The Mantans

The Mantans
Bab 22 : Secuil kisah tentang Mamat


__ADS_3

Pagi ini Mamat memutuskan jadi penguntit, setelah sepanjang hari kemarin, eh ralat beberapa minggu tepatnya, Mamat tak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya, bahkan tidurnya pun terganggu dengan satu bayangan wajah cantik seseorang.


Lavita Aurora, perempuan cantik yang bersahaja dan sederhana itu mampu mengetuk pintu hati Mamat yang sudah lama tertutup untuk semua orang berjenis kelamin perempuan.


Disini, diseberang jalan sebuah kafe kecil, lebih tepat disebut kedai sebenarnya, Mamat menatap tempat itu dengan perasaan yang terasa bercampur aduk.


Sepagi ini Vita sudah sampai di tempat usahanya, dibantu oleh Retno menurunkan beberapa bahan makanan untuk kafenya.


Dulu sebelum Mamat menarik diri, cowok itulah yang diberi tugas untuk mengambil belanjaan di pasar Gede, tapi karena tiba-tiba dirinya menghilang alhasil Vita sendiri yang turun tangan pergi ke sana.


Mamat masih menatap intens ke tempat tersebut, dari sini ia masih bisa melihat Vita hilir mudik dari ruang depan menuju dapur meng-handle semua pekerjaan dengan cekatan.


Lalu seorang perempuan muda seumuran Retno mengetuk pintu kaca tersebut, tampak Retno yang membukakan pintu, lalu tak lama Vita keluar dan duduk berhadapan dengan gadis itu.


Tak perlu waktu lama pembicaraan keduanya sudah selesai, dan Vita tampak keluar dari kafe tersebut, mengangkat ponselnya dengan wajah gusar, bisa ditebak Bima yang menghubungi perempuan itu.


Beberapa bulan mendampingi Vita, Mamat sedikit banyak tahu cerita yang sedang dialami oleh Vita.


Mengabdikan diri kepada suami atas nama cinta dan kesetiaan, tapi apa daya kalo semua harus kandas karena satu yang bernama pengkhianatan.

__ADS_1


Hingga tanpa sengaja mata keduanya bertemu, Vita tampak termangu menatap Mamat, lalu secara reflek Mamat menekan tombol untuk menaikan kaca mobilnya.


Vita hanya mengangkat bahu, lalu kembali masuk ke dalam kafe, Mamat menghela nafas panjang, hampir saja penyamarannya terbongkar.


Selama ini Mamat sengaja mengasingkan diri ke kota kecil ini, meninggalkan bisnis keluarga dan memulai bisnisnya sendiri dengan membangun resort dan agrowisata, mengganti identitas dari seorang Mathew Alexandrio Praja menjadi Mamat si tukang ojek.


Mengubur dalam-dalam semua luka yang bahkan masih terasa nyeri di dadanya.


***


Keesokan harinya.


Bunyi lonceng terdengar, tanda yang sengaja Vita pasang di pintu masuk kafenya, untuk menyambut pelanggan yang datang.


Mamat berdiri di depan pintu." Halo mbak Vita, apa kabar?" sapa Mamat sedikit menganggukan kepala, kikuk dan grogi tentu saja.


Vita tersenyum sumringah menyambut Mamat. "Eh Mamat, duduk Mat." Vita keluar dari dalam sekat yang memisahkan area buat pelanggan dan karyawan.


Mamat menarik sebuah kursi dan duduk di sana, Vita ikut duduk dihadapan Mamat terhalang meja.

__ADS_1


"Kamu kemana aja Mat? Aku sampai kepikiran sama kamu lho." ucap Vita menelisik wajah Mamat yang terlihat beda, em... lebih bersih dan segar aja kelihatannya.


"Saya lagi ada kerjaan di luar kota mbak, mbak Vita apa kabar?" ulang Mamat karena belum ada jawaban dari Vita atas pertanyaannya sebelumnya.


"Baik Mat, baik, kamu apa kabar?" Vita tersenyum menjawab pertanyaan Mamat.


"Saya baik juga mbak."


"Syukur deh, aku sempet kepikiran sama kamu." ucap Vita terdengar tulus.


"Bentar ya Mat, aku minta anak-anak bikin minum dulu." Vita bangkit berdiri meninggalkan Mamat dan berjalan ke dapur.


Tak berselang lama Vita kembali sudah dengan nampan berisi es jeruk.


"Diminum Mat." Vita kembali duduk setelah meletakkan nampan tersebut di atas meja.


"Makasih mbak."


"Aku tuh kemarin kayak ngeliat kamu lho Mat."

__ADS_1


"Dimana mbak?" tanya Mamat dengan dada berdetak, takut Vita tahu bahwa dirinya yang berada di balik kemudi mobil yang terparkir di seberang kafe Vita.


"Di seberang jalan sana." jawab Vita.


__ADS_2