
"Yang," panggil Mamat lagi tak sabar menunggu Vita yang masih asyik berkutat dengan pekerjaannya.
"Bentar Hun," sahut Vita.
Sejak pertemuan keluarga mereka beberapa hari lalu, Vita resmi memanggil Mamat dengan panggilan Hunhun alias honey sebagai panggilan kesayangan.
Mamat berdecak pelan, daritadi bentar mulu sahutan yang diberikan oleh Vita, padahal mereka hari ini harus ke penjahit untuk ukur baju, dan beli beberapa printilan untuk pertunangan mereka.
Ya meskipun Maureen sudah menyediakan diri untuk membantu Mamat mencari segala printilan untuk acara pertunangan adiknya, tetap saja ada beberapa yang harus diurus sendiri oleh calon pengantin, baju dan cincin contohnya.
"Ayok Hun," ajak Vita akhirnya.
Masih dengan bibir mengerucut, Mamat membuntuti Vita yang berjalan keluar dari kafe menuju ke mobil Mamat yang terparkir tak jauh dari sana.
"Aku tuh heran deh yang, ada ya cewek mau tunangan nyantainya ajubileh kaya kamu," sindir Mamat ketika keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Ya kan kak Maureen udah nyanggupin buat beli seserahan," kata Vita sambil tersenyum lebar, dia bukannya tak mau memikirkan acaranya hanya saja dia lebih percaya sama selera calon kakak iparnya daripada diri sendiri.
"Ish... Tapi kan belum tentu selera Maureen sama dengan selera kamu" Mamat melirik gemas sambil tangannya mengacak rambut Vita.
"Aku percaya sama dia Hun, seperti cincin, sebenarnya aku tuh lebih suka yang sederhana aja, cincin dari kamu aja terlalu wah untuk aku, kalo nggak takut marah udah aku jual buat tambah modal buka cabang kafeku," kata Vita sambil terkekeh.
Bayangkan saja, cincin berlian yang dikasih oleh Mamat ini ternyata harganya menyentuh angka seratus juta, dan karena ketidaktahuannya, cincin itu tak pernah Vita lepas meski sedang mencuci baju, mengupas bawang dan pekerjaan berat lainnya.
Dan sekarang entah buat apa lagi mereka memesan cincin lain selain yang dipakai Vita sekarang, tak perlu buang-buang uang dengan membeli dua cincin, cukup cincin untuk Mamat saja karena memang pria itu belum ada pengikatnya.
"Hun....," panggil Vita pelan membuat Mamat menoleh sebentar ke arahnya lalu kembali fokus menyetir.
"Aku mau cerita sesuatu tapi kamu jangan kaget ya."
Mamat menginjak rem dengan tiba-tiba, untung saja berbarengan dengan lampu lalu lintas di depan sana yang berubah merah.
"Jangan bikin cemas dong yang," ucap Mamat panik.
"Dih apaan sih, nggak jelas banget deh ih." Vita merotasi kedua matanya gemas.
"Ya kan kalo bicara kaget-kaget gitu, bikin nethink aja deh." Mamat kembali melajukan mobilnya setelah lampu di depan sana berubah menjadi hijau.
"Ini tentang papi kamu," lanjut Vita.
"Kenapa dengan papiku, dia selingkuh?" tanya Mamat kepo.
__ADS_1
"Tapi beneran ya jangan kepikiran lho," bujuk Vita.
"Iya iya," jawab Mamat.
"Kamu ngerasa nggak sih kalo papi kamu sama ibu aku kaya ada sesuatu gitu dulu pas masa mudanya?" Vita mulai mengeluarkan unek-unek nya.
Mamat mengedikkan bahu tak peduli.
"Kok cuman gitu tanggapannya?" tanya Vita aneh.
"Ya mau gimana yang? Lagian itu kan masa lalu, belum tentu juga seperti yang kita pikirkan kan?"
"Ya ya kan aku penasaran plus kepikiran Hun."
"Udah nggak usah mikir macem-macem, lagian kenapa nggak tanya ke ibu langsung tentang hal itu?"
"Aku nggak berani." Vita nyengir, memperlihatkan barusan gigi putihnya.
"Nah apalagi kamu nggak berani nanya, udah nggak usah mikir aneh-aneh." Mamat mencondongkan badannya sedikit ke kiri dan mengecup pelipis Vita dengan lembut.
Dengan gerakan mendramatisir, Vita mengerucutkan bibirnya seolah-olah dia keberatan dengan kelakuan Mamat yang tak pernah melihat tempat ketika ingin menciumnya.
Tak berapa lama mobil Mamat berhenti di sebuah butik, Vita menatap Mamat bingung, kenapa berhenti disini, kan rencananya mereka akan memesan cincin.
"Mau pesen baju buat tunangan besok, ayok turun," ajak Mamat lalu turun dari dalam mobilnya.
Vita mendesah kasar padahal dia sudah beli kebaya dengan harga yang lumayan mahal, tapi tetap saja akhirnya tak terpakai juga.
Kaca di sebelah kiri diketuk, membuat Vita mau tak mau turun dari mobil.
"Padahal aku sudah beli kebaya lho Hun, ngapain beli lagi sih!" gerutu Vita kesal karena Mamat pasti memaksanya untuk membuat kebaya yang lain.
"Kan biar seragam sama baju batikku," sahut Mamat sambil menggandeng tangan Vita mesra.
"Hallo tante Harum, maaf ya aku terlambat," sapa Mamat menjabat tangan perempuan paruh baya yang terlihat masih cantik itu.
"Ndak papa Mat, ini calon istri kamu?" tanya Harum
"Vita tante." Vita memperkenalkan dirinya dan menjabat tangan Harum, tanpa disangka Harum mencium pipi kiri dan kanan Vita.
"Ayo duduk sini," ajak Harum kepada keduanya untuk duduk di sofa yang berada di sudut ruangan.
__ADS_1
"Pantesan Mathew klepek-klepek, kamu cantik banget nak," puji Harum membuat Vita tersipu malu karena dirinya dipuji cantik, padahal ia hanya dandan alakadarnya, baju juga bukan yang heboh-heboh gimana gitu, ya meskipun sejak dirinya menerima lamaran Mamat, sedikit demi sedikit Vita merubah penampilannya agar tak kebanting kalau sedang mendampingi Mamat.
"Seperti yang saya kemarin udah sampaikan ya tan, saya pesan tiga stel couplean sama Vita, satu buat acara tunangan, yang dua buat persediaan kalo ada undangan dadakan dari rekan," ucap Mamat setelah ketiganya duduk.
"Em oke, ada catatan khusus nggak Mat?" tanya Harum.
"Kamu ada permintaan khusus nggak yang?" tanya Mamat mengalihkan pandangan ke Vita.
"Saya sebenernya kepengen tunangan tuh pakai warna pink," jawab Vita sambil tersenyum lebar.
Mata Mamat membulat tak percaya atas permintaan Vita." Masak aku pakai pink sih yang, biru muda aja ya?" rayu Mamat.
"Padahal aku pengen pakai pink," sahut Vita sambil mengerucutkan bibir.
"Gini aja deh, tante akan buatkan dua stel baju warna pink dan biru muda, dua-duanya bisa kok dipakai pas acara tunangan kalian nanti," potong Harum.
"Eh nggak usah tan, biru muda aja nggak papa," sahut Vita menolak saran dari Harum tadi.
"Iya tan nggak papa, nanti kita lihat mana yang cocok kita pakai pas tunangan," ucap Mamat, yang lagi-lagi membuat Vita ingin mengelus dada karena Mamat mengeluarkan uang tanpa berfikir dua kali.
"Oke kalo gitu, kita ukur dulu ya."
Selesai dengan urusan memesan baju, kini Mamat mengarahkan mobilnya menuju ke mall terbesar di kota itu.
Mamat memarkirkan mobilnya dan menggiring langkah Vita menuju ke sebuah toko perhiasan yang ada di sudut mall tersebut.
Vita menghentikan langkah membuat Mamat yang berjalan di depannya menoleh ke belakang.
"Kenapa?" tanya Mamat lembut.
"Mau ngapain kesini?" tanya Vita sambil mendongakkan kepalanya karena tinggi mereka yang tak sama.
"Kan mau pesen cincin," jawab Mamat lembut.
"Ini apa?" tanya Vita mengangkat jari manis tangan kirinya yang memakai cincin berlian bermata besar itu.
"Itu kan cincin lamaran, cincin yang buat aku kan belum ada, atau kamu rela kalo aku nggak usah pakai cincin setelah kita tunangan dan menikah,aku jelas nggak keberatan lho yang," goda Mamat sambil nyengir.
"Ish." Akhirnya Vita mengalah dan mengikuti Mamat masuk ke tempat tersebut.
"Hai bos, mana contoh cincinnya," sapa Mamat kepada seseorang yang Vita yakin itu pemilik butik perhiasan tersebut.
__ADS_1
Dan benar saja dugaan Vita bahwa Mamat menyiapkan cincin yang lain buat dirinya, Vita menghembuskan nafas lelah.
'Aku terkadang lupa siapa calon suamiku'