The Mantans

The Mantans
Bab 46 : Menghindar


__ADS_3

Sepagi ini Vita sudah keluar dari rumah menentang tas berisi beberapa helai pakaian ganti, rencananya untuk sementara waktu Vita ingin menenangkan diri di suatu tempat.


Katakanlah Vita sengaja menghindari Mamat, ya memang tujuannya itu, Vita butuh ruang dan waktu untuk dirinya berfikir sejenak.


Dengan berat hati menyerahkan (lagi) urusan kafe kepada Retno, dia tahu Retno kompeten menggantikan dirinya untuk sementara waktu, ya walaupun ada beberapa hal yang ia intruksikan kepada gadis itu apa yang harus dan tidak harus dikerjakan, agar mereka tidak lagi kecolongan seperti kemarin.


Vita menggusah nafasnya berat, bayangan untuk kakinya ringan melangkah setelah terbebas dari hubungan toxic dengan Arya mantan suaminya ternyata masih jauh api dari panggang, hmm... hidup Vita terasa semakin berat.


"Sudah sampai mbak." Suara driver di depan membangunkan Vita dari lamunan.


"Sudah saya bayar sesuai aplikasi ya pak," sahut Vita lalu turun dan menenteng tas yang berisi pakaian yang tak seberapa itu, kan emang niatnya kaburnya tidak lama.


Setelah melakukan check-in dan mendapatkan kunci kamar, Vita kembali merebahkan tubuhnya dan melanjutkan mimpi indahnya yang sempat terganggu tadi.


Vita mengerjapkan mata memindai ruangan sekitarnya, sesaat tersadar kalo saat ini ia sedang berada di sebuah hotel tempat ia sejenak melarikan diri dari Mamat.


Merenggangkan otot yang terasa kaku, Vita memutuskan untuk mandi sekalian, lalu bersiap menjelajah kota ini untuk mencicipi setiap makanan lezat yang ada hampir di sudut kota ini.


Vita dan makanan itu kan ibarat dua sisi mata uang yang tak mungkin dipisahkan, apalagi dalam kondisi stress dan banyak pikiran, pasti perempuan cantik itu akan melampiaskan ke makanan.


Untungnya walau doyan makan, tubuh Vita tetap langsing dan proposional, ntah kemana larinya semua protein dan lemak yang masuk dalam perut.


Seperti hari ini Vita sedang menikmati semangkok dawet selasih di pinggir jalan depan sebuah toko batik terkenal di kota ini, dengan santai dia duduk di bangku kecil sambil sesekali menyuapkan minuman tersebut ke mulut nya.


Dalam kesendiriannya Vita kembali mengingat sosok Mamat, bisa-bisa nya pria itu menipu dirinya habis-habisan, ngaku tukang ojek nyatanya seorang pengusaha, udah gitu anaknya konglomerat pula.


Pantesan Mamat punya strategi dagang yang bagus, dikasih kerjaan apa saja dia bisa ngerjain, wong dia pengusaha.


Terus Vita harus gitu menerima cinta dia, secara ya dulu aja waktu Vita baru menjalin cinta dengan Bimalah, Evanlah, Rakalah, semua juga meninggalkannya karena perbedaan status sosial mereka, dan sekarang Vita diminta percaya dengan ucapan Mamat yang mengatakan mereka akan baik-baik saja..... tak kan percaya Vita.


Sementara di tempat lain, Retno yang sedang berada di kafe Omah Pasta harus menghadapi interogasi Mamat.


"Sekali lagi aku tanya Ret, Vita kemana?" Suara Mamat yang terdengar mengintimidasi membuat lutut Retno bergetar.


"Aku beneran nggak tahu mas, Mbak Vita cuman nitip buat ngurusin kafe ini selama tiga hari," jawab Retno dengan tangan saling bertaut dan meremas gelisah.


"Kamu nggak bohong kan?!" tanya Mamat lagi dengan suara terdengar dingin dan menakutkan.

__ADS_1


"Beneran mas, suer!" Retno mengangkat jari tengah dan telunjuknya.


Mamat menggusah nafas kesal, lalu menempelkan kembali ponselnya untuk menghubungi Vita, dan hasilnya sama, nomornya diblokir.


Cckk.... harusnya Mamat bisa memprediksikan ini, bukannya langsung main nembak Vita kayak kemarin, tapi ya gimana lagi, Vita yang dikelilingi para mantan membuat Mamat gelisah dan akhirnya tanpa pikir panjang langsung menyatakan cinta.


Sudah tahu Vita trauma berat dengan relationship eh dirinya malah maju terus bukannya menemani Vita melewati semua.


Dan kalo sudah seperti ini gimana coba, sudah terlanjur dan Mamat tak mau mundur lagi, dia terlanjur jatuh hati sama Vita.


Mau tak mau Mamat menghubungi Henry, meminta pria itu untuk mencari keberadaan Vita, dengan kekuasaan dan uang hal itu bukanlah hal sulit untuk dilakukan Mamat.


Mamat bukan posesif tapi lebih ke khawatir, takut Vita kenapa-napa diluar sana, sendirian, dalam keadaan strees pula.


Pesan Henry masuk tak lama setelah Mamat menghubunginya tadi.


Tunggu sebentar, orang kita lagi mengechek keberadaan mbak Vita, tak bisa buru-buru.


Mendapat pesan seperti itu dengan perasaan dongkol Mamat membalas dengan huruf capital disemua tulisannya.


Mamat tak peduli Henry akan memaki dirinya disana, ia butuh tahu secepatnya dimana Vita berada.


Akhirnya Mamat menerima pesan dari Henry dimana Vita saat ini berada.


"Tunggu kejutan dariku sayang, kamu tak akan bisa sembunyi kemanapun," ucap Mamat lirih sambil melangkah keluar dari sana, setelah sebelumnya mengancam Retno agar tak memberitahu Vita tentang hal ini.


Vita masih asyik menyantap selat di sebuah kedai selat terkenal yang berada di dalam sebuah gang sempit ketika Mamat berdiri dihadapannya, menatap dengan tatapan tajam.


Baru beberapa saat kemudian Vita menyadari keberadaan Mamat yang berdiri menjulang di depannya.


"Kamu ngumpet disini ternyata?" tanya Mamat sambil duduk dihadapan Vita yang tersenyum dengan kaku.


Dalam hati mengumpat Mamat karena bisa menemukan dirinya secepat ini, bahkan dia belum pergi lebih dari satu hari.


'Cckk bikin bete aja' batin Vita kesal.


"Ngapain sih Mat nyusul aku? Aku tuh pengen healing tahu!" sungut Vita kesal.

__ADS_1


"Healing atau kabur dari aku?" tanya Mamat lembut sambil menyelipkan rambut Vita di belakang telinganya.


"Dih.... geer, siapa juga yang kabur." Bibir Vita mengerucut, ngambek karena pelariannya tak membuahkan hasil.


Mamat menyeruput es teh manis milik Vita, sambil melirik Vita yang cemberut.


"Tuh tangan udah sembuh emang?" tanya Vita mengalihkan pembicaraan.


"Belum," jawab Mamat cepat.


"Kenapa kelayapan kalo masih sakit?"


"Perawatnya kabur nggak mau ngerawat," jawab Mamat asal.


"Ya udah cari aja perawat yang lain, banyak duit kan, pasti bisa bayar," celetuk Vita lalu kembali menikmati makanannya.


"Tangannya cuman mau dirawat sama Lavita Aurora, nggak mau sama yang lain," gurau Mamat


"Lavita Aurora nya yang nggak mau ngerawat, males katanya," sahut Vita judes.


"Ntar aku paksa harus mau!"


"Dih tukang maksa!"


"Biarin, cepat habisin makanannya, habis ini kita langsung pulang!" perintah Mamat dengan suara lembut tapi tetap mengintimidasi.


"Aku masih pengen jalan-jalan disini Mat," rengek Vita manja.


"Nggak bisa! Kita perlu ngomong!" tolak Mamat tegas.


"Belum-belum udah ngedekte, bentar lagi overprotective sama posesif, bikin males," gerutu Vita sembari bangkit berdiri dan bersiap membayar makanannya, tapi tangan Mamat lebih dulu menyodorkan selembar uang seratus ribuan untuk membayar makanan Vita.


Dengan lembut Mamat menggandeng tangan Vita dan menuntun perempuan itu masuk ke kursi penumpang dalam mobil yang terlihat eye catching banget di mata Vita.


Setelah keduanya berada di dalam mobil tersebut, dengan mendekatkan wajahnya Mamat berbisik dengan suara datar.


"Kenapa menghindar?"

__ADS_1


__ADS_2