
Vita memarkir motornya dengan sembarangan, niatnya mau healing sebentar di pagi hari harus ia batalkan karena panggilan dadakan dari Retno.
"Ada masalah apa lagi Ret?" Vita terengah, sejenak mengatur pernafasannya.
"Gimana ini mbak?" tanya Retno dengan suara bergetar, matanya sudah berkabut sebentar lagi pasti akan nangis kejer tuh bocah.
"Nafas dulu Ret, ceritain pelan-pelan." titah Vita lembut sambil menepuk punggung tangan Retno untuk menenangkan gadis itu.
"Pesanan kita dibatalin mbak." ucap Retno lirih.
"Pesanan yang mana?" tanya Vita, mulai mengingat pesanan mana yang membuat Retno gemetaran kayak gini.
"Yang i i itu." jawab Retno dengan airmata mulai membasahi mukanya.
"Yang mana Ret?" tanya Vita sudah tak bisa bersabar lagi karena perkiraannya pasti pesanan yang itu.
"Mbak Vita.... hua hua." Tangisan Retno semakin kejer membuat Vita langsung luruh duduk di lantai.
Pesanan dengan nominal cukup besar, hampir sepuluh juta itu, yang telah siap dikirim siang ini, sengaja Vita tak membuka kafenya karena mereka harus lembur menyelesaikan lasagna yang berjumlah ratusan itu.
"Kok bisa sih Ret?" tanya Vita dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Aku juga bingung mbak, padahal aku udah ngejalanin prosedur yang ditentukan sama mbak Vita, lagian langganan itu udah kasih DP dua puluh persen." jelas Retno.
Susi yang juga berada disitu karena ikutan lembur dengan mereka tadi akhirnya mengambil duduk disamping Retno, walaupun bukan tugasnya tapi Susi tahu ada masalah besar yang sedang menimpa Vita.
"Kamu udah hubungi pembelinya Ret?" tanya Vita lirih.
"Nomernya nggak aktif mbak."
"Coba mana alamat rumahnya, aku coba samperin."
"Dia bilang mau diambil sendiri mbak, jadi aku nggak tahu alamatnya."
"Aish.... brengsek!" maki Vita pelan dengan jari memijat keningnya yang seketika berdenyut.
Ketiganya terpekur dengan pikiran masing-masing, Vita tak menyangka usahanya bisa semrawut seperti ini, padahal dalam angannya, Vita sudah membayangkan dirinya menjadi seorang pengusaha kuliner.
Sekian lama dalam kebisuan, akhirnya Retno memberanikan diri bertanya untuk sekedar memecah kesunyian, disamping dirinya juga sudah lelah efek bekerja dari dini hari tadi.
"Mbak.... terus kita apain ini mbak?"
Tak menyahut, pandangan Vita tampak sayu dan terlihat kosong.
__ADS_1
"Kalian pulang aja dulu deh, istirahat, pasti lelah kan?"
"Tapi mbak."
"Sudah kalian pulang dulu, nanti aku kabari lagi kalo aku udah ambil keputusan mau diapain makanan ini."
"Ya sudah kami pulang ya mbak." ucap Susi langsung bangkit dan memberi kode ke Retno agar ikut pulang bersamanya.
Dengan rasa malas, lebih tepatnya tak enak hati, Retno akhirnya dengan lesu meninggalkan tempat itu.
Setelah Susi dan Retno tak ada didepannya, akhirnya airmata yang Vita tahan sejak tadi luruh juga satu satu.
Vita menekuk kedua kakinya, dan menyembunyikan wajahnya disana, isak tangis terdengar lirih.
"Rasanya tak tahu diri banget Tuhan, kalo aku bertanya kenapa ini semua terjadi sama aku, apa salahku ya Tuhan, bahkan aku selama ini tak pernah berbuat jahat sama orang."
Haripun beranjak sore, Vita masih duduk dengan posisi yang sama, kafenya dibiarkan tetap gelap tanpa penerangan, lalu tiba-tiba dari luar terdengar suara berisik yang membangunkan lamunannya.
Dengan enggan Vita beranjak untuk melihat apa yang terjadi, lalu matanya membulat sempurna ketika didepan kafenya, dia melihat Evan dan Rara terlihat sedang bercekcok.
'Ya Tuhan apa lagi ini'
__ADS_1
Vita merasa dirinya lagi diserang dari berbagai arah oleh para mantannya.