The Mantans

The Mantans
Bab 74 :


__ADS_3

Vita masih terpekur, memandang sisi kiri dari kaca mobil, sejak mereka memasuki mobil, lebih tepatnya sejak semalam ketika mereka meninggalkan rumah keluarga Sutama Praja, wajah sendu sudah menaungi wajah Vita.


Ditolak mentah-mentah oleh oma dan mami kekasihnya itu membuat jantung Vita rasanya berdenyut nyeri.


Meski tak dipungkiri bahwa ia sudah memperkirakan hal ini akan terjadi, tapi ketika menghadapinya langsung, hati Vita yang bukan terbuat dari baja itu akhirnya penyok juga.


Mamat mengelus puncak kepala Vita dengan sayang, Vita menoleh menatap Mamat yang tersenyum manis kepadanya.


"Are you oke?" tanya Mamat sesekali kembali fokus menatap jalanan di depannya, karena Mamat lagi fokus menyetir.


"Nggak usah dipikirin ya sayang," kata Mamat lagi setelah tak ada ucapan yang keluar dari mulut Vita.


Vita menggusah nafasnya pelan, jujur dia tak tahu harus bagaimana, masuk ke dalam keluarga konglomerat juga bukan cita-citanya, kalau akhirnya dia terdampar dengan lelaki dari keluarga itu, apa dia terlalu menjijikkan sehingga tak bisa mereka terima.


"Semua akan baik-baik saja sayang, percaya sama aku." Lagi Mamat mengelus rambut Vita dengan sayang.


Rasanya Mamat ingin segera sampai ke kota Solo, ingin dia uyel-uyel kekasihnya itu agar tak terlalu berfikir yang aneh-aneh.


Otak kecil kekasihnya itu masih tak mampu menampung masalah yang menurut Mamat sih sederhana, tapi terlalu besar untuk Vita.


Vita tak ingin menyampaikan apa yang ada di benaknya saat ini, karena perjalanan mereka masih jauh dan dia tak mau menganggu konsentrasi Mamat dalam berkendara, sudah jadi rahasia umum kalau Mamat itu mudah tersulut emosinya kalau sudah menyangkut tentang Vita.


"Kita mampir ke rest area dulu ya, aku lapar ingin makan." Mamat membelokkan mobilnya menuju ke rest area terdekat.


Vita setia mengekori Mamat, memang sejak tadi kemana-mana tangan Vita tetap digenggam oleh Mamat seolah-olah Mamat takut kalau Vita akan melarikan diri seperti biasanya karena penerimaan keluarga yang bisa dibilang keterlaluan itu.


Meski kenyataannya Sutama Praja telah memberikan lampu hijau, tapi pria itu sering kali harus mengalah atas pendapat istri dan ibunya.


"Makan apa sayang?" tanya Mamat setelah keduanya duduk santai di sebuah resto.


"Em.... bakso aja." kata Vita setelah membaca daftar menu yang ia terima.


"Nggak mau nasi aja? Tadi pagi cuma sarapan roti lho," tegur Mamat lembut.


"Nggak ah bakso aja," tolak Vita.


"Oke bakso tapi pakai nasi ya." Putus Mamat akhirnya.

__ADS_1


"Mana enak makan bakso sama nasi." Bibir Vita mengerucut, menolak permintaan Mamat.


"Ya atau tidak sama sekali," tegas Mamat tak menghiraukan penolakan Vita.


Kini dihadapan mereka tersaji nasi rames dan bakso dengan nasi putih sebagai pelengkapnya.


Vita hanya menggelengkan kepala, lalu mulai menyuap makanan di depannya, tak mau terlalu banyak mengeluh mengenai makanannya.


"Kamu masih kepikiran ucapan mami dan oma kemarin yang?" tanya Mamat hati-hati, menatap sang pacar yang duduk dihadapannya sambil menikmati semangkok bakso itu.


"Em..... " kata Vita mencari kata yang tepat agar tak menyinggung perasaan Mamat.


"Kan udah aku bilang nggak usah dipikirin," sahut Mamat pelan.


"Em.... ya aku kepikiran aja, gimana sih menjalin hubungan kalo salah satu pihak nggak ngasih restu itu kayak ada yang kurang."


"Ya mau bagaimana lagi, yang penting papi sudah setuju, tapi ya bisa juga sih kemarin setuju besok berubah, karena papi itu kan ISTI alias ikatan suami takut istri, kalo mami bilang nggak ya biasanya dia juga akan bilang nggak."


"Makanya kakiku berat buat melangkah Mat, kayak ada yang ngegondelin gitu lho."


"Ya cuekin aja kalo gitu!" celetuk Mamat cuek.


Mamat mendengus kesal mendengar Vita bernostalgia dengan mantan suaminya.


"Ceritanya lagi nostalgia nih?!" sindir Mamat pelan.


"Hahahaha.... nggak gitu, cuman ngasih contoh." Bibir Vita mengerucut.


"Buktinya hubunganku sama Vivian juga berantakan padahal kami direstui.... ck kenapa nama itu aku sebut lagi sih!" dengus Mamat kesal membuat Vita terkekeh geli.


"Ya intinya gini sayang, memang kalo pasangan kita brengsek mau di acc model kayak gimana tetap aja ya berantakan." sambung Mamat lagi.


Dan serta merta pernyataan Mamat tadi kembali membuat Vita tertawa renyah, mengganti kata restu menjadi acc karena males menyebut nama selingkuhan Vivian.


"Kenapa ketawa segitunya!?" tanya Mamat kesal.


"Ya kamu lucu sih, katanya udah move on tapi nyebut nama acc aja nggak mau," jawab Vita sengaja ikut mengganti nama restu menjadi acc.

__ADS_1


"Bukannya belum move on, cuman gedek aja!"


Vita menjulurkan lidah menanggapi pernyataan Mamat barusan. terkadang mereka bisa kekanakan seperti ini.


"Kamu belum move on juga nggak papa kok, cantik gitu orangnya," ucap Vita datar.


"Asal juga jangan cemburuan aja sama mantan aku," lirih Vita berucap maksud hati biar Mamat tak mendengar, tapi kenyataan suara tersebut masih cukup jelas ditangkap oleh telinga Mamat.


"Apa yang barusan kamu bilang?" tanya Mamat sengit.


"Nggak, nggak ada," jawab Vita mengulum senyum,


"Coba ulangi sekali lagi yang kenceng, aku mau denger!" tantang Mamat ketus, yang dijawab Vita dengan gelengan kepala sambil menahan senyum.


"Coba aja berani ketemu ama mantan kamu itu, aku karungin terus aku masukin kamar!" omel Mamat bikin gemas.


"Betewe Mat, mantan kamu ada berapa?" tanya Vita ingin tahu, catat ya hanya ingin tahu bukan yang cemburu seperti Mamat yang segala cinta monyetnya dicemburui semua.


"Nggak ingat!" jawab Mamat ketus.


"Pantes nggak bisa move on dari Vivian, ternyata cinta pertama dan pacar satu-satunya," gumam Vita.


"Udah belum makannya, buruan!" ketus Mamat kesal karena Vita terus-terusan meledeknya.


"Bentar ih, belum habis," gerutu Vita sambil terus menikmati bakso di depannya.


Selepas mereka makan, keduanya langsung masuk kembali ke dalam mobil, dan tanpa aba-aba Mamat langsung menyudutkan tubuh Vita ke kaca di samping, lalu mengungkit dagu Vita dengan gemas.


"Ayo sekali lagi bilang aku belum move on," ucap Mamat pelan sambil ibu jarinya mengusap bibir Vita lembut.


"Ti tidak," sahut Vita gelagapan sambil berusaha melepaskan diri dari Mamat.


Dengan gemas Mamat menyapukan bibirnya ke bibir Vita, ******* bibir atas dan bawah perempuan itu dengan lembut.


Vita menarik diri, merasa kehabisan nafas, Mamat masih mengecup singkat beberapa kali bibir yang jadi bengkak karena ulahnya.


"Kita lagi di parkiran Mat, kalo dilihat orang gimana?" cicit Vita dengan muka memerah.

__ADS_1


"Bodo! Emang gue pikirin!" jawab Mamat mengedikkan bahu sambil memutar kunci mobil dan kembali mengendarainya menuju Solo.


Dalam hidup terkadang perjalanan hidup tak semulus seperti yang kita harapkan, tinggal bagaimana kita menyikapi dan memperjuangkan semua, karena pada akhirnya semua itu akan indah pada waktunya.


__ADS_2