
Hidup itu memang tak selalu indah seperti pelangi ya guys, ada kalanya kadang harus mendung bahkan mengalami hujan badai, kalo hidup lempeng saja tak ada drama ceritanya bisa dipastikan membosankan.
Begitu juga dengan kehidupan Vita, jungkir balik menghadapi masalah rumah tangganya dengan Arya hingga berujung dengan perceraian.
Dia yang selalu setia, tak pernah berbuat neko-neko, kalo akhirnya dia menyerah dengan pernikahannya karena ingin menyelamatkan jiwanya agar tetap sehat dan waras lalu memilih perceraian itu sebagai jalan akhir, apa ia salah.
Dan sekarang statusnya itu dipermasalahkan oleh orang lain, mungkin orang-orang lebih suka melihat orang lain tetap menyandang status sebagai seorang istri meski jiwanya hancur lebur tak berbentuk karena dihajar berulang kali oleh perselingkuhan suaminya dulu.
Sejak keluar dari ruangan Mamat, Vita memilih diam dan menyibukkan diri dengan pekerjaannya, menghilangkan penat di kepala.
Kalo saja dia orang yang tak bertanggungjawab, mungkin saat ini Vita memilih kabur dari tempat ini.
Vita menghembuskan nafas pelan, baru saja ingin menikmati hidup, lagi-lagi dia harus menelan pil pahit akan sebuah penolakan.
Ketika Vita semakin lemas ia melihat Toni melangkah masuk ke ruangan untuk menggantikan dirinya di shift berikutnya.
"Mas Toni, aku boleh ijin keluar sekarang nggak? Badanku rasanya lemes banget," ucap Vita pelan.
"Bu Vita sakit?" tanya Toni khawatir.
"Iya mas, boleh langsung change shift nggak?"
"Iya bu tentu saja boleh, saya panggilkan pak Adnan ya biar ibu langsung diantar pulang."
"Eh nggak usah pak, aku udah order taksi, mau langsung ke dokter aja," tolak Vita langsung gegas menuju lokernya dan mengambil tas lalu pergi.
Vita masuk ke dalam taksi online yang sudah menunggunya, meminta driver untuk mengantarnya ke suatu tempat untuk sekedar menenangkan diri.
Ada untungnya dia bekerja disitu jadi dia bisa tahu tempat-tempat dengan suasana tenang disekitar resort.
Vita melepas blazer menyisakan baju putih lengan pendek dan rok span biru muda yang merupakan seragam di tempatnya bekerja.
__ADS_1
Tak lama taksi sampai ke tempat tujuan, sebuah cafe dengan pemandangan indah di bawah sana berlatar cahaya kuning keemasan matahari yang merambat turun ke peraduannya.
Disini Vita duduk sendiri, sesekali menyesap jahe susunya yang berubah menjadi dingin karena terkena suhu pegunungan yang semakin dingin menjelang malam.
Dalam kesendirian Vita terngiang kembali ucapan dari maminya Mamat tadi, seorang janda yang tak layak mendampingi hidup anak lelaki satu-satunya.
Miris memang ketika cap buruk itu dilabelkan pada orang-orang yang bisa menjaga diri seperti dirinya meski status janda melekat padanya, terlalu hinakah statusnya?
Vita kembali mendesah, dia tak ingin memaksakan kehendak, baginya restu orang tua adalah pondasi awal dalam membangun sebuah rumah tangga, tanpa itu pasti jalannya akan semakin sulit.
Sementara Vita lagi asyik menikmati kesendiriannya, Mamat yang baru saja keluar dari ruangannya setelah pembicaraan yang tak menemui titik temu dengan oma dan maminya, mencari Vita di restauran.
"Selamat malem pak Mathew, ada yang bisa saya bantu?" sapa Toni dengan sopan.
"Vita udah pulang Ton?" tanya Mamat mencari keberadaan kekasihnya tersebut.
"Bu Vita udah ijin pulang dari tadi pak, katanya kurang sehat beliaunya." Informasi Toni membuat Mamat kalang kabut.
"Dia pulang diantar pak Adnan kan Ton?" tanya Mamat.
Mendapat informasi seperti itu, perasaan Mamat tiba-tiba tak enak, dia yakin Vita terluka dengan ucapan maminya.
Dengan perasaan khawatir, Mamat segera melakukan panggilan ke ponsel Vita yang tak diterima oleh perempuan itu.
Sampai dengan panggilan ke lima, telepon Mamat belum juga diangkat oleh Vita, dengan terpaksa Mamat mengecek GPS yang tanpa sepengetahuan Vita pernah Mamat pasang di ponsel Vita.
Setelah menemukan posisi Vita, Mamat bergegas masuk ke dalam mobilnya dan memacu kendaraannya ke tempat Vita berada.
Tak lebih dari sepuluh menit, Mamat sampai ke tempat Vita, dia mengedarkan pandangannya menjelajah di lantai satu dan tak menemukan Vita, lalu dia melanjutkan langkahnya naik ke lantai dua.
Disana di pojok ruangan ini menghadap ke arah matahari terbenam, Vita tampak terpekur menatap area perkebunan sayur dibawah sana yang tampak indah karena kerlap kerlip lampu yang sengaja dipasang oleh petani untuk menambahkan keindahan.
__ADS_1
Mamat melepas jaket kulitnya dan menyampirkan ke pundak Vita yang hanya berbalut baju kerja lengan pendek.
"Dingin!" kata Mamat membuat Vita kaget.
Vita mendongak menatap Mamat yang sudah duduk di sebelahnya dengan mata menatap perkebunan di bawah sana.
Vita kembali menatap ke depan, membiarkan jaket itu tetap tersampir di bahunya." Kenapa kesini?" tanya Vita dengan suara sendu.
"Pengen deket kamu," jawab Mamat asal.
"Lebih baik kamu kembali kepada mamimu dan omamu, aku lagi pengen sendiri," ucap Vita lirih, ada luka dalam suaranya.
"Plis, biarin aku disini sama kamu yang." Suara Mamat sarat permohonan, dia hanya ingin disisi Vita, mendampinginya dan menghiburnya.
"Mathew Alexandrio Praja yang terhormat, tolong tinggalin saya sendiri," pinta Vita memelas.
"Lavita Aurora plis jangan suruh aku pergi, aku ingin disini, aku butuh kamu yang." Mamat menggenggam tangan Vita lembut, mata laki-laki itu mengembun.
"Plis Mat, jangan bikin aku tambah berat melangkah, kamu tahu kan orang tuamu tak setuju dengan hubungan ini, jalan kita terlalu terjal dan berliku, aku bahkan sudah merasa capek," keluh Vita.
"Kalo kamu capek, kamu cukup diam, biar aku yang menggendong kamu menuju ke tempat yang kita tuju, percaya sama aku hmm, " bujuk Mamat lembut.
Vita menggelengkan kepala pelan, dia tak mau memaksakan kehendaknya apalagi harus melawan restu orang tua, jujur dia tak mau.
"Kamu terlalu baik, terlalu sempurna untuk orang seperti aku Mat, aku seorang janda, dan status sosial kita terlalu jomplang, aku seperti pungguk merindukan bulan."
Mamat tak ingin menekan Vita saat ini, dia tahu pasti berat yang dirasakan kekasihnya itu, saat ini Mamat tak ingin egois memaksakan kehendaknya, tapi Mamat tak akan melepaskan Vita baik hari ini atau esok hari.
Vita perempuan sederhana yang membuat dirinya jungkir balik merasakan cinta yang telah lama mati suri.
Vita bangkit berdiri, membiarkan jaket kulit Mamat terlepas dari pundaknya dan tergeletak begitu saja di lantai, dengan langkah pelan dia meninggalkan Mamat seorang diri.
__ADS_1
Mamat membiarkan kekasihnya itu pergi, bahkan rasa perih itu memenuhi hatinya saat ini, melihat Vita terluka hatinya juga ikut terluka.
'Ya Tuhan apa aku tak boleh bahagia sebentar saja dengan dia, aku benar-benar mencintai dia dan ingin bahagia hidup bersamanya sampai maut memisahkan kami' bisik Mamat sendu.