
Mobil terparkir sempurna di depan kedai bakso terkenal milik pak Min, kedai sederhana tapi punya peminat yang luar biasa, lihat saja begitu banyak orang yang berbaris mengular sengaja menunggu bangku kosong untuk mereka duduki karena memang semua bangku disana sudah terisi orang yang ingin menikmati semangkok bakso dengan kuah yang menggugah selera.
"Masih mau nunggu dengan segitu banyaknya antrian?" tanya Mamat.
"Masihlah, mumpung aku free, kapan lagi bisa kesini kalo nggak sekarang," jawab Vita bersiap untuk membuka pintu.
"Pak... bisa tolong bapak antriin dulu, nanti kalo udah tiba giliran kita turun." pinta Mamat sopan kepada supirnya.
"Baik Pak." sahut Pak Adnan bersiap untuk turun.
"Jangan pak!" cegah Vita membuat pak Adnan dan Mamat kaget.
"Kenapa?" tanya Mamat penasaran.
"Dih....nggak seru ih, masak nyuruh orang buat antriin, justru yang asyik tuh kita antri sendiri, kan disitu serunya," cibir Vita jengah dengan overprotective-nya Mamat.
"Ntar kamu capek, lagian panas mataharinya," ucap Mamat tak ingin dibantah.
"Perasaan dulu waktu masih jadi Mamat si tukang ojek itu nggak peduli sama yang beginian, mau disuruh kemana-mana mau, nggak pernah komplain meski ujan badai juga," omel Vita memasang wajah cemberut.
"Jadi gimana pak, mau saya antriin apa nggak nih?" tanya pak Adnan yang kembali berada di belakang kemudi.
"Nggak usah pak, saya mau antri sendiri." Tanpa bisa dicegah Vita langsung membuka pintu dan nyelonong lalu ikut dalam barisan untuk antrian.
Dengan terpaksa Mamat ikut turun dan berdiri di belakang Vita , Vita mengulum bibirnya, kesenengan.
'Syukurin aku kerjain, paling nggak bisa di-overprotective-in, dari dulu udah biasa jadi wonder woman, gini aja nggak dibolehin!' batin Vita sambil terkikik.
"Emang apa enaknya sih, makan ampe harus ngantri kayak gini?" tanya Mamat bingung.
"Ya enak pokoknya, kalo nggak enak nggak bakalan ada yang ngantri Mamat!" celetuk Vita menggelengkan kepala, pusing dengan ocehan Mamat.
__ADS_1
"Kamu nggak ngomong, kalo ngomong aku bisa booking nih tempat khusus buat kamu," kata Mamat semakin membuat Vita senewen.
"Eh jangan aneh-aneh ya, emang kamu kira aku bisa ngabisin berpuluh-puluh mangkok apa?" bentak Vita lirih, malu dengan orang di depannya yang mulai melirik mendengar perdebatan keduanya yang terdengar konyol.
"Biarin kamu tenang makannya sayang, dan nggak harus antri kayak gini."
"Udah ah jangan berisik, malu didengar ama orang!" tegur Vita pelan.
Mamat mengerucutkan bibirnya, kesal karena disuruh ikutan antri, berpanas-panasan kayak gini, wasting time banget deh, setelah menunggu hampir tiga puluh menit giliran mereka pun akhirnya tiba, Mamat menghela nafas lega.
"Mau makan apa Mat?" tanya Vita menoleh sekilas ke Mamat yang berdiri di belakangnya, sedikit menempel dan mengikis jarak.
"Samain aja sama kamu, tapi jangan dikasih micin," jawab Mamat sambil memindai seluruh ruangan untuk mencari tempat duduk buat mereka.
Setelah Vita memesan dan tentu saja Mamat yang membayar, mereka akhirnya berjalan menuju ke sebuah bangku kosong yang berada di sudut ruang, agak pojok, sedikit menyendiri bangkunya.
Tangan Mamat memegang pundak Vita dengan posesif (tangan kiri ya, tangan kanannya belum bisa digerakin kan masih pakai menyangga), membuat Vita bergidik alih-alih tersanjung.
Langkah Vita melambat ketika di bangku tak jauh dari tempatnya berdiri, dia melihat Arya sang mantan suami bersama seorang wanita dengan dua orang anak yang sedang asyik menikmati bakso.
"Siapa Vit?" tanya Mamat lembut ketika melihat Vita mematung dan bereaksi aneh.
"Em....bukan siapa-siapa!" jawab Vita melengos lalu menarik tangan Mamat untuk jalan menjauh mencari bangku lain yang kosong.
Sengaja Vita menunjukkan kepada Arya bahwa dia baik-baik saja saat ini, bahkan menemukan pengganti yang jauh lebih baik segala-galanya dari dia.
Kekanakan memang, tapi Vita tak peduli, biar pria itu yang sudah menorehkan begitu banyak luka didalam hatinya melihat dia bahagia sekarang.
Bakso dengan uap mengebul sudah tersedia di hadapan Vita, tapi selera Vita menguar begitu saja sejak tanpa sengaja harus berada dalam ruangan yang sama dengan Arya.
"Kenapa hm? Tadi siapa?" tanya Mamat lembut.
__ADS_1
Vita membalas tatapan Mamat dengan mata sayu, ada sesuatu yang terjadi, dan Mamat tahu.
"Arya," jawab Vita lirih terdengar seperti ada yang menyumbat tenggorokannya.
Hati Mamat tercubit melihat Vita begitu terluka dengan keberadaan Arya dan perempuan itu.
"Kita pulang sekarang ya?" Ajak Mamat sambil menarik tangan Vita lembut lalu menuntunnya keluar.
Mamat membukakan pintu mobil buat Vita dan tepat saat itu keluarga kecil Arya juga beriringan keluar dari dalam kedai bakso tersebut.
Arya sempat terkejut melihat Vita memasuki mobil mewah tersebut, penampakan mobil tersebut yang mengkilap dengan merk ternama tentu menunjukkan seberapa kaya Mamat kan.
Sudut bibir Mamat tertarik membentuk senyuman mengejeknya, apalagi melihat perempuan yang digandeng Arya itu kalah jauh dengan Vita.
'Dasar cowok bo*oh berlian kayak gini kok dituker ama batu yang harganya hanya goceng!' maki Mamat dalam hati
"Pak, langsung ke resort!" perintah Mamat langsung dijawab anggukan oleh pak Adnan.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang mulai padat karena arus lalu lintas dipenuhi oleh orang pulang kerja.
Vita termenung sambil menatap keluar lewat kaca jendela di sampingnya, tak ada pergerakan dari Vita, hanya sesekali dadanya terlihat turun naik sengaja untuk menahan emosinya.
Mamat meraih tangan Vita dan menggenggamnya lembut. "Menangislah kalo kamu kepengen nangis, jangan ditahan sayang."
Mendengar suara lembut Mamat entah kenapa pengendalian diri yang coba ia tahan sejak tadi akhirnya jebol juga.
Vita terisak mencoba menekan rasa sakit yang kembali menghentak ulu hatinya, bahkan ini masih terasa nyeri dan menyesakan da*a.
"It's still hurt Mat!" isak Vita sambil meremas kaos Mamat pelan untuk menyalurkan rasa sakit yang dia rasakan.
Tak ingin memberi petuah apapun, karena memang bukan itu yang dibutuhkan Vita saat ini, Mamat semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Lepasin kalo memang harus dilepasin, jangan genggam apapun yang sudah tidak bisa kamu genggam, masih banyak yang peduli dan sayang sama kamu Vit, percaya sama aku kalo kamu bakalan bahagia, genggam tanganku kita akan hadapi semua sama-sama. Hmm." Suara Mamat terdengar lirih diantara isak tangis Vita.
'Biarkan aku menangis sebentar Tuhan, rasanya masih begitu menyakitkan, ternyata rasa ini belum memudar dan masih terlalu besar untuk dia. It's too hard for me God and i still love him so much'