The Mantans

The Mantans
Bab 87 : Obrolan ibu, Vita dan Mamat


__ADS_3

Waktu terasa begitu cepat berlalu, dua minggu lagi acara pernikahan Mamat dan Vita akan segera dilaksanakan.


"Yang jangan lupa nanti kita fitting baju pengantin," suara bariton dari ujung sana menginterupsi pekerjaan Vita yang sedang menempelkan stiker nama pada undangan pernikahannya.


"Oke Hun, jam berapa kita jalan?" tanya Vita.


"Agak siangan aku jalan dari sininya, nanti aku kabari ya."


"Lagi sibuk?" tanya Vita memastikan.


"Iya, venue yang akan dipakai klien menikah besok ada yang miss, makanya harus turun tangan langsung, soalnya customer VVIP ini."


"Ya kalo kamu sibuk mending dipending dulu Hun fittingnya," saran Vita lembut.


"Cckk ya nggak bisalah, masak dipending mulu sih?" Suara bariton diujung sana terdengar mengomel.


Vita tertawa renyah."Nggak pantes ngomel."


Setelah berbasa-basi sebentar, sambungan telepon mereka akhirnya terputus karena kesibukan Mamat dan Vita yang masih harus mempersiapkan undangan dan juga souvenir untuk pernikahannya.


Sempat shock melihat souvenir yang tiba beberapa hari yang lalu, yang sekarang tersusun rapi di atas meja tamu rumah ibunya, sebuah handuk lembut dengan ukiran namanya dan Mathew yang harganya Vita taksir diatas seratus lima puluh ribu perbijinya.


Untung undangan yang mereka sebar tak lebih dari dua ratus orang, jadi budget yang dikeluarkan untuk pernikahannya tak begitu membengkak, meski itu bukan uang Vita, tetap saja Vita merasa sayang, apalagi melihat kerja keras Mamat akhir-akhir ini yang sering tak mengenal waktu itu.


"Hah.... akhirnya selesai juga," desah Vita lega.


"Nduk makan siang dulu," tegur ibu dengan membawa mangkuk sayur berisi sup iga yang masih mengepul mengeluarkan asap.


"Nanti bu tunggu Mathew dulu," tolak Vita seraya bangkit berdiri dan menepiskan kotoran yang menempel di belakang celana pendeknya.


"Metiu mau kemari?" tanya ibu sambil duduk di sebelah Vita.


"Iya mau ngepas baju pengantin, tinggal dua minggu lagi kan acaranya," jawab Vita.


"Ibu nggak nyangka jodohmu ternyata sedeket ini nduk, setelah perpisahan kamu itu, ibu sempat berfikir bahwa kamu akan trauma dan hidup menyendiri."


"Vita nggak nyangka juga bu, rasanya Vita tuh disayang banget sama Tuhan, bayangin aja dapet calon kayak Mathew yang statusnya tuh beda banget sama kita."

__ADS_1


"Ibu berdoa untuk kebahagiaanmu nduk, semoga langgeng, punya anak-anak yang pinter dan cakep, bahagia sampai maut memisahkan."


"Amin makasih ibu," ucap Vita tulus sambil menghambur kepelukan sang ibu.


"Ibu nggak papa kan kalo nggak bisa ngundang tetangga kanan kiri? Soalnya tempat duduknya terbatas, buat keluarga dan kolega Mathew aja kurang."


"Ndak papa, nanti ibu kasih bingkisan kayak waktu kamu tunangan dulu."


"Kesannya kita sombong nggak sih bu? Atau kita adain syukuran kecil-kecilan buat tetangga sehabis Vita bulan madu nanti."


"Wis ndak usah, ntar malah jadi repot segala-galanya, kamu tenang saja."


"Aku tuh kasihan sama ibu, diomongin tetangga yang katanya ibu sekarang sombonglah, nggak mau berbagi kebahagiaanlah, dapet mantu sultan yang nggak level sama orang kampunglah, tahuk apalagi yang diomongin mereka," gerutu Vita dengan bibir manyun.


"Biarin ajalah yang penting maksud kita ndak begitu," hibur ibu lembut.


"Ibu nggak kepingin pindah dari sini ya, ikut Vita atau mas Erwin kan enak, ada temennya."


"Terus siapa yang ngerawat rumah peninggalan bapakmu ini, jelek-jelek gini ini rumah banyak sejarahnya, dulu aja belinya sampai ibu harus makan nasi aking saking berhematnya biar kebeli rumah (nasi aking sejenis nasi basi yang dijemur dulu lalu dimasak untuk dikonsumsi lagi)."


"Masak bapak kasih makan kita pakai nasi aking sih buk, ibu jangan lebay ah," omel Vita tak terima mendengar ucapan sang ibu.


"Sebenarnya Vita sih masih ada sisa satu undangan lagi, mau Vita kasih ke orang tua Arya, tapi Vita nggak enak sama Mathew dan keluarganya."


"Ndak usah undang mereka, hormati calon suamimu, jaga perasaannya," nasehat bijak ibu dianggukin oleh Vita.


Tak berapa lama terdengar deru mobil memasuki halaman rumah Vita, ia bergegas Vita berdiri dan melongokan kepala dari belakang pintu.


"Mbak Vita.... calon suaminya dateng nih!" teriak bulek Har membuat bibir Vita manyun.


'Kenapa sih pakai teriak segala, kayak bikin pengumuman sama yang lain buat kepoin aku deh' batin Vita kesal.


Vita menatap bulek Har dengan senyum yang dipaksakan, aslinya sih mukanya udah bete banget, kalau bisa ingin melakban mulut perempuan gendut itu biar bisa mengerem mulutnya yang suka ember.


Vita menanti di teras menunggu Mamat turun dari mobilnya, lalu mengambil tangan Mamat, dan mencium punggung tangan itu dengan takjim, sesuatu yang seharusnya belum perlu dilakukan, hanya saja Vita sedang membiasakan diri.


Sambil memegang pundak Mamat dari belakang lalu mendorong tubuh kekar Mamat dengan lembut seperti anak-anak yang main kereta-keretaan, Vita berasa mengulang kebiasaannya dulu dengan Erwin ketika mereka masih kecil.

__ADS_1


"Udah mau nikah, kelakuannya sering kayak bocah." Mamat menengokan kepala menatap Vita di belakangnya.


"Daripada kayak gini?" Vita memeluk Mamat dari belakang dan berjalan terseok mengikuti langkah Mamat yang berjalan di depannya.


"Astaga, pada ngapain!?" tegur ibu membuat Vita melepaskan pelukannya.


"Becanda bu," sahut Vita tanpa dosa, Mamat mengambil tangan ibu lalu mencium punggung tangan yang sudah keriput itu dengan takjim.


"Gih sana ganti baju, habis fitting kita langsung ke toko perhiasan ambil cincin," ucap Mamat.


"Cincin lagi?" Vita membeo mendengar ucapan Mamat barusan.


"Ya kan cincin kawin beda Yang bentuknya," jawab Mamat nyengir.


"Nggak sayang duit banget sih!" gerutu Vita dengan wajah menekuk.


"Aku nyari duit kan buat kamu."


"Ya tapi kan bukan buat dihambur-hamburin kayak gini, huft," gumam Vita lirih.


"Jadi bulanan yang setiap bulan aku transfer itu kamu apain?" tanya Mamat kepo, karena sejak pertunangan mereka Mamat sudah rutin memberi Vita uang bulanan sebesar lima puluh juta per bulan.


"Belum aku apa-apain," sahut Vita cuek.


"Hah?!"


"Ya kan kebutuhanku nggak sebanyak itu Hun, aku kan juga dapet keuntungan dari kafe, jadi ya biar aku simpen dulu ajalah, bingung juga mau diapain."


"Ada ya perempuan jaman sekarang yang modelannya kayak kamu," ledek Mamat.


"Ya gimana lagi, jajanku paling banter mie toprak di mbak Sum, atau gado-gado di kang Udin yang harganya aja cuman ceban seporsi, dibandingin kamu yang Sultan, ya jelas bedalah."


"Ya udah sana buruan ganti baju dulu, takut kesorean."


"Tapi kita makan dulu ya, kasihan ibu tadi masak sup iga banyak." Vita lalu menyeret langkah Mamat menuju meja makan.


Disana sudah ada ibu yang sudah menyedok nasi ke piringnya sambil menunggu Vita dan Mamat yang sedang asyik berdebat,

__ADS_1


Ketiganya melanjutkan makan siang mereka dengan sesekali diselingi obrolan yang sebenarnya unfaedah tapi asyik buat diobrolin.


__ADS_2