
Vita menatap kerlap kerlip lampu di bawah sana, kilaunya seperti ribuan kunang-kunang yang sedang menari.
Mamat duduk di sebelah Vita, sesekali matanya melirik perempuan cantik yang sejak tadi diam membisu, tenggelam dalam pikirannya.
Tak ingin mengganggu, memang sejak awal Mamat mengajak Vita ke tempat ini sekedar untuk melepas penat yang pasti datang menghampiri Vita.
Melarikan diri dari Jakarta, memulai segala sesuatu dari nol, lalu ketenangan yang sudah didapat itu kembali terusik dengan kedatangan kedua mantannya.
Walau tidak mengenal kedua mantan Vita, tapi Mamat bisa menilai kedua cowok itu dari cara Vita berinteraksi dengan keduanya.
"Mbak.... " panggil Mamat pelan, sengaja mencari bahan pembicaraan karena sedari tadi mereka di sini hanya ada kebisuan diantara keduanya.
Vita memalingkan wajahnya, menatap Mamat dengan sendu, terlihat banyak beban pikiran yang sedang bercokol di kepalanya.
"Kalo ada masalah jangan dipendam sendiri mbak, kalo mbak Vita percaya sama saya, mbak Vita boleh cerita ke saya kok." Mamat menatap Vita lembut, sorot mata cowok itu terlihat tulus dan peduli.
__ADS_1
"Aku bingung Mat, nggak tahu mesti ngomong apa." Vita menjeda kalimatnya sejenak.
"Aku berpisah dari suamiku, pindah ke tempat ini berharap hidup dengan tenang, tapi kenyataannya malah....."
Vita mendesah pelan ."Aku bertemu mantanku, aku rasa hal ini akan menimbulkan masalah baru buatku, aku merasa lelah Mat, amat lelah, kenapa semua harus aku alami ya Mat?"
"Sabar mbak, semua pasti ada hikmahnya." nasehat bijak Mamat memasuki gendang telinga Vita, petuah klasik, yah memang kenyataannya seperti itu kan, sebagai manusia apa lagi yang bisa kita buat selain menerima takdir dalam hidup kita.
"Andai bisa mengulang waktu, aku mungkin memutuskan untuk tidak mengenal cinta Mat, berkelana mencari lelaki yang tepat tapi pada akhirnya ternyata aku salah memilih pasangan hidup, duniaku terasa jungkir balik sekarang."
"Mau denger kisahku nggak mbak." Ucap Mamat setelah beberapa saat keheningan tercipta diantara keduanya.
Vita menoleh, menatap Mamat yang juga sedang menatapnya dengan sorot mata yang..... entah apa Vita sulit mengartikannya.
Mamat menarik nafas pelan, pelan-pelan menggerakkan kepalanya kembali menatap kedepan, bayangan masa lalu yang menyakitkan kembali terlintas dipeluk matanya.
__ADS_1
"Sebenarnya kisahku tak berbeda dengan mbak Vita, bisa dibilang mirip." Kata Mamat pelan, lebih ke menata hati sebelum kembali mengulik kisah masa lalunya.
"Aku juga ditinggalin tunanganku dimalam sebelum kami menikah, dia pergi dengan kekasihnya dan pergi begitu saja, meninggalkan aku dengan perasaan malu dan terluka, aku yang memberikan semua cinta dan sayangku buat dirinya tetapi dia menghancurkan semuanya dengan begitu mudahnya."
"Malu, terluka, marah, semua jadi satu, tapi aku bisa apa, tak ada yang bisa aku lakukan kecuali lari dan bersembunyi dari semua orang, bahkan sampai detik ini pun setelah lima tahun berjalan trauma itu masih begitu jelas menghantui." Lanjut Mamat dengan suara lirih.
Vita menatap Mamat dengan sorot mata terkejut karena mendengar cerita Mamat yang barusan ia dengar.
"Rasanya semesta kok mencandai kita seperti ini ya Mat, kita orang-orang yang punya hati tulus, justru mengalami hal seperti ini, rasanya tuh nggak adil banget." Celetuk Vita kembali mengalihkan pandangan matanya ke depan.
"Atau mungkin malah semesta sedang menjauhkan kita dari orang yang tak tepat untuk kita mbak karena ada seseorang yang tepat yang sedang dipersiapkan untuk kita nanti." sahut Mamat lirih.
Vita terlihat menganggukkan kepalanya pelan setuju dengan ucapan Mamat barusan.
"Semoga ya Mat" sahut Vita pelan.
__ADS_1