
Kini Mamat dan Vita duduk berhadapan di sofa single seater di sudut kamar hotel tempat Vita menginap, sengaja duduk berhadapan saling menyorot tajam.
"Kenapa menghindar?" ulang Mamat setelah pertanyaan yang sempat ia lontarkan tadi di dalam mobil tak mendapat jawaban apapun dari Vita.
"Dibilangin healing healing, masih nuduh menghindar, siapa yang menghindari siapa sih?!" ketus Vita tak merasa terintimidasi.
"Nggak bisa bilang sama aku aja, mau kamu..."
Belum sempat Mamat menyelesaikan kalimatnya, Vita langsung memotongnya cepat. "Aku mau kamu pergi dari hidupku!"
"Cckk bukan itu maksudku." Mamat merotasi matanya mendengar ucapan Vita yang tanpa dipikir dulu itu.
"Lha terus apa? Wong aku maunya itu," ketus Vita mencoba membalas tatapan Mamat dengan wajah tanpa ekspresi itu.
"Kamu bisa ngomong pengen kemana, mau healing kemana? Tinggal ngomong, nggak usah lari seperti ini, emang aku nggak tahu kalo kamu tuh lagi menghindar dari aku kan?!" Geraman Mamat terdengar tertahan.
"Orang aku maunya healing sendiri, istilah kerennya tuh solo travelling, ngapain mesti ngomong-ngomong ke kamu, tapi whatever lah terserah kamu mau ngomong apa nuduh apa," balas Vita malas beradu mulut.
"Sudah siap ngomongin perasaan kita?" tanya Mamat setelah keduanya tersiam cukup lama dengan pandangan Mamat tak lepas menatap Vita dengan tatapan lembut.
Vita menggusah nafasnya pelan, dia berpikir lebih baik dibicarakan sekarang, daripada menghindar dan mencoba kabur-kaburan,akhirnya sama saja, bisa diketemukan juga, entah pakai metode apa Mamat alias Mathew Alexandrio Praja ini hingga keberadaannya saja bisa terdeteksi secepat ini.
"Apa yang mau kamu omongin?" tanya Vita akhirnya.
"Tentang perasaanku, tentang perasaanmu, tentang perasaan kita." jawab Mamat santai.
"Nggak ada yang perlu dibicarakan sebenarnya, aku harap kamu mundur," saran Vita membuat Mamat mengeryitkan kening bingung.
Bukankah kemarin ketika identitasnya belum terbuka, Mamat merasakan kalau Vita juga tertarik dengan dirinya, lalu kenapa malah Vita meminta dia mundur.
"Kenapa?" tanya Mamat dingin.
"Karena aku nggak suka sama kamu!" sahut Vita ketus.
Mamat jelas tak percaya ucapan Vita, jelas-jelas kemarin perempuan itu menangis histeris ketika ia kecelakaan, dan berulang kali mengangguk ketika ia akui sebagai pacar, bagaimana bisa perasaannya tersebut berubah secepat itu hanya karena perbedaan status sosial.
"Serah sih kalo nggak percaya." sambung Vita tahu apa yang dipikirkan oleh Mamat.
"Ya udah kalo gitu ntar aku tinggal sakit aja lagi, biar kamu histeris kaya kemarin."
"Ya udah terserah, bukan urusanku juga, mau kamu sakit mau kamu ngapain kan bukan urusanku," ucap Vita enteng.
"Oke kalo gitu," ucap Mamat sambil mencari handel jendela.
__ADS_1
"Mau ngapain?" Reflek mata Vita melotot.
"Suka-suka aku mau ngapain," jawab Mamat enteng.
"Yah emang bukan urusan aku." Vita mengedikkan bahu cuek.
"Oke kalo gitu." Mamat berdiri dan ingin berlalu dari sana.
Ketika pria itu mau berdiri, buru-buru Vita mencengkeram pergelangan tangan Mamat yang tidak sakit.
"Apaan sih Mat? Nggak lucu tahu!"
"Biarin kamu puas," sahut Mamat lalu kembali duduk.
"Kamu mau ngomong apa sih emang?" suara Vita mulai melunak.
Mamat membalas tatapan Vita, ada keraguan disana, lebih tepatnya ketakutan.
"Jangan lari, apapun yang terjadi," jawab Mamat mantap dengan tangan yang meraih tangan Vita lalu menggenggamnya lembut.
"Kalo kamu jahatin aku masak aku harus diam saja?" tanya Vita melengos.
"Bukan itu maksud aku, aelah." Mamat merotasi matanya.
"Kita hadapi bersama, ketakutan kamu, ketakutan aku, jangan menyerah, hmm," pinta Mamat menatap lembut tepat di manik mata Vita yang beiris agak coklat itu.
"Kamu tahu nggak Mat, bahwa kita tuh berbeda dalam segala hal, status aku, background keluarga aku, status sosial kita, semua tuh jauh berbeda, aku punya begitu banyak luka sejak dulu karena perbedaan status sosial, anggaplah kamu terima aku apa adanya, but your family.... belum tentu kan, jadi berhenti mulai sekarang sebelum perasaanmu dan perasaanku bertumbuh subur."
"Aku tak peduli dengan semua yang kamu ucapkan itu sayang." Mamat menyentil kening Vita gemas.
"Tapi tetap saja tak mudah Mat, dan aku tak mau terluka lagi, biarkan aku hidup seperti sekarang, rasanya bebas."
"Untuk kembali dengan mantan kamu bernama Evan itu, oh atau mau balikan sama Raka?" tuduh Mamat dengan ketus.
"No! Buat apa aku balikan sama mereka, kalo dulu mereka tuh yang ninggalin aku juga karena perbedaan status sosial itu," jawab Vita tegas.
"Tak bisakah kamu pikirin lagi perasaan kita Vit?" tanya Mamat memelas.
Vita Memelototkan mata kaget dengan panggilan Mamat yang langsung memanggil nama tanpa embel-embel mbak lagi.
"Sekarang udah berani panggil nama? Hey... umur kamu kan lebih muda dua tahun dari aku!"
"Cuman dua tahun nggak masalah aku rasa." ucap Mamat sambil terkekeh.
__ADS_1
"Jadi, tetep mau ya?" sambung Mamat lagi.
Vita menggeleng tak menyetujui permintaan Mamat.
"Aku tak peduli, jangan harap aku menjauh, apalagi ninggalin kamu, sekarang aku cuman mau kamu, titik!" ujar Mamat tanpa bisa dibantah.
"Kenapa sih semua cowok sama, sama-sama suka memaksakan kehendak, suka ngatur ini ngatur ono," ucap Vita lirih sambil menundukkan kepala, sengaja memelankan suara agar tak terdengar oleh Mamat.
"Buruan kemasin barang kamu, kita check out sekarang," perintah Mamat dengan bossy.
"Tapi kan aku udah bayar buat tiga hari Mat," tolak Vita dengan suara halus.
"Oh jadi kamu mau ngehindarin aku selama tiga hari?" tanya Mamat yang dijawab dengan senyum lebar Vita merasa keceplosan.
'Yah ketauan'
"Nanti aku ganti uang kamu, buruan beresin barang kamu, atau aku yang akan beresin," ucap Mamat lalu bangkit berdiri siap memasukan baju Vita dengan satu tangannya yang tidak terluka.
"Eh, eh, iya aku beresin." Vita melonjak kaget lalu secepat kilat bangkit dan memasukan semua barang bawaannya ke dalam tas ranselnya.
"Tapi jajan dulu yak sebelum pulang," pinta Vita dengan mata ketap-ketip merayu Mamat.
"Iya, mau makan apa lagi?" tanya Mamat gemes.
"Aku pengen bakso pakmin, timlo, serabi...."
"Astaga, nggak kenyang apa semua dimakan?" tanya Mamat sambil menggelengkan kepala bingung dengan nap*u makan Vita yang luar biasa banyak padahal badannya terbilang mungil.
"Nggak!" jawab Vita.
Setelah semuanya beres, Mamat menggandeng tangan Vita menuju resepsionis untuk check out.
"Harus gandengan tangan ya?" tanya Vita jengah menatap tangannya yang berada dalam genggaman Mamat.
Mamat tak menanggapi pertanyaan Vita dan terus menggandeng tangan perempuan itu menuju lobby menunggu supir mereka.
"Truk gandengan aja kalah!" cibir Vita kesal.
Mamat terkekeh mendengar ledekan Vita yang terdengar cringe, mereka berjalan dengan mesra, sampai seseorang memanggil Vita.
"Vita!"
Panggilan itu membuat Vita menoleh dan seketika mata Vita terpaku menatap seseorang yang juga menatapnya dengan pandangan bingung.
__ADS_1