
Mengandung selama sembilan bulan sepuluh hari, merupakan perjuangan seorang ibu untuk kehadiran sang buah hati.
Tak sekalipun mereka mengeluh karena pengorbanan tersebut, apalagi jika mengingat ada makhluk mungil buah cinta dengan sang suami yang bersemayam di dalam perutnya.
Apalagi kalau dukungan keluarga juga tercurah penuh padanya, lihat saja bagaimana mami Vena yang semula begitu tidak setuju atas hubungan Mamat dan Vita, justru sekarang ketika ia mendengar sang menantu sedang hamil besar memutuskan tinggal di rumah Mamat untuk menemani Vita.
Ke-overprotective-an Vena cenderung lebih besar ketimbang overprotective-nya Mamat terhadap Vita.
"Sayang... sup jagungnya udah dimakan belum?" tanya Vena kepada Vita yang sejak tadi asyik duduk di teras belakang memandang taman bunganya yang indah.
"Nanti aja mi, aku masih kenyang," tolak Vita sopan.
"Sedikit aja ya, ini ada kepitingnya, bagus untuk dedek bayinya," sodor Vena sambil membujuk Vita dengan halus.
Biasa Vena akan seperti itu, meskipun Vita hanya mencicipi sesendok makanan yang dibuatnya tapi ia sudah sangat bahagia, karena untuk menu selanjutnya Vena akan menyiapkan masakan dengan menu berbeda.
"Yang.... " panggil Mamat dari dalam rumah.
"Di belakang Hun," Vita bangkit dengan perlahan karena kehamilannya sudah memasuki usia sembilan bulan, perut Vita sudah semakin membulat hingga kadang untuk jalan saja harus pelan-pelan.
"Kok tumben kamu udah pulang?" tanya Vita setelah mencium punggung tangan suami.
"Pengen ngusel-ngusel kamu," jawab Mamat mencium kening Vita lalu mengecup perut buncit Vita.
"Sayang... lagi ngapain disana?" tanya Mamat berbisik lembut ke calon bayinya.
"Lagi bobok di peyutnya mommy," jawab Vita menirukan suara anak kecil.
Vena tersenyum melihat interaksi keduanya, sempat marah, sempat tak merestui, tapi akhirnya dirinya sadar bahwa Vita yang diinginkan anaknya, yang membuat anaknya bahagia dan yang membalut luka anaknya yang sempat terluka karena sebuah pengkhianatan, disamping Vita itu juga tulus dan apa adanya.
"Udah makan belum?" tanya Mamat menggandeng tangan Vita.
"Udah, sejam sekali," jawab Vita sambil mengusap perutnya lembut.
"Masih pengen makan sesuatu nggak?" tanya Mamat sambil membantu Vita duduk di ruang keluarga.
Vita menggeleng, rasanya perutnya udah penuh banget, mami mertuanya memanjakannya dengan berbagai makanan, sampai Vita sendiri sudah tak mengidam apa-apa lagi.
"Mumpung HPL nya masih lima belas hari lagi, daddy boleh nggak nengok dedek?" bisik Mamat pelan.
"Astaga masih aja nih daddy." Vita terkekeh menatap wajah memelas suaminya.
__ADS_1
Memang sejak kehamilannya membesar, aktivitas ranjang mereka bisa dibilang slow down, karena Mamat yang tak tega melihat perut buncit Vita dan juga stamina Vita yang tak sekuat dulu.
"Ayok," ajak Mamat sambil membantu Vita bangkit dari duduknya dan menuju kamar mereka.
Vena yang melihat kelakuan anak lelaki satu-satunya itu hanya bisa menggelengkan kepala.
Dan di dalam kamar ini penyatuan keduanya kembali terjadi, Mamat tampak hati-hati memasuki istrinya dari belakang, karena posisi miring seperti ini adalah posisi yang aman untuk perempuan hamil.
"Ahh..... " keduanya melepaskan de*ahan secara bersamaan karena merasakan puncak secara bersama-sama.
"Terima kasih sayang," kecup Mamat lembut di pipi Vita sambil mengusap perut istrinya.
Vita tak menimpali perkataan Mamat, Vita sedang menikmati sisa-sisa pelepasannya dan menutup mata rapat.
"Yang.... sampai dengan HPL, aku minta jatah sehari sekali ya?" gumam Mamat di dekat telinga Vita.
Serta merta Vita menoleh, menatap Mamat yang sedang memperhatikan dirinya dengan menumpukan kepala pada salah satu tangan di belakangnya.
"Kan biar dedeknya keluarnya gampang," ucap Mamat dengan nyengir, karena sejak awal Vita menginginkan melahirkan secara normal.
"Ya nggak gitu juga Hun, nggak takut kamu ngegempur aku dengan perut buncit begini?" tanya Vita bingung.
Mamat menggeleng pelan, lalu mengecup kepala Vita." Kamu berkali-kali lipat lebih seksi ketika hamil gini."
Selimut yang menutupi tubuh po*os itu melorot, membuat Mamat meneguk ludah dengan kasar, Vita tampak mengga*rahkan dengan perut buncit begitu.
Mamat mendorong pintu kamar mandi yang telah tertutup tersebut, menyusul sang istri yang sudah mulai menyalakan shower.
"Mandi bareng!" kata Mamat cuek, sambil mere*as dua gundukan itu yang menantang minta untuk kembali ia jam*h.
"Ih kamu mah, yang ada bukan mandi beneran," rengek Vita kesal.
"Nungg*ng Yang!" perintah Mamat yang mau tak mau dituruti oleh Vita.
Keduanya kembali mende*ah dan berpacu untuk meraih puncak mereka kembali.
***
Beberapa hari kemudian.
Pukul tiga dini hari Vita bergerak gelisah, perutnya tiba-tiba mengalami kontraksi.
__ADS_1
"Hun.... Hun.... " panggil Vita dengan menggoncang badan Mamat yang tidur di sampingnya.
Mamat mengucek mata pelan." Ada apa sayang?"
"Perutku mules, kayaknya aku mau lahiran," jawab Vita tenang.
"Hah!?" Mamat loncat dari tidurnya lalu bergegas membangunkan maminya.
"Mi... Mami!" Mamat mengetuk pintu kamar Vena berulang-ulang.
"Kenapa sih Mat?" tanya Vena bingung.
"Vita mules," jawab Mamat lalu berlalu menuju kamarnya kembali.
Vita duduk bersandar di kepala ranjang, dengan tenang sesekali ia mengusap perutnya pelan, ini udah kedua kalinya ia lahiran, jadi sudah berpengalaman dan tidak panik seperti Mamat suaminya.
Secepat kilat Mamat mengganti baju dan bergegas memasukan tas besar berisi baju dan perlengkapan untuk Vita lahiran.
Untung saja ia sudah menempati rumah baru yang dibelinya beberapa waktu yang lalu di Solo, rumah yang memang dipersiapkan untuk mereka tempati menjelang Vita lahiran, lebih dekat dengan rumah sakit yang jadi tempat Vita lahiran.
Semua sudah siap, lalu Mamat memapah Vita pelan menuju mobil, Vita duduk dibelakang bersama mami mertuanya, sedang Mamat menyetir dengan perasaan yang panik.
Tak lama mobil masuk ke lobby rumah sakit, Vita langsung ditangani oleh dokternya dan beberapa perawat, karena bukaan belum sempurna Vita kembali tertidur di brankar rumah sakit, sambil Mamat terus mengelus punggung istrinya dengan sayang.
Tak berapa lama dokter datang memeriksa Vita lagi dan ketika bukaan jalan lahirnya sudah cukup Vita akhirnya di dorong ke ruang persalinan.
"Pak Mathew mau menunggu di dalam?" tanya dokter wanita berhijab tersebut.
"Iya dok, saya mau," jawab Mamat lalu mengganti bajunya dengan baju rumah sakit.
Kaki Vita sudah ditekuk menunggu aba-aba dari dokter, ketika melihat Vita meringis kesakitan dengan bulir-bulir keringat yang mulai menetes, airmata Mamat jatuh berderai membasahi pipinya.
Sungguh perjuangan sang istri begitu luar biasa untuk melahirkan darah dagingnya bahkan bertaruh nyawa demi sang buah hati.
"Ayo bu Vita, sekali lagi, babynya udah kelihatan," intruksi sang dokter kembali memberi aba-aba.
Dan sekali lagi mengejan, lalu suara tangis bayi itu melengking sempurna.
"Baby girl ya pak," kata dokter sambil mengangkat tubuh mungil itu keatas.
"Terima kasih sayang, sudah memberiku hadiah istimewa seperti ini," ucap Mamat sambil mencium kening istri yang bersimbah keringat.
__ADS_1
Suster membersihkan baby tersebut, lalu memberikan kepada Mamat untuk menggendong bayi tersebut dan menyatukan kulitnya dan kulit babynya.
"Welcome to the world my baby girl, i love you so much."