dalam diam mereka menikmati makanan mereka, dan ketika dilihatnya Vita menyelesaikan suapan terakhir, Mamat mengungkapkan isi hatinya.


"Aku tahu ini mungkin terlalu cepat buat kamu, aku tahu aku hanya seorang tukang ojek, rasanya terlalu percaya diri dan tak tahu diri kalo aku jatuh cinta sama kamu, tapi perasaanku terhadap kamu tulus mbak, aku ingin membahagiakan kamu."


Vita kehilangan kata-kata, ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya, tak sanggup menjawab perkataan Mamat, Vita justru tercekat dan terdiam dengan mata mengerjab pelan.

__ADS_1


Dengan lembut Mamat meraih dan menggenggam tangan Vita. "Aku tak menuntut jawabanmu sekarang mbak, aku punya trauma, kamu punya trauma, kita bisa sama-sama saling menyembuhkan sebelum kita melangkah lebih lanjut."


__ADS_2