The Mantans

The Mantans
Bab 23 : Kemunculan Pacar Pertama


__ADS_3

Vita mengulas senyum senang, sejak kehadiran Mamat, pekerjaan Vita sedikit banyak terbantukan oleh cowok itu.


Vita tak lagi harus menempuh perjalanan jauh ke Solo untuk membeli bahan-bahan kafenya yang hanya tersedia di kota itu, karena tugas itu kembali diambil alih oleh Mamat.


"Makan dulu Mat." teriak Vita dari dalam dapur ketika melihat Mamat duduk di kursi setelah memasukan semua belanjaan ke dapur.


Vita keluar dari dapur membawa sepiring nasi goreng dan teh manis ke hadapan Mamat.


Mamat menatap makanan di hadapannya kemudian beralih menatap Vita yang sudah asyik menyendok nasi goreng.


Gimana hati Mamat tidak bergetar coba, melihat perempuan cantik tapi baik hati seperti ini, jaman sekarang pasti susah mencari perempuan punya spek kaya Vita gini.


"Ret! Sus! Kalo udah selesai masukin ke oven, kalian sarapan dulu." perintah Vita teriak ke dapur.


"Iya mbak." Itu suara Susi yang menyahut perintah Vita.


"Hari ini ada kerjaan nggak Mat?" tanya Vita kembali dengan suara pelan.


"Nggak sih mbak, kenapa?"


"Bisa bantu nganterin pesenan nggak? Hari ini lumayan banyak orderannya, kalo aku yang anter takut mereka keteteran."

__ADS_1


"Siap mbak, seharian ngebantu disini juga nggak papa kok, malah enak nggak kepanasan." jawab Mamat sambil sesekali menyendok nasi goreng di piringnya.


"Kalo kamu mau aku malah seneng Mat, kebetulan aku perlu orang buat anter delivery sih, sekalian kalo pas kamu nganggur bisa bantu aku di dapur." sahut Vita sumringah.


"Hari ini saya langsung kerja ya mbak?" tanya Mamat semangat.


Vita terkekeh melihat semangat kerja Mamat. "Iya sesiapnya kamu aja."


"Betewe Mat, uang komisi kamu kan masih saya pegang, mau saya kasih cash atau saya transfer aja?" sambung Vita.


"Mbak Vita pegang aja dulu deh, takut habis kalo sama saya." tolak Mamat sopan, padahal ya Mamat mana peduli dengan uang tersebut, bukan masalah nominalnya ya, tapi kan Mamat sebenarnya anak orang kaya, usahanya resort nya aja maju pesat, duit segitu tak ada artinya buat dia, disamping niat awalnya memang ingin membantu Vita.


Mata Vita melotot mendapati sesosok cowok jangkung berdiri di depan pintu.


"Maaf sudah buka belum ya?" tanya cowok tersebut sopan.


Vita berdiri dengan senyum kaku, melirik Mamat yang ikut menelisik cowok tersebut yang tampak tersenyum kikuk kepada Vita.


"Evan! Ngapain kamu kesini?" tanya Vita dengan suara yang tanpa sadar agak melengking, Vita kemudian menutup mulutnya cepat atas tindakan spontan tadi.


Aduh ini kenapa para lelaki dari masa lalu Vita kembali mengusik kehidupannya yang kepengin tenang.

__ADS_1


"Duduk Van." ajak Vita akhirnya setelah sadar akan kelakuan absurd nya tadi.


Evan menarik kursi yang terletak di belakang kursi yang di duduki Vita tadi.


Jadi di kafe Vita ini cuman ada empat set kursi yang tersedia di sana, masing-masing terdiri dari dua kursi dan satu meja, mengingat ruangan kafe tersebut terbilang cukup kecil, jadi untuk menempatkan tempat duduk yang banyak tidaklah cukup.


"Kamu apa kabar Vit?" tanya Evan lembut, matanya fokus menatap Vita yang entah kenapa terlihat begitu cantik dan menarik.


"Baik Van, kamu apa kabar?" balas Vita sopan.


"Aku sempet kaget waktu Rara cerita kamu buka usaha di sini, bukannya kamu merantau ke Jakarta setelah lulus kuliah?"


"Long story sih, aku cuman kepengen ganti suasana aja, kepengen mencoba hal baru." Vita memberi alasan yang logic aja sih, tak perlu mengumbar kalo dirinya kabur dari Jakarta karena masalah rumah tangga.


Jujur Vita tak begitu respect dengan Evan, kenangan buruk ketika mereka berpacaran dulu masih begitu membekas.


Lalu ada keperluan apa Evan sampai menyambangi dirinya seperti ini, tak mungkin Evan mengajaknya bernostalgia dengan Vita kan, bukankah Vita perempuan kuper nan jadul yang tak pantas menjadi pacar Evan.


"Arya mana Vit?" tanya Evan membuyarkan lamunannya.


Doeng..... Vita terdiam, lidahnya kelu, tak tahu harus menjawab apa.

__ADS_1


__ADS_2