
Hari ini seperti yang telah direncanakan, Mamat dan keluarga akan berkunjung ke rumah Vita untuk berkenalan dengan keluarga Vita.
Sejak pagi kediaman orang tua Vita sudah terlihat adanya kesibukan, walaupun ini hanya pengenalan kedua keluarga, tapi mereka tidak sembarangan menyambut tamu mereka.
"Bude Nani dari tadi sibuk mondar-mandir aja, kayaknya mau ada acara ya bude?" tanya bulek Har tetangga tepat sebelah rumah ibu Vita mulai kepo dengan kesibukan mereka.
"Mau ada tamu dari Jakarta dek," jawab ibu langsung bergegas masuk ke dalam rumah, malas meladeni pertanyaan tetangga yang terkenal kepo itu, yang apabila dijawab akan semakin ingin tahu dan berita itu akan semakin memyebar di kampung tersebut.
Bulek Har yang melihat Nani bergegas masuk kedalam rumah mencibir kesal, niatnya mengulik cerita dari Nani tak membuahkan hasil.
Tak berapa lama mobil yang dikendarai Mamat untuk mengantar Vita tiba di rumah sang ibu.
Bulek Har yang sudah masuk ke dalam rumahnya kembali melongokan kepala melihat kedatangan Vita dan Mamat.
Beberapa kepalapun ikut melongok keluar rumah mendengar mobil berhenti di depan rumah tetangga mereka, jiwa kepo mereka meronta, apalagi mereka tahu Vita belum lama bercerai dari Arya dan sekarang sudah membawa gandengan baru.
Prasangka buruk langsung memenuhi otak mereka, bahwa Vita diceraikan oleh Arya karena selingkuh dengan Mamat.
Kenyataan bahwa Arya telah lebih dulu menikah seakan menutup mata mereka akan siapa yang salah dan siapa yang benar, pokoknya di mata mereka ada bahan untuk berghibah.
"Mau lamaran Vit?" tegur bulek Ning menyapa Vita yang mau melangkah memasuki kediaman ibunya.
Vita tersenyum tak memberi jawaban pasti, melambaikan tangan kepada Mamat saat kekasihnya itu melajukan mobilnya keluar dari gang tempat tinggal Vita.
Bulek Har sudah berada di rumah bulek Ning, suaranya terdengar kencang," Hebat si Vita, ngelepas Arya dapet cowok tajir melintir kaya gitu ya."
"Ho oh, kok bisa ya, aji-ajinya apa ya?"
"Hush... jangan kenceng-kenceng bicaranya."
Dan entah dikomandoi oleh siapa, kumpulan orang yang awalnya cuma ada dua itu sekarang bertambah menjadi beberapa orang, Vita hanya menggelengkan kepala, takjub akan tingkah emak-emak disini.
"Kamu ngapain disitu nduk? Metiu udah balik?" tegur ibu melihat Vita mengintip keluar lewat celah di jendela.
"Lagi liatin orang lagi ngeghibahin Vita, lucu," Kekeh Vita.
"Metiu udah balik?" tanya ibu lagi.
"Iya langsung balik bu, mau jemput papinya katanya," jawab Vita masih tetap mengitip tetangganya yang masih asyik berghibah itu.
__ADS_1
"Udah nggak usah didengerin, ayo bantu ibu di dalem, mbak Gina sama mbak Laras agak siangan datengnya," ajak ibu menggandeng tangan Vita menuju dapur.
"Ibu mau masak apa emang?" tanya Vita melihat bahan makanan yang bertumpuk di sudut dapur.
"Mau masak capcay, mi goreng, ayam goreng mentega, sapi pada hitam, sama gurame saos padang."
"Banyak amat bu, yang datang palingan cuman dua tiga orang lho," sahut Vita geleng-geleng kepala.
"Biarin nduk, menjamu tamu itu wajib hukumnya apalagi ini calon besan." Senyum ibu merekah membayangkan anak perempuannya kembali akan membina rumah tangga.
"Vita bantu apa nih bu?" tanya Vita bingung mau mengerjakan yang mana.
"Kamu bikin snack aja sana, bikin sosis solo atau goreng kacang mede juga nggak papa nduk."
Mereka mulai mengaduk bahan makanan di depan mereka masing-masing, hingga beberapa waktu kemudian suara seseorang terdengar dari depan.
"Ibu, Vita!" suara cempreng Laras terdengar sampai ke dalam dapur.
"Astaga mbak, suaramu itu lho!" tegur Vita sambil menggelengkan kepala.
"Wah sudah mulai pada tempur ya?" suara Gina terdengar di belakang Laras.
Laras dan Gina melakukan hal yang sama kepada ibu, keempatnya lalu mulai memasak makanan yang akan dihidangkan kepada keluarga Mamat.
"Emang hari ini acaranya gimana sih dek?" tanya Gina sambil mengaduk ayam di penggorengan.
"Ya kenalan antar keluarga dulu mbak, sebenarnya sih Mamat udah ngelamar aku beberapa minggu yang lalu sih, nih cincinnya aku pakai," jawab Vita sambil menunjukkan jari manisnya yang telah tersemat cincin pertunangan dengan berlian itu.
"Widih, ini berapa puluh juta harganya dek?" tanya Gina meneliti cincin di jari manis Vita, Vita hanya mengedikkan bahu tak peduli.
"Nduk, pacarmu kan namanya Metiu, kamu tuh ndak sopan manggil Mamat Mamat mulu," tegur ibu lembut.
"Salah sendiri kenapa dulu memperkenalkan diri dengan nama Mamat."
"Ibu itu namanya dia Mathew, bukan Metiu," ledek Laras.
"Angel namanya nduk, dah biarin aja yang penting ndak kayak adikmu manggil Mamat Mamat, apaan tuh!"
Keempatnya meledakkan tawa bersama, hal yang begitu dirindukan oleh Vita, dulu dia terlalu banyak menangis dan bersedih dan sekarang seakan Tuhan menggantikan hari-harinya dulu dengan sukacita dan kebahagiaan.
__ADS_1
Waktu berlalu begitu cepat, keluarga mereka akhirnya berkumpul di rumah itu semua rasanya tak sabar menunggu kedatangan Mamat dan keluarganya.
"Nggak sabar ya tan?" ledek Ines waktu mereka hanya berdua di dalam kamar Vita.
"Aku sih masih kayak mimpi lho Nes, kabur dari Jakarta buka usaha disini, terus direcokin sama mantan dan para istri, ketemu Mamat, sampai bisa seperti ini," terang Vita sambil meloloskan make up ke wajahnya.
"Jadi ini tante mau langsung dilamar gitu ya?"
"Ini lebih ke pengenalan keluarga dulu sih, aku belum mau dilamar secara formal selama oma dan maminya belum setuju."
Ucapan Vita tadi membuat Ines shock."Jadi tante belum direstui?" suara Ines berubah menjadi bisikan karena takut terdengar oleh keluarganya terutama eyang Utinya.
"Papinya sih udah oke, tapi ya itu mami dan omanya belum setuju."
"Kok tante nekat?" tanya Ines bingung.
"Ya Mamat maksa, katanya lebih baik mati kalo nggak jadi suaminya tante," ucap Vita cuek.
"Tante!" teriak Ines frustasi.
"Apa sih Nes?" tanya Vita kaget.
"Tante kok mau dipaksa? Nggak kapok sama hubungan tante yang sebelumnya?" tanya Ines.
"Tenanglah Nes, kalo takdir nggak akan kemana, ikuti aja alurnya."
"Astaga tanteku!" sahut Ines geleng kepala.
Suara ketukan pintu kamarnya terdengar memutus obrolan Vita dan Ines, mbak Laras memanggilnya dari depan pintu."Vit, tamunya udah dateng."
"Iya mbak," sahut Vita lalu berjalan bergandengan dengan Ines keluar dari kamar.
Vita menggandeng tangan ibu yang kebetulan keluar dari kamar, jadi tadi yang ada di depan menyambut Mamat dan keluarganya adalah Erwin dan Gina yang didampingi oleh suaminya.
Vita mencium punggung tangan Sutama Praja, lalu beralih cipika dan cipiki dengan Mamat dan Maureen, agak shock juga karena calon kakak ipar Vita ikut ke rumahnya, tak lupa Vita bersalaman dengan Henry yang mendampingi Sutama.
"Om kenalin ini ibu Vita," Vita memperkenalkan sang ibu yang terbengong melihat Sutama berdiri di hadapannya.
"Nani," panggil Sutama shock melihat ibu Vita di depannya.
__ADS_1