
"Nduk, ada Metiu di depan," panggil ibu dari depan pintu kamar Vita yang tertutup.
Ya disinilah Vita sekarang berada, di rumah ibunya, rumah yang ditentukan oleh Mamat untuk ia tempati setelah hari pertunangannya, Vita tak diijinkan oleh Mamat untuk tinggal sendirian di rumahnya, katanya biar aman.
Terkadang Vita merasa jengah, ya benar dirinya tersanjung karena dicintai sedemikian rupa oleh cowok itu, tapi terkadang Vita juga merasa sedikit terkekang karena merasa tak dipercayai.
"Hun.... " panggil Vita ketika melihat Mamat duduk di teras samping, tempat yang juga menjadi tempat favorit pria itu ketika berkunjung ke rumah Nani ibunya Vita.
"Bangun tidur?" tanya Mamat, mungkin karena melihat rambut Vita yang terlepas beberapa helai dari ikatannya.
"Habis periksa keuangan kafe."
"Gimana? Bagus nggak omzetnya?"
"Bagus banget, rasanya kayak mimpi bisa dapet omset kayak gini," ucap Vita sumringah matanya berbinar.
"Aku ikut seneng kalo liat kamu kayak gini yang," guman Mamat.
"Em Yang, rencananya dalam minggu ini aku ada perjalanan ke Bali selama seminggu, kamu mau ikut?" Mamat mengeluarkan kata-katanya setelah keduanya terdiam cukup lama.
"Tapi seminggu mau ngapain? Apalagi kamu kan lagi kerja," tolak Vita halus.
"Kalo bosen nunggu aku kan kamu bisa jalan-jalan atau shoping."
"Kelamaan ah."
"Ya udah tiga hari aja kalo gitu," bujuk Mamat melihat Vita berusaha menolak ajakannya.
"Aku akan ikut kalo kamu dapet ijin dari ibu." tantang Vita pongah karena yakin kalau ibunya tak akan mengijinkan mereka pergi berduaan.
Tanpa sepatah katapun, Mamat langsung berdiri, dan masuk ke dalam rumah, Vita hanya menghela nafas, salah kalau dia menghindar untuk ikut dengan Mamat ke Bali dengan alasan persetujuan ibu, karena sudah dapat dipastikan ibu akan mengijinkan.
Sayup-sayup Vita mendengar obrolan Mamat dan ibu, bagaimana sopannya tunangannya itu meminta ijin.
Tak berapa lama Mamat keluar dari dalam rumah dan kembali menempati tempat duduknya yang tadi.
__ADS_1
"Udah, tinggal packing, besok pagi kita berangkat."
'Kalimat apaan tuh, udah, tinggal packing, besok pagi berangkat' ulang Vita dalam hati sambil mengomel
"Udah jangan manyun mulu, nemenin calon suami bekerja itu pahalanya besar, kan nanti kalo usahanya berkembang dan untungnya gede itu juga buat kamu Yang," ucap Mamat sambil tersenyum lebar melihat keengganan Vita ikut bersamanya.
"Iya iya, aku temenin, tapi janji dulu buat ngebolehin aku jalan-jalan sendiri kalo aku bosen." Vita mengulurkan jari kelingkingnya mengajak Mamat ber-promise.
Dengan kekehan kecil Mamat menarik Vita ke dalam pelukannya."Iya janji, tapi dianter sopir ya."
Vita mengangguk pelan dan menurunkan kembali tangannya dan membalas pelukan hangat dari Mamat.
Keesokan harinya sesuai dengan jadwal penerbangan pesawat yang mereka tumpangi menuju Bali, Vita dan Mamat sudah duduk bersebelahan di dalam kelas bisnis.
Seperti biasa Vita cemberut untuk menyatakan ketidaksetujuannya atas sikap Mamat dengan membeli kelas bisnis untuk perjalanan mereka kali ini.
Rasanya sayang perjalanan menuju Bali yang tak sampai satu jam tersebut harus mengeluarkan uang untuk membayar tiket kelas bisnis, buang-buang uang saja kalau dalam kamus Vita.
"Kenapa?" tanya Mamat setelah menggerakkan kepala Vita agar bersandar pada bahunya.
"Terkadang kepuasan batin itu tidak bisa diukur dengan uang Yang," balas Mamat mengusap punggung tangan Vita yang ada di pangkuannya.
Vita hanya bisa mengangguk, walau kenyataannya uang juga bisa membantu seseorang untuk mencari kepuasan untuk menyenangkan diri sendiri.
Dulu Vita terbiasa banting tulang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya, hingga kadang untuk menghibur diri sendiri saja Vita harus berpikir ulang, dia tak ingin menghambur-hamburkan uang dengan seenaknya, ya meskipun pada akhirnya semua pengorbanannya tak pernah dihargai oleh pasangannya dulu.
Ingin membuang semua kenangan pahit itu dalam pikirannya karena sekarang ada Mamat di sampingnya yang meratukan dirinya sedemikian rupa, akhirnya Vita memilih menghabiskan waktunya dengan tertidur di pundak lelakinya.
Beberapa saat kemudian Vita mengerjapkan matanya pelan, ketika merasakan sentuhan halus di pipinya.
"Udah sampai?" tanya Vita sambil merentangkan tangannya pelan, mengusir pegal karena tertidur dengan posisi menyender.
"Udah landing, bentar lagi turun," jawab Mamat sambil merapikan poni Vita yang terlihat berantakan.
Tak lama mereka turun dari pesawat dengan mendorong koper masing-masing dan tangan yang saling menggenggam mesra.
__ADS_1
Lalu ketika mereka baru melangkah keluar dari pintu exit seorang perempuan muda dengan dandanan seksi melambaikan tangan kepada Mamat.
"Selamat siang Pak Mathew, selamat datang di pulau Bali," sapa perempuan itu ramah setelah Vita dan Mamat ada di hadapannya.
"Lho In kamu jemput sendiri? Dimana pak Tono?" tanya Mamat melihat Ina hanya disana sendirian.
"Pak Tono sedang ada pekerjaan lain pak," jawab Ina dengan suaranya terdengar mendayu.
Vita memindai penampilan Ina dari atas sampai bawah lalu ke atas lagi, begitu seterusnya, merasa risih dengan baju yang dikenakan oleh Ina.
Ya kali pergi ke kantor harus memakai baju seperti itu, ketat disana sini, meskipun body Ina itu seksi, tapi menurut Vita baju itu tak layak pakai.
Vita mendengus kasar membuat Mamat menoleh ke arahnya." Eh iya In, kenalin ini Vita calon istri saya."
Dengan senang hati Vita mengulurkan tangannya mengajak Ina berjabat tangan, biar cewek gatel itu tak tebar pesona dengan calon suaminya, dari gelagatnya saja Vita sudah tahu kalau Ina menaruh hati terhadap Mamat.
Dengan berat hati dan senyum yang dipaksakan Ina menyambut tangan Vita.
"Ina bu." Ina menyebutkan namanya dengan suara yang terdengar enggan.
"Vita."
Lalu ketiganya beriringan berjalan menuju ke tempat parkir, tanpa malu Ina berjalan disisi kiri Mamat sedang Vita berjalan disebelah kanan Mamat, dengan tanpa malu meminta koper yang Mamat pegang agar dirinya bisa berjalan lebih menempel dengan Mamat.
'Astaga, ada ya perempuan yang tak tahu diri kayak gini, pantes aja laki-laki tak kuat iman gampang tergoda' batin Vita dengan kesal.
Ina menekan tombol pada remote mobilnya, membuka pintu mobil tersebut, lalu membuka pintu bagasi dan Mamat meletakkan kopernya dan koper Vita ke dalamnya.
"Em Ina, biar saya saja yang nyetir." Mamat meminta kunci yang Ina pegang, dan membuka pintu kemudi.
Ketika dilihatnya Ina akan duduk di depan bersama dia, dengan pelan Mamat menegurnya dan meminta Ina duduk di belakang, dan Mamat meminta Vita untuk duduk di depan bersamanya.
Vita mengulum senyum melihat wajah Ina berubah masam.
'Syukurin di suruh pindah ke belakang, jadi cewek nggak ada harga dirinya banget sih' sorak Vita dalam hati.
__ADS_1
Setelah kejadian ini Vita memutuskan akan mengikuti kemanapun Mamat mengajaknya pergi, karena godaan sebelum hari pernikahan itu nyata adanya, apalagi calon suami Vita tersebut merupakan cowok dengan spesifikasi yang diidamkan banyak perempuan di luar sana, jadi Vita kudu waspada mulai sekarang.