
Vita menjelajah hampir semua ruangan dalam rumah tersebut, satu kata yang langsung terucap 'perfect'.
Tak ada kata yang sanggup ia ucapkan, bahkan sekarang ini dirinya masih terkagum dengan penampakan rumah yang akan ia huni nanti.
Vita tak berhenti bersyukur melarikan diri untuk mengobati semua luka hatinya karena sebuah pengkhianatan yang dilakukan oleh pasangannya, Vita justru dipertemukan oleh Tuhan dengan seorang pria yang sempurna.
Sosok yang bisa membalut lukanya dengan begitu cepat, bahkan niat awal sehabis dirinya bercerai dengan Arya untuk tidak menikah lagi terhempas dengan perlakuan manis Mamat yang begitu mudah meluluhkannya.
"Gimana? Suka?" tanya Mamat melingkarkan tangan memeluk tubuh Vita dari belakang.
"Suka banget." Vita menolehkan kepala dan hidung mancungnya menabrak pipi Mamat yang sedang menyandarkan dagu di pundak Vita.
"Ada yang mau kamu ubah?" tanya Mamat lembut.
Vita menggeleng." Ini udah bagus banget buat aku, thanks ya Hun udah memberiku banyak banget kaya gini, rasanya aku kayak....mimpi."
"Kamu tahu peribahasa habis gelap terbitlah terang nggak Yang, atau orang yang menabur kebaikan akan menuai kebaikan? Ya itu kamu, setelah semua kesedihan yang kamu alami selama ini sekarang waktunya kamu bahagia."
"Makasih ya Hun, aku nggak tahu kudu ngomong apa lagi sama kamu." Vita membalikkan badan membenamkan wajahnya ke dada bidang Mamat dan mengeratkan pelukannya.
Setelah puas melihat rumah mereka, Vita dan Mamat melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah restauran untuk bertemu dengan keluarga Mamat.
Mobil meluncur ke resto yang dimaksud, jantung Vita kembali berulah, menemui keluarga calon suami yang punya status sosial berbeda jujur membuat Vita nervous.
Mereka turun dari mobil, Mamat menggandeng tangan Vita mesra menuju ke sebuah ruangan privat yang disewa oleh keluarga Mamat.
"Aku gugup," gumam Vita masih bisa terdengar jelas di telinga Mamat.
"Kan ada aku," sahut Mamat mengelus punggung tangan Vita yang ada di genggamannya menggunakan ibu jari.
Langkah keduanya memasuki ruangan tersebut menarik intensi keluarga Mamat yang telah berkumpul di sana.
Vita mencium punggung tangan Sutama dan Vena lalu mencium pipi kiri kanan Maureen dan Monika.
__ADS_1
Ada kecanggungan yang Vita rasakan dari Monika dan Vena, tapi Vita tak menghiraukannya, ia hanya ingin mendampingi Mamat dengan baik.
Hidangan disajikan oleh pramusaji, ingat ya karena mereka keluarga sultan menu makanan yang dipesan juga semuanya makanan premium dengan harga setinggi langit dan jangan lupakan ruangan segede ini mereka pesan untuk keluarga mereka.
Seketika jiwa misquen Vita meronta membayangkan harga sekotak daging wagyu yang terasa lembut dan lumer di mulutnya.
Astaga, Vita seakan lupa seberapa kaya keluarga calon suaminya ini, barang branded yang ia kenakan saja pasti tak ada apa-apa nya dengan tas ratusan jutanya Vena dan Monika yang ditaruh di atas pangkuan mereka.
"Mat, apa rencana kamu setelah menikah? Tetap disini atau membantu papi lagi?" tanya Tama pelan setelah mereka selesai menyantap makan siang mereka.
"Kamu balik ke Jakarta kan Mat?" tanya Vena penuh harap.
"Kayaknya aku mau tetap disini saja pap," jawab Mamat penuh keyakinan.
"Kenapa? Apa Vita tak mengijinkan?" tanya Monika menatap sinis kepada Vita.
"Em eng.... enggak kak," jawab Vita cepat, entah kenapa sejak pertama bertemu di Jakarta waktu itu hingga kemarin pas pertunangan dirinya, Vita mendapati Monika lebih banyak menatapnya sinis dan terlihat tak suka terhadap Vita.
"Tapi kamu mau ngapain disini Mat? Mengelola resort kamu yang tak seberapa itu?" Suara Vena terdengar ketus dan tak bersahabat.
"Aku rasa aku bisa menghidupi istri dan anakku dari hasil usahaku itu mi, lagian aku juga sedang mengembangkan usahaku di Bali kok," jawab Mamat lembut tak mau terprovokasi oleh mami dan Monika.
"Biar sekalian mami dan yang lain tahu bahwa Vita bukan perempuan yang mengincar harta, jadi mau sesederhana apapun aku pasti dia mau terima," sambung Mamat cuek.
"Yakin Mat? Nggak ingin kamu pikirin sekali lagi?" bujuk Tama lembut.
"Nggak pi, aku tetap dengan keputusanku," jawab Mamat menggelengkan kepala yakin dengan keputusannya.
Vena menatap tak suka keputusan Mamat, awalnya dia menyetujui Vita sebagai calon mantu, karena berharap dapat ia singkirkan lagi kelak dan menggantikannya dengan perempuan pilihannya, kalau seperti ini mana ada kesempatan itu.
"Wah salut gue ama keputusan lo Mat, tapi tenang aja sih lo kan masih punya saham di sana jadi lo tetap akan dapet deviden juga sih" gurau Maureen sambil melirik Vena yang mendengus kesal.
"Rencananya itu juga mau gue alihin ke nama Vita kok," sahut Mamat cuek.
__ADS_1
"Eh?!" Vita menoleh menatap Mamat tak percaya.
"Apa-apaan kamu Mat, mami nggak setuju!"
Vita yang melihat suasana semakin tak kondusif, mengelus paha Mamat pelan, memintanya tak melanjutkan ucapannya yang mengundang kemarahan keluarganya.
Dengan kasar Mamat menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Aku tahu kok mi, apa yang mami rencanakan, makanya lebih baik aku dan Vita menjauh dari Jakarta, aku merasa damai hidup disini, terbebas dari hiruk pikuk perusahaan yang bikin aku pusing, setidaknya aku bisa membuktikan bahwa aku mampu." Sambil berucap Mamat melirik Monika dan suaminya yang sering menghalalkan segala cara untuk mendapatkan posisi tertinggi di Sutama corp.
"Betewe gue boleh join modal nggak Mat buat resort lo?" tanya Maureen menyunggingkan senyum.
"Ntar ajalah kalo gue buka usaha lain lagi, yang resort sama agrowisata gue mau dedikasikan buat istri dan anak gue."
"Wah so sweet banget sih adek gue," puji Maureen terkekeh.
Tama dan Vena hanya bisa menghela nafas pasrah, selama ini mereka tahu bagaimana tabiat anak lelaki mereka yang keras kepala dan berpendirian teguh tersebut.
"Apaan sih kamu, nggak jelas banget!" Dengus Monika kesal dengan tingkah Maureen yang terlihat akrab dengan Mamat dan Vita.
"Lho iya kan, keren banget lho Mathew, berani ninggalin bisnis keluarganya demi menjaga otaknya agar tetap waras," sahut Maureen cuek, sengaja menyindir kakak perempuannya itu yang ambisius.
"Udah udah, berdebat mulu malu sama Vita," potong Tama.
"Lho bukannya bagus pi, biar Vita tahu bahwa di keluarga Sutama Praja tuh kalo nggak berdebat nggak seru."
Vita yang namanya ikut disebut-sebut hanya bisa tersenyum kaku, ternyata meskipun keluarga Sutama Praja keluarga konglomerat dengan kekayaan seperti gunung hingga tak akan habis hingga tujuh turunan, tetapi tetap saja anak-anaknya masih ada yang saling menjatuhkan satu sama lain.
Merasa bersyukur karena dirinya dilindungi sedemikian rupa oleh Mamat agar tak ikut dalam drama keluarganya.
Vita menjadi semakin jatuh cinta dengan pria sempurna di sampingnya ini.
.
__ADS_1