The Mantans

The Mantans
Bab 65 : Melawan Restu


__ADS_3

Setelah hampir dua minggu jungkir balik, dan tak ada satupun perilakunya yang menarik perhatian Mamat, akhirnya dengan berat hati Vivian meminta bantuan keluarga Mamat untuk menaklukkan cowok tersebut.


Melihat respon oma dan mami Mamat yang masih begitu menyayanginya, kepercayaan dirinya melambung tinggi, pasti Mamat akan mendengar perintah mereka, apalagi kekasih Mamat sekarang adalah seorang janda yang tentu bukan menantu idaman untuk keluarga Sutama.


Senyum smirk Vivian muncul menghias bibir tipisnya, dia tak kan rela melihat Mamat bersanding dengan perempuan manapun, apalagi ketika dirinya mendengar Sutama corp akan segera diwariskan papinya kepada pria itu.


Mendengar hal itu tentu saja Vivian meninggalkan semua hal yang dulu jadi alasannya meninggalkan Mamat.


Walaupun ia tak mencintai pria itu lagi, tapi bisa hidup bergelimang harta tentu merupakan impian hampir setiap wanita kan, apapun, ya apapun akan Vivian lakukan.


Senyum semakin merekah di bibir Vivian, ketika ia melihat oma dan mami Vena berjalan beriringan keluar dari pintu keluar bandara.


Seperti biasa mereka bercipika cipiki, lalu ketiganya melanjutkan perjalanan menuju ke tempat Mamat.


Sementara di panorama resort, Mamat yang sedang jatuh cinta itu sengaja memberi tugas kepada Vita yang sekarang menjadi karyawannya itu, untuk memasakkan sesuatu untuk makan siangnya.


Dengan cemberut Vita mengiris bawang, Vita merasa pekerjaannya ini tidak sesuai dengan job desk, daripada mengawasi resto, Vita justru diberi pekerjaan aneh yaitu menemani Mamat makan. Ngeselin kan?


Mamat tersenyum geli melihat Vita yang sedang cemberut itu, sambil sengaja menetakkan pisau dengan talenan, sehingga menimbulkan bunyi kemlotak bikin ngilu yang mendengarnya.


Slep....


Tangan Mamat melingkar di pinggang ramping Vita, Mamat menggerakkan dagu Vita ke arahnya lalu mencuri sebuah ciuman manis dibibir perempuan itu yang sedang mengerucut kesal.


"Kenapa kesel?" tanya Mamat sok polos.

__ADS_1


"Gimana nggak kesel, aku tuh manager atau koki pribadi kamu sih?" ketus Vita tetap melanjutkan aktivitas memasaknya.


"Sebenarnya aku tuh maunya kamu jadi nyonya Mathew aja, nggak perlu repot-repot kerja," jawab Mamat masih setia menempel pada Vita.


Entah kenapa belakangan hari ini Mamat ketagihan menghirup aroma wangi tubuh Vita sudah menjadi candu bagi dirinya.


"Dih... nggak nyambung banget jawaban."


"Aku tuh kepengen kamu ngedampingin aku yang, terus barengan sama aku, tapi karena kita belum menikah, ya jalan satu-satunya kayak gini."


"Heran deh, padahal kita masih bisa ketemu setiap saat lho, alesan aja buat ngekang aku," sungut Vita lirih.


"Sejak kapan aku ngekang kamu yang?" tanya Mamat mengelak.


"Dih nggak nyadar!" sahut Vita lalu melepaskan diri, dia mau numis bumbu soalnya, dan gerakannya terbatas karena Mamat masih memeluknya dengan posesif.


Dengan malas Mamat berjalan ke arah pintu dan membukanya, seketika mata Mamat melebar ketika mendapati oma, mami dan Vivian berdiri di hadapannya.


"Boleh kami masuk?" tanya mami Vena lembut.


"Siapa yang?" tanya Vita keluar dari arah dapur.


Vita shock, otaknya langsung bekerja, dalam benaknya langsung bisa tahu siapa kedua perempuan sepuh itu.


Vita mengkeret melihat tatapan tajam terhunus padanya dari kedua orang perempuan itu.

__ADS_1


Akhirnya Mamat mempersilahkan ketiganya masuk, tak enak kan orang tuanya berkunjung tetapi tidak ia terima dengan baik, walaupun Mamat tahu apa yang akan mereka sampaikan kepadanya.


Setelah mempersilakan ketiganya duduk, Mamat menggamit lengan Vita dan memperkenalkan kekasihnya itu kepada oma dan maminya.


"Oma, mami perkenalkan ini Vita pacar aku."


Vita mengulurkan tangan hendak menjabat tangan mereka, tapi ketika melihat tangannya menggantung tak mendapatkan respon dari keduanya, akhirnya Vita menarik kembali tangannya.


"Duduk yang." Mamat mendudukkan Vita di sofa single di sebelah kanannya, sementara oma dan maminya duduk di sofa three seater di depannya, sedang Vivian duduk di sofa single di sebelah kiri.


"Jadi apa yang disampaikan Vivi benar Met, bahwa kamu sudah punya kekasih, dan dia seorang janda." Mami membuka percakapan dengan mata yang melirik sinis Vita yang duduk dengan menundukkan kepala.


"Kalo bener emang kenapa mi? Ada masalah dengan pilihanku?" tantang Mamat dengan suara dingin.


"Tentu saja masalah, kamu anak lelaki satu-satunya, penerus keluarga Sutama, oma tak rela kamu menjatuhkan pilihan seperti dia."


"Lalu pilihan mana yang tepat menurut oma? Seperti dia?" tanya Mamat dengan suara sinis sambil mengangkat dagu menunjuk Vivian.


"Ya paling tidak Vivian lebih baik daripada dia!" mami Vena menunjuk Vita dengan suara ketus dan tatapan merendahkan.


"Asal mami dan oma tahu ya, Vita meskipun janda tapi dia orang yang setia dan terhormat, tak pernah meninggalkan suaminya untuk berselingkuh dengan orang lain," bela Mamat dengan suara kesal.


"Pokoknya mami nggak setuju kamu pacaran sama dia!" tolak mami Vena dengan suara tinggi.


"Aku tak peduli mam, bahkan aku siap melawan restu dari keluarga." ucap Mamat membuat semua yang ada di dalam ruangan itu shock.

__ADS_1


"Mat," tegur Vita lembut.


"Aku ulangi ya mam, aku tetap akan menikah dengan Vita walau tanpa restu dari mami, oma bahkan papi sekalipun!"


__ADS_2