The Mantans

The Mantans
Bab 30 : Pertemuan tak terduga


__ADS_3

Vita duduk beralaskan tikar, kebetulan kafe yang lebih tepat disebut kedai pasta, usaha miliknya itu harus tutup karena semua dagangannya sold out.


Menyeruput wedang jahe sambil menikmati aneka camilan yang tersebar hampir di seluruh sudut alun-alun kota.


Hampir semua makanan menarik perhatian Vita, mungkin efek kesal karena pertemuan dengan Rara tadi pagi, atau bisa juga Vita merasakan tekanan stress karena kelakuan absurd kedua mantan pacarnya.


Menggigit dengan gemas sepotong kue khas Korea dengan bentuk lucu, dengan sesekali menyesap minuman dari tiga gelas dengan rasa yang berbeda, yang sengaja Vita jejer dihadapannya.


Sepintas terlihat Vita seperti perempuan rakus yang bisa memakan begitu banyak makanan, padahal tubuh perempuan itu terlihat langsing dan mungil, tak sesuai dengan porsi yang luar biasa tersebut.


Tanpa Vita sadari kelakuan absurdnya diperhatikan oleh dua pasang mata yang duduk di sebelah kanannya.


Sepasang suami-istri yang terus menatap intens Vita tanpa perempuan itu sadari, dia tetap dan masih asyik mengunyah, seperti melampiaskan sesuatu dengan menghabiskan banyak makanan.


"Mau menyapa?" tanya perempuan cantik itu kepada suaminya yang masih memandang Vita.


"Buat apa?!" Raka menolehkan kepala dengan cepat, kaget dengan pertanyaan absurd istrinya.

__ADS_1


Di hadapannya sekarang ada seorang perempuan dari masa lalunya yang sebenernya ingin dia temui sejak dulu, setidaknya Raka merasa harus meminta maaf dengan layak kepada Vita, entah kenapa perasaan bersalah menghantui setiap langkah Raka setelah cowok itu memutuskan Vita dengan sebegitu kejamnya.


Raka yang awalnya mengejar Vita, menawarkan cinta kepada perempuan itu dengan sedikit memaksa juga, justru meninggalkan Vita ketika mereka baru berpacaran beberapa bulan, meninggalkan Vita demi sahabat yang sekarang menjadi istrinya.


"Mas?" suara lembut Erina membangunkan lamunan Raka.


"Ayo kita pulang." ajak Raka seraya berdiri dari tempat duduknya dan siap melangkah.


Tapi langkah laki-laki yang masih terlihat muda itu terhenti ketika sang istri tak mengikuti langkahnya, malah duduk disebelah Vita dan menyapa perempuan yang jujur namanya belum pergi dari sudut hati terdalamnya.


"Hai Vit, masih inget sama aku?" tanya Erina dengan suara lembut dan sedikit bergetar.


Buru-buru Vita meneguk air minumnya dan mengelap bibirnya dengan tisue.


"Um siapa ya?" tanya Vita bingung.


"Rin.....," panggil Raka sebelum Erina menjawab Vita.

__ADS_1


Vita menoleh menatap lelaki jangkung itu dengan mata melotot, jantungnya tiba-tiba berdebar kencang mendapati mantan terindahnya berdiri di depannya.


Eh ralat, bukan mantan terindah, kalo mantan terindah pasti meninggalkan kenangan indah untuknya, tapi kenyataannya cowok itu meninggalkan luka yang bahkan sampai sekarang belum seratus persen sembuh dari hatinya.


Vita menatap nanar keduanya, kalau boleh memilih Vita ingin kabur dari hadapan kedua manusia yang paling ingin dia hindari dalam hidupnya.


Mengurai kecanggungan diantara ketiganya, Vita mengulas senyum lalu mengulurkan tangannya menyapa Erina terlebih dulu.


"Hai Rin, apa kabar? Hampir aku tak mengenali kamu." Erina membalas tangan Vita lalu keduanya berjabat tangan.


"Baik Vit, kamu?" tanya Erina seraya menarik tangan Raka untuk kembali duduk di tikar berhadapan dengan Vita.


"Thanks God aku juga baik Rin, kamu apa kabar Ka?" tanya Vita menatap Raka yang sejak tadi tak melepaskan pandangan terhadap Vita.


"Baik Vit." jawab Raka singkat, rasanya dia ingin cepat kabur dari hadapan Vita yang entah kenapa sekarang terlihat cantik dan menarik di mata Raka, padahal Vita memakai baju kasual tanpa riasan di wajah putihnya.


"Kamu kok ada di sini Vit? Bukannya kamu merantau di Jakarta?" pertanyaan Erina membuat Vita tercengang, kok perempuan ini bisa tahu dirinya di Jakarta.

__ADS_1


Kepalang tanggung sekalian saja Vita menceritakan dirinya yang sedang merintis usaha di kota ini, dan tanpa menaruh curiga apapun terhadap Erina yang terlihat lembut dan agamis tersebut.


Vita tak tahu saja bahwa menceritakan kehidupannya terhadap Erina membawa boomerang baru untuknya.


__ADS_2