The Mantans

The Mantans
Bab 55 : I really already move on


__ADS_3

Setelah perdebatan yang cukup panjang dan melelahkan antara Vita dan Mamat, tentang perlu tidaknya Vita hadir ke acara pernikahan Fara, akhirnya mereka tiba di gedung dimana pernikahan Fara digelar.


Dan tentu saja Vita dipersilahkan hadir dengan berbagai persyaratan yang diajukan Mamat.


Mau menolak yang bagaimana juga Vita tak bisa melawan kemauan Mamat agar Vita tampil all-out dengan menggunakan gaun pesta beserta tas dan sepatunya dari disainer ternama yang telah disiapkan oleh Mamat.


Walau awalnya Vita sempat menolak dan pada akhirnya Vita harus berterima kasih, karena berkat Mamat penampilannya berubah dari upik abu menjadi seorang puteri yang cantik.


"Siap?" tanya Mamat yang malam ini juga terlihat begitu mempesona dengan setelan jas yang membalut tubuh tegapnya, membuat Vita grogi dan kehilangan fokusnya.


Vita menarik nafas dalam lalu menghembuskan pelan dan mengangguk pelan.


Mamat keluar dari balik kemudi dan berjalan memutari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Vita.


Cckk.... dengan tindakan gentleman kayak gini aja sudah membuat hati Vita nervous apalagi dirinya harus terjebak selama beberapa jam bersama Mamat membuat jantungnya berdetak lebih cepat.


Vita menyambut tangan Mamat yang terulur kepadanya, bersama mereka berjalan memasuki gedung di depannya, tangan Vita melingkari lengan Mamat dengan mesra.


Sampai di depan pintu masuk, beberapa orang yang mengenal Vita tampak terkejut dengan kehadirannya, apalagi Vita tampak berbeda dengan penampilannya yang terlihat begitu wah.


Vita tersenyum canggung, melihat beberapa orang mulai berbisik , mungkin membicarakan dirinya dan juga cowok yang ia gandeng dengan mesra tersebut.


Vita memilih tak menghiraukan mereka dan melangkah masuk ke dalam ruang acara, saat ini dirinya hanya ingin memberikan selamat kepada Fara dan tidak memiliki maksud lain.


Andai saja Fara saat itu tak memohon kepada Vita untuk datang, Vita tentu lebih senang berkutat dengan tepung dan pasta.


Vita dan Mamat langsung menuju ke panggung dimana Fara dan suaminya duduk bersanding.


"Vita!" Mama Arya terpekik kaget ketika menyadari siapa yang berdiri di hadapannya tersebut.


Perempuan paruh baya itu tak mengira kalo mantan menantu kesayangan itu mau hadir untuk memberi selamat, padahal waktu dirinya diberitahu Rimbi bahwa Fara mengundang Vita, dirinya sempat marah karena tak tega dengan Vita yang harus bertemu dengan Arya setelah perpisahan mereka.


Dan melihat Vita dalam keadaan baik dan datang bersama seorang laki-laki yang terlihat begitu menjaga Vita, mamanya Arya justru tampak lega.


"Mama." Vita memeluk Mama Arya dengan erat.


"Kamu apa kabar nak?" tanya Mamanya Arya dengan perasaan terharu.

__ADS_1


"Vita baik Ma, Vita harap mama dan papa juga baik ya, maaf Vita datang karena Fara meminta Vita buat datang."


"Ndak papa nak, mama justru senang kamu bisa datang, kita masih tetap jadi keluarga kan," ucap Mamanya Arya bijak.


"Kenalin ma pa, ini Mathew.... em..... pacar aku." Vita memperkenalkan mereka, dan setelah berpelukan sekali lagi akhirnya Vita berlalu dari hadapan mereka.


Kedua orang paruh baya itu menatap kepergian Vita dengan hati yang berkecamuk, sedih tentu saja, tapi melihat ada seorang laki-laki yang begitu protektif di belakang Vita, jauh di lubuk hati mereka ada kelegaan yang luar biasa.


"Terimakasih mbak Vita." sambut Fara bahagia karena Vita mau memenuhi undangan, gadis itu merangkul Vita erat.


"Iya sama-sama Ra, Semoga samawa ya, bahagia selalu sampai ajal memisahkan," Vita membiarkan Mamat bersalaman dengan mereka tanpa perlu memperkenalkan mereka, karena pasti mereka paham dong siapa sosok di belakangnya tersebut.


"Dek.... ini saya ada hadiah buat kalian, tak seberapa sih, ini tiket pesawat dan hotel untuk menginap selama tiga hari di Bali, nanti kalian konfirmasi untuk tanggalnya ya." Mamat menyerahkan amplop ke tangan Fara, membuat yang ada di sana terbengong.


"Makasih mas, mbak." Fara menerima dengan perasaan bahagia.


Mamat mengangguk lalu menarik Vita dari sana, cukup begitu saja kan, beramah tamah dan menyapa secukupnya lalu pulang.


Turun dari panggung, Mamat menyempatkan diri menyapa ibu beserta keluarga mas Erwin yang mereka temui di bawah panggung.


"Ngikut Vita mas, kalo pengen mampir ke rumah ibu dulu juga nggak papa."


"Pulang aja Mat, besok subuh aku harus ngerjain pesenan dari ibu pejabat, sudah dibayar lunas soalnya." sahut Vita.


"Padahal sayang lho udah tampil mempesona seperti itu masak langsung pulang," goda mbak Laras.


Vita tersenyum malu, karena memang dandanan dirinya dirasa berlebihan, terlalu mewah untuk datang ke acara sederhana seperti ini.


"Ya udah kalo gitu hati-hati dijalan ya, mas mau salaman dulu sama keluarga pak Andang."


Ketiganya melangkah menuju ke arah panggung untuk sekedar bersalaman dengan keluarga besan (mantan tepatnya).


"Aku ke toilet bentar ya Mat, kamu tunggu sini ya," ijin Vita yang dijawab anggukan oleh Mamat.


Vita berjalan cepat menuju toilet, untung saja dress yang ia kenakan punya belahan panjang hingga setengah paha jadi tak menyulitkan langkahnya.


Selesai dengan aktivitas, Vita membuka pintu toilet dan tercengang melihat istri baru Arya menghadang langkahnya.

__ADS_1


Vita pura-pura tak mengenal perempuan yang berdiri di depannya dengan tatapan menghunus itu.


'Dih dia yang ngrebut, dia yang nantangin kayak mau ngajak perang aja.' batin Vita geli


"Kamu sengaja kan datang kesini, mau pamer ke Arya, ke keluarga Arya," tegur perempuan itu dengan nada sinis.


"Maksud mbak apa ya?" tanya Vita dengan alis bertaut bingung dengan tuduhan perempuan ini.


"Iya kamu sengaja datang kesini biar keliatan kalo kamu masih dianggep sama keluarga Arya, sengaja kan?" tuduhnya ketus.


"Astaga.... aku tuh kesini atas undangan Fara mbak, nggak ada maksud apa-apa, kalo bukan karena Fara aku juga nggak sudi menginjakan kaki disini, " kekeh Vita lucu mendengar tuduhan tak beralasan seperti itu.


"Alasan! Bilang aja kamu gagal move on!" sinis perempuan itu dengan nada ketus.


"Nggaklah ngapain aku gagal move on, mbak lihat calon suami aku tadi kan? Menurut mbak aku harus gitu gagal move on dari Arya?" tanya Vita sengaja dilembut-lembutin supaya perempuan di hadapannya itu kebakaran jenggot.


"Hati-hati mbak, pegangin lakinya yang erat biar nggak diambil pelakor, kan nggak lucu, masak pelakor kok kalah sama pelakor lain." ledek Vita lalu berlalu dari sana.


Belum juga kakinya meninggalkan tempat itu, Vita harus kembali dihadapkan pada sosok Arya yang menghadang langkahnya.


"Vita... " panggil Arya ragu.


"Nggak usah ngomong apa-apa Ya, gue malas dituduh jadi pelakor sama pelakor yang dulu ngrebut laki gue, mending lo kondisikan bini lo tuh, masak gue dituduh belum bisa move on dari lo sih, yang bener aja!" Vita memutus ucapan Arya sebelum laki-laki tersebut berbicara yang tidak-tidak.


Vita melangkah dan ketika akan melewati Arya, Vita kembali berbisik pelan di telinga Arya. "I really really already move on from you, and thanks berkat lo gue bisa nemuin cowok spek selangit kayak dia, thanks a lot by the way."


Lalu Vita melangkah meninggalkan Arya yang pasti terbengong dengan perubahan Vitanya yang begitu drastis padahal belum genam satu tahun mereka berpisah.


Vitanya begitu cantik, anggun dan mempesona, kan seperti itu kalau sudah jadi mantan pasti seseorang lebih menawan.


Mamat menarik pinggang Vita dengan mesra setelah perempuan itu berada di sampingnya dan bersama mereka keluar dari ruangan tersebut dengan tatapan penasaran orang yang berada disana.


Cckkk ganteng dan cantik, apalagi si perempuan mantan menantu yang disia-siakan oleh anak lelaki yang punya hajat, siapa yang tidak penasaran coba.


"Hallo calon istri....you are so beautifull to night" bisik Mamat lembut lalu sebuah kecupan lembut mendarat di pelipis Vita, membuat Vita meremang.


'Apakah Mamat mendengar obrolannya tadi? Dih malunya' batin Vita dengan muka merona.

__ADS_1


__ADS_2