The Mantans

The Mantans
Bab 78 : Lamaran


__ADS_3

Kedua orang tua itu saling tatap, tak mengira dipertemukan pada kesempatan seperti ini, dunia ternyata sesempit ini, setelah puluhan tahun tak bertemu, mereka justru bertemu pada kesempatan seperti ini.


Wajah Tama jelas terlihat jengah, betapa dulu jiwa flamboyannya tak berarti apa-apa di mata gadis sederhana seperti Nania ini, Tama bahkan ditolak berkali-kali oleh Nania, duh malunya, mana sekarang mau jadi besan lagi.


"Jadi Metiu ini anak kamu mas Tam?" tanya Nani dengan mata tak percaya.


"Iya dia anak bungsuku," jawab Tama salah tingkah.


"Papi kenal ibu?" tanya Mamat penasaran, bahkan semua orang yang ada disana penasaran dengan interaksi keduanya yang terlihat, kenal.


"Iya papi dan ibunya Vita itu temen sekolah di SMA dulu," jawab Tama.


"Oh teman lama tho." Mamat menganggukan kepala.


"Monggo lho mas, mari mari silakan duduk." ajak Nani mempersilakan Tama dan yang lainnya untuk duduk.


"Vita sini duduk dekat ibu nak." Vita mendekat dan duduk diapit oleh ibu dan Erwin, berhadapan dengan Mamat yang duduk diantara Maureen dan papinya.


"Jadi kedatangan kami kemari untuk berkenalan dengan keluarga Vita yang anak lelaki saya kenalkan sebagai pacar... "


"Tunangan pi," potong Mamat tak setuju dengan ungkapan papinya yang mengatakan Vita sebagai pacarnya, secara kan dirinya sudah melamar Vita beberapa waktu yang lalu.


"Iya tunangan," ulang Tama sambil berdecak lirih, Maureen hanya terkekeh kecil mendengar perkataan Mamat barusan.


"Tentu mas Tama, kami juga ingin mengenal keluarga Metiu dengan lebih dekat, ini anak kedua saya namanya Erwin, dan ini Laras istrinya, sedang yang duduk disana itu anak pertama saya Gina namanya," ibu memperkenalkan mereka satu-satu, dan kakak Vita berdiri untuk bersalaman dengan keluarga Mamat.


"Maaf mbak Nania, kalo saya hanya di dampingi oleh putri kedua saya Maureen, dan ini asisten pribadi Mathew namanya Henry."


"Kalo maminya Metiu mas, nggak ikut?" tanya Nani heran.


"Maminya Mathew sedang tidak enak badan, dia istirahat dirumah ditemani kakak pertama Mathew yang bernama Monika." Tama mencoba mencari alasan karena tak mungkin mengatakan kalau istri dan ibunya tak merestui hubungan keduanya.


"Oh gitu, saya harap maminya Metiu tidak menentang hubungan anak-anak ya mas, saya paham kok anak saya statusnya apa, bukannya ingin menjatuhkan harga diri anak sendiri ya mas, tapi saya tahu tak gampang menerima status anak saya, saya hanya memastikan saja," ucap Nani lembut tapi ada ketegasan di dalamnya, dia tak ingin anak perempuannya mendapat penolakan dari keluarga calon suaminya.


"Tentu saja kami menerima Vita sebagai tunangan Mathew, jadi karena Mathew sudah melamar Vita waktu itu, kita tinggal membahas acara selanjutnya, mau tunangan dulu atau langsung menikah gitu kan mbak Nani?" tanya Tama.

__ADS_1


"Iya."


"Sebelumnya saya ingin sekali lagi saya menanyakan kesungguhan Mathew, apakah benar-benar sudah ikhlas lahir batin mempersunting Vita, karena saya tak ingin melihat adik saya gagal untuk kedua kalinya, apalagi bila melihat bagaimana status sosial kita yang begitu berbeda, saya tak ingin itu jadi persoalan nantinya, saya hanya ingin melihat Vita bahagia." Kata Erwin memotong pembicaraan mereka.


"Saya yakin mas, belum pernah saya seyakin ini." jawab Mamat tegas.


"Baik kalo gitu."


"Clear ya."


"Jadi saya ulang ya, kita langsung adain acara pertunangan dulu atau langsung menikah saja?" tanya Tama


"Saya ikut anak-anak aja mas, maunya gimana mereka."


"Gimana Mat, Vit?" tanya Tama.


"Iya pi, sebulan lagi kita tunangan, setelah itu kita tentukan waktu pernikahan,karena jujur aku sama Vita belum ngomong apa-apa," ucap Mamat


"Gimana Vit?" tanya Erwin kepada adiknya yang sejak tadi hanya terdiam menyimak pembicaraan keluarganya.


"Aku ikut aja mas apa maunya Mam, eh Mathew," jawab Vita gelagapan, hampir saja dia salah menyebut nama kekasihnya itu, bisa perang dunia kalau dia memanggilnya dengan nama Mamat dihadapan keluarga pria itu.


"Kalo gitu karena saya rasa pembicaraan kita sudah selesai, mari kita menikmati hidangan alakadarnya yang disiapkan keluarga kami," ajak Erwin menggiring keluarga Mamat menuju teras samping yang telah disulap menjadi arena buat makan malam.


Ketika semua keluarga berjalan ke tempat makan, Mamat menarik tangan Vita ke teras depan dan memisahkan diri dari keluarga mereka.


"Terimakasih ya yang," ucap Mamat tulus sambil memeluk tubuh ramping Vita dan mengecup mesra pelipis Vita dengan sayang.


Vita mencubit tangan Mamat lembut, "Kebiasaan tak lihat tempat, kalo tetanggaku ngeliat gimana coba."


"Emang kenapa kalo mereka lihat?" tanya Mamat pura-pura polos.


"Dih pakai tanya lagi, nggak tahu disini banyak tukang ghibah," omel Vita sambil mengerucutkan bibir.


"Biarin ajalah, emang gue pikirin, mau nyinyir, mau nyonyor, anggap aja kita sedekah karena membuat orang bahagia," sahut Mamat cuek.

__ADS_1


"Astaga mulutnya ih," kata Vita gemes.


"Yang penting aku nikah sama kamu, titik, yang lain nggak penting buat aku," kata Mamat sok mendramatisir keadaan.


"Hahaha." Vita menutup bibirnya dengan kedua tangan.


"Vita, Metiu, makan dulu jangan malah mojok disitu," panggil ibu membuat mereka segera memisahkan diri.


Lalu keduanya berjalan ke tempat makan, Mamat duduk di samping Maureen, sedang Vita mengambilkan makanan untuk Mamat.


"Eh Reen, lo curiga nggak sih kenapa papi bisa kenal dengan ibunya Vita?" tanya Mamat dengan suara pelan.


"Iya ya, kayak yang gimana gitu tingkah papi, sering salah tingkah," jawab Maureen sambil menyengir.


"Atau jangan-jangan mereka pernah pacaran dulu waktu mereka muda," kata Mamat menebak-nebak hubungan keduanya.


"Mana mungkin sih, secara lo tahu tipe perempuan yang papi suka tuh seperti apa, harus glamour, cantik dan seksi gitu, sedang ibunya Vita itu sederhana banget." Maureen menggelengkan kepala menolak pendapat adiknya.


Keduanya terdiam ketika melihat Vita mendekat dengan piring di tangan.


"Makasih sayang." Mamat menerima piring berisi makanan yang disodorkan Vita.


"Duduk sini yang." Mamat menarik tangan Vita lembut meminta tunangannya itu untuk duduk di sampingnya.


"Yang, kamu tahu hubungan papi sama ibu?" tanya Mamat masih penasaran.


"Enggak." Geleng Vita pelan.


"Jangan-jangan mereka dulu pacaran," gumam Mamat membuat Maureen merotasi matanya, kadang adik semata wayangnya itu kalau bicara suka sembarangan.


"Setahu aku, ibu cuman pacaran sekali sama bapak dan langsung menikah, dia nggak punya mantan satupun " jelas Vita pelan.


"Wah bagus dong, nggak kayak anaknya yang mantannya berjibun, masih ngejer-ngejer pula," sindir Mamat membuat Vita melototkan matanya karena sindiran Mamat, sedang Maureen hanya tertawa pelan.


"Perasaan dulu lo nggak bucin kayak gini Mat!" Maureen menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Siapa bilang nggak bucin, Vivian kabur kan karena nggak betah di posesif-in mbak!" celetuk Vita kesal.


"Eh?!"


__ADS_2