
Who's that.
"Sekarang jelasin ke aku deh, siapa perempuan itu?" tanya Vita menyandarkan tubuh di tembok dengan tangan bersedekap di depan dada.
Mulut Mamat terkunci, bahkan tak satupun pertanyaan Vita yang dijawab oleh Mamat, dia terlalu shock atas kedatangan mantan tunangannya itu.
"Melihat kamu terdiam dan gelisah sejak tadi, aku bisa simpulin kalo dia mantan tunangan kamu, benar begitu?" cecar Vita terus tanpa henti, matanya menatap Mamat dengan intens.
"Jadi ini yang terjadi selama kamu di Jakarta, kenapa kamu buru-buru pulang kesini, dan jadi sangat overprotective sama aku?" Kalimat tebakan Vita mengalir yang sayangnya memang tepat.
"Jawab ih, daritadi diem aja!" Vita menggeram kesal.
Mamat menghembuskan nafas lelah, keinginannya untuk menyimpan rapat hal ini agaknya tak bisa ia lakukan, Vita akan terus mencecar dan akhirnya akan menyimpulkan sendiri kalo dirinya tak menceritakan semuanya, dan pada akhirnya nanti Vita malah menyimpulkan sendiri.
"Oke oke, aku akan jelasin sekarang," potong Mamat tak tahan mendengar dengungan suara Vita.
"Iya dia tadi Vivian Caroline mantan tunangan aku, kami bertemu di makan malam keluarga aku waktu itu, dia diundang sama mami, entah cerita apa yang disampaikan oleh dia hingga oma dan mami langsung luluh kembali dengannya." Mamat menjeda kalimatnya sejenak.
"Aku memang mulai overprotective sama kamu, karena Vivian itu cewek yang ambisius, apapun akan dihalalkannya untuk meraih semua keinginannya." Mamat terdiam lagi, mengambil nafas sebanyak-banyaknya untuk memenuhi paru-paru nya yang terasa sesak.
"Aku takut kamu terluka yang." ucap Mamat dengan frustasi.
"Lalu bagaimana dengan kamu? Apakah kamu masih terluka atas perbuatan Vivian dulu? Atau kamu masih merasakan sesuatu ke Vivian? Kalo iya aku juga nggak papa kok, lagian perasaan kita juga belum sedalam itu," ucap Vita kalem.
"Maksud kamu?!" tanya Mamat menautkan alis, dengan intonasi terdengar gusar.
"Ya maksud aku kalo kamu masih cinta sama Vivian ya go head, apalagi keluargamu mendukung semua kan, belum tentu jalan kita mulus nanti,apalagi statusku janda, aku nggak papa kok, kan aku udah bilang kalo perasaan... " Perkataan Vita terpotong ketika tubuhnya terdorong, dan sesuatu yang kenyal mengakuisisi bibirnya.
Vita mengerjabkan matanya pelan, c**man yang biasanya lembut itu, entah kenapa terasa berbeda, Mamat cenderung agresif dan sedikit kasar malam ini.
"Plis Yang, aku beneran sayang kamu, jangan bicara seperti itu lagi, aku takut ditinggalin kamu." Genggaman tangan Mamat begitu kuat dirasakan oleh Vita.
***
__ADS_1
Apa yang dikhawatirkan Mamat akhirnya kejadian juga, Vivian dengan tak tahu malunya mencoba mendekati Mamat lagi.
Seperti saat ini, ketika Mamat meninjau bisnis agrowisatanya, entah dapat info dari mana, Vivian bisa tahu kalo agrowisata ini miliknya, sepagi ini bahkan perempuan itu sudah duduk manis di salah satu gasebo dengan menyesap secangkir teh.
Matanya awas menatap Mamat dari sejak cowok itu masuk dan berkeliling untuk meninjau kebun disana.
Dan tanpa malu mendekati dan mencoba menarik perhatiannya membuat Mamat muak dan ingin segera pergi dari sana.
Pasokan udara terasa menipis meski udara disekitar terasa sejuk dan menyegarkan.
Saat ini dia hanya perlu Vita untuk bisa membuatnya bernafas dengan benar lagi.
"Pak Broto, tolong diperhatikan lagi ya pak, semua pupuk tolong diganti dengan organik semua, sesuai motto perusahaan, itu yang harus kita jaga," ucap Mamat dijawab anggukan oleh Broto.
"Baik Pak, kami siap melaksanakan perintah bapak." Pak Broto membungkuk dengan hormat.
"Good, saya pergi ya pak, terima kasih atas kerjasamanya." Mamat menepuk pundak Broto dengan pelan, lalu meninggalkan laki-laki setengah baya yang sudah dipercayanya sejak dia memulai bisnis tersebut.
Dengan tergesa dan tanpa menoleh ke Vivian, Mamat gegas keluar dari tempat itu, bahkan panggilan berulang kali dari Vivian tak dihiraukannya sama sekali.
"Yang...," panggilnya menerobos masuk ke dalam kafe meskipun di depan pintu masih ada tulisan close tersebut.
"Lho kok udah sampai sini? Katanya ke kebun?" tanya Vita mengeryit.
Tanpa melihat sekeliling, karena memang Mamat tidak peduli kalo tindakannya dilihat oleh siapapun, Mamat memeluk pinggang ramping itu dari belakang.
Slep...
"Hm... wangi," puji Mamat mengendus leher Vita lembut.
"Dih.... awas ah, nggak malu apa dilihat orang," gerutu Vita sambil melepaskan tangan Mamat yang membelit pinggangnya erat.
"Mereka pada nggak lihat kok," kata Mamat sambil melirik ke orang sekitarnya yang pura-pura tak melihat adegan mesra tersebut.
__ADS_1
"Mereka pura-pura tak lihat, malu kali lihat kamu yang nempel mulu sama aku."
"Derita jomblo biarin aja!"
Vita kembali menekuri pekerjaan di belakang meja kasir, menghitung hasil penjualan kemarin.
"Lumayan, ada peningkatan penjualan yang signifikan nih," sorak Vita sumringah.
"Bener kan aku taruh Sena dan Sinta buat bantu kamu?" tanya Mamat mesem, kalo kayak gini rencananya bakalan berjalan mulus.
"Iya, mereka kerjanya bagus, bukan berarti Retno sama Susi kerjanya sembarangan ya, cuman mereka kalah pengalaman aja dari Sinta dan Sena, lama-lama bisa handle juga," puji Vita tak mau memandang sebelah mata satupun karyawan yang ia punya.
"Jadi karena kafe kamu sudah ada yang handle dan settle , mulai besok kamu udah bisa kerja di resort aku."
Bum.... Vita mendelik, melepaskan paksa tangan Mamat dari pinggang rampingnya, lalu berbalik dan menatap Mamat nyalang.
"Aku belum bilang iya ya!" ketus Vita merasa Mamat semena-mena terhadap dirinya.
"Pokoknya aku tak menerima penolakan!" tegas Mamat sambil tangan kanan dan kirinya bertumpu pada meja dan mengungkung Vita dengan tatapan mengintimidasi.
"Kamu kenapa sih seenaknya sendiri ngambil keputusan?!" teriak Vita emosi, menahan airmata yang ingin tumpah.
"Aku cuman mau kamu di dekat aku Vit, apa salah?" tanya Mamat lembut.
"Tapi bukan ngatur-ngatur aku sesuai mau kamu, ini kafe aku, impian aku sejak lama, terus kamu renggut paksa dari aku begitu saja?!"
"Aku cuman ingin jaga kamu!" geram Mamat tertahan.
"Jaga aku dari siapa? Oh dari mantan tunangan kamu itu ya?" tanya Vita dingin.
Mamat mengatur nafasnya pelan, menjaga emosinya tetap terkontrol, agar semakin tak membuat Vita seperti dikekang.
Aura disana menjadi mencekam, Retno dan Sena yang kebetulan masuk shift pagi, bekerja tanpa menimbulkan suara sedikitpun.
__ADS_1
"Aku udah tua, aku tahu cara jaga diri aku sendiri, tolong ngertiin aku sedikit aja, kasih aku udara untuk bernafas, karena terus terang aku sesak harus kamu posesf-in dan overprotectiv-in kayak gini." Vita memilih keluar dari kafenya, menaiki motornya dan memacunya dengan kecepatan tinggi.