
Sudah empat hari Vita di Bali menemani Mamat, dan hari ini adalah puncak kebosanannya mengikuti kemana calon suaminya itu pergi buat meninjau proyek resortnya disini.
Sejak Henry tiba disini dua hari setelah kedatangan Vita dan Mamat di Bali, Vita bisa sedikit bernafas lega untuk membiarkan Mamat menyelesaikan pekerjaannya tanpa Vita dampingi, toh sudah ada Henry pasti si Ina tak mungkin bertindak jauh, begitu pikir Vita.
Dan sekarang setelah kepergian Mamat sejak beberapa jam lalu, Vita yang tak tahu mau melakukan apa, akhirnya meminta sopir yang disiapkan untuk mengantar dirinya menjelajah alam Bali.
Vita : Hun aku sama pak Tono jalan keluar dulu ya.
Tak lama jawaban dari Mamat masuk ke ponselnya.
Mamat : Oke, selalu update posisi.
Huh Vita tampak kesal, tapi mau tidak mau dia menjawab juga dengan kata 'oke' dan menyalakan share location live daripada nantinya bikin dia ribet karena tunangannya yang belibet hanya karena tak mengiyakan permintaannya.
Menggunakan dress putih motif flora semata kaki tak lupa kacamata dan topi sebagai pelindung kepala, Vita siap menjelajah pulau ini.
"Siang bu, mau diantar kemana bu?" tanya pak Tono sopan ketika Vita sudah berada di dalam mobil.
"Antar saya makan nasi campur yang paling enak dong pak, lalu ke pusat oleh-oleh, saya bingung mau kemana soalnya, Bali banyak berubah dari terakhir kali saya kesini," jawab Vita tak kalah sopan.
"Baik bu."
Lalu mobil yang dikendarai oleh pak Tono pun membelah jalanan Bali yang terlihat lebih ramai sekarang.
Tak lama mobil berhenti di sebuah warung sederhana yang terlihat ramai di jejali oleh banyak pengunjung yang mengantri untuk makan disana.
"Halal kan pak?" tanya Vita sebelum turun.
"Halal bu."
"Ayo pak temani saya makan," ajak Vita gegas turun dari mobil.
"Eh nggak usah bu," tolak pak Tono sambil menggoyangkan tangan untuk menolak.
"Ayo pak, saya nggak enak makan sendirian," paksa Vita membuat Tono tak bisa menolak lagi.
__ADS_1
Tono berjalan di belakang Vita sengaja mengambil jarak, paham dong bawahan yang tak pernah mendapat apresiasi dengan diajak makan satu meja, jadi rasanya.... seperti dihargai.
Ketika tiba gilirannya Vita kalap mengambil berbagai penganan yang ada di hadapannya, Vita dan makanan kan ibarat dua sisi mata uang kan, jadi tak heran kalau dia akan mengambil semuanya yang menggugah seleranya.
Sesampainya mereka di meja makan, Tono kembali menjaga jarak dengan Vita yang terlihat cuek menyantap semua makanan yang ada di depannya, sesekali pria paruh baya tersebut melirik perempuan cantik itu.
"Bapak mau sate lilit lagi nggak?" tanya Vita sambil menyodorkan piring berisi beberapa sate lilit tersebut.
Dengan menghela nafas Tono mengambil satu tusuk sate yang berada di piring, dalam hati berujar, 'Ngapain tadi pesen lauk segini banyaknya sih kalo tetap aku yang ngabisin!'
"Bapak bekerja sama pak Mathew udah berapa tahun pak?" tanya Vita memulai percakapan ketika keduanya sudah berada di dalam mobil selesai mereka menikmati nasi Bali.
"Sudah dari pak Mathew masuk ke Sutama corp kurang lebih sepuluh tahun lebih bu," jawab Tono sedikit menengokan kepala ke belakang meski matanya tetap terfokus pada lalu lintas di depannya.
"Gimana pak Mathew pak? Apakah dia galak? Sangar? Atau malah dia terlalu baik?" tanya Vita kepo, karena hampir semua karyawan Mamat di resort berpendapat bahwa cowok itu galak dan intimidatif.
"Masak saya harus kasih pendapat tentang pak bos bu, saya nggak berani," jawab Tono mencoba menghindar.
"Ya nggak papa, kan aku nggak bakalan aduin pak," goda Vita sambil nyengir.
Vita melangkah pelan, menyusuri satu-persatu rak yang berada disana sambil mengingat siapa saja yang akan diberinya oleh-oleh.
Sedang tangannya sibuk memilih kain lilit khas Bali, seseorang dengan riangnya menyapa Vita.
"Vita..."
Vita menoleh detik itu juga matanya mendelik melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
Bima dan Gebi bergandengan mesra dengan troli yang telah terisi penuh dengan barang belanjaan mereka.
Melihat mereka, langsung saja semangat Vita yang menggebu sejak awal memasuki toko ini, menjadi jatuh berantakan kaya kaca yang jatuh membentur lantai.... pyar hancur berkeping-keping.
Gebi memandang Vita dengan tak bersahabat, siapa pula yang suka melihat suaminya bertemu dengan mantan terindahnya yang sampai sekarang masih memenuhi hampir seluruh ruangan dalam hati si suami.
"Eh Bim, apa kabar?" sapa Vita menjabat tangan Bima dan istrinya.
__ADS_1
"Baik Vit, kamu apa kabar, ngapain kesini, sama siapa?" tanya Bima berentetan tanpa jeda membuat wajah Gebi masam.
"Lagi nemenin tunangan gue kerja," jawab Vita sopan karena dia tak mungkin melontarkan kata-kata pedas tanpa sebab kan.
Bima yang mendengar perkataan Vita barusan hanya bisa terkekeh, dalam hati pasti mengira Vita hanya mengarang cerita.
"Ya udah Bim, aku kesana dulu ya, mari mbak," pamit Vita ingin segera berlalu dari hadapan kedua pasutri gaje tersebut.
Dan ketika Vita sedang asyik memilih barang yang lain, dengan sengaja Bima mendekati dirinya, akhirnya karena tak tahan dengan kelakuan mantan pacar reseknya, Vita memutuskan mengakhiri kegiatan belanjanya, dan berlalu dari sana setelah membayar belanjaannya yang tak seberapa itu.
"Lho bu nggak jadi belanja?" tanya pak Tono ketika memasukan belanjaan Vita yang tak seberapa itu ke bagasi mobil.
"Nanti saja pak, saya minta anterin Mathew aja," jawab Vita langsung masuk ke dalam mobil.
Tono terbengong, mana pernah Mathew keliling ke tempat seperti ini, kalau hari-harinya saja hanya dihabiskan di tempat proyek.
"Habis ini mau kemana lagi bu?" tanya Tono sopan setelah berada di belakang kemudi.
"Tiba-tiba kok saya pengen ngopi ya pak," gumam Vita pelan tapi masih terdengar jelas oleh Tono.
"Ibu ingin ngopi dimana? Di kopi shop atau di warung pinggir pantai?"
"Yang coffee shop tapi yang pinggir pantai pak."
"Siap bu." Lalu mobil meluncur ke tempat yang di maksud Vita.
Vita memasuki tempat itu dengan wajah berbinar, coffee shop yang cozy karena menghadap pantai dan tentu saja dengan menyajikan makanan yang menggugah selera sebagai pendamping kopi.
Setelah memesan secangkir kopi dan sebuah croissant, Vita melangkah menuju ke kursi yang ada di bagian luar kafe yang menghadap laut.
Dan langkahnya terhenti ketika sebuah pemandangan membuat hatinya serta merta meradang, rasanya ia ingin melempar gelas dan piring di tangannya.
Disana Mamat duduk berdua dengan Ina, masing-masing menghadap laptop, dan yang membuat Vita emosi adalah Ina yang saat ini memakai rok jeans setengah paha itu duduk menempel pada Mamat.
"Ehem ehem," sapa Vita membuat Mamat dan Ina mendongak dan kaget.
__ADS_1
"Yang," panggil Mamat ketika melihat Vita berbalik dan pergi dari hadapannya.