The Mantans

The Mantans
Bab 51 : Ghibahin Mamat


__ADS_3

"Mbak Vita!" Suara Retno yang melengking, memanggilnya dengan suara keras.


"Maaf ya mbak Sinta, temen aku memang mirip tarzan kelakuannya." Senyum Susi melengkung di sudut bibirnya, melihat Sinta karyawan Mamat yang sengaja diperbantukan di sana untuk meringankan pekerjaan Vita, bingung mendengar suara Retno yang begitu kerasnya, padahal Retno berada di depan kafe.


"Tuh anak kelakuannya kok nggak berubah sih Sus, heran aku, hobi banget teriak-teriak" gumam Vita menggusah nafas lelah melihat tingkah Retno yang sering terlihat persis bocah itu.


"Auk tuh mbak, nggak malu ama mbak Sinta!" sahut Susi mendengus lalu kembali mengaduk bahan untuk membuat schotel.


"Maaf ya Sin, disini karyawannya pada bar-bar semua beda sama kalian di resort sana," kata Vita lembut.


"Eh kok semua mbak?" protes Susi.


"Nggak nyadar kamu kalo sudah teriak suara kamu sebelas duabelas sama Retno."


"Padahal dirinya sendiri juga sama," gumam Susi yang tak terdengar oleh Vita.


"Ndak papa bu, disana juga sama saja kok," kata Sinta dengan aksen medoknya.


"Boleh nggak jangan panggil aku bu, panggil aku mbak kayak yang lain aja," pinta Vita lembut.


"Saya ndak berani bu, kan bu Vita calon istrinya pak Mathew masak saya panggilnya embak," tolak Sinta sopan.


"Eh gimana, gimana maksudnya?" sambar Retno yang baru saja bergabung bersama mereka.


"Kamu tadi ngapain panggil-panggil kenceng gitu Ret?" tanya Vita.


"Ada tukang siomay lewat, mau minta jajanin mbak Vita, hahaha," jawab Retno cekakakan.


"Terus kenapa nggak disuruh tunggu abang yang jualannya?" tanya Vita sebenarnya mau mengalihkan pertanyaan Retno yang dilontarkan ke Sinta barusan.


"Nggak jadi kepengen." sahut Retno cepat.


"Eh mbak Sinta, tadi maksudnya apa yang bilang mbak Vita calon istrinya mas Mamat?" tanya Retno mengulang pertanyaan, Sinta loading atas pertanyaan Retno karena dia tak mengenal Mamat.


"Mamat?" tanya Sinta.

__ADS_1


"Mas Mathew maksud aku mbak, kita kan kenalnya mas Mamat bukan mas Mathew," seloroh Retno cengengesan.


"Oh gitu....ya calon istri, masak gitu aja ndak tahu tho Ret?" Sinta mengernyitkan kening bingung.


"Udah ah, kalian pada ngapain sih?" Vita ngedumel, membuat Sinta mengkeret tapi dijawab cengiran oleh Retno dan Susi yang telah terbiasa karena telah lama berinteraksi dengan Vita.


"Kalo mas Mathew itu gimana mbak kalo pas jadi bos gitu, galak nggak?" tanya Susi kepo.


" Jangan bilang kamu belum move on lho Sus, tuh ada calon istrinya disini," goda Retno membuat Vita merotasi matanya jengah sekaligus kesel dengan ucapan Retno yang pasti akan terus menggodanya karena informasi yang barusan Retno dapat.


Susi mengabaikan gurauan Retno, dan kembali bertanya kepada Sinta," Mbak Sinta belum jawab Ih."


"Um gimana ya, aku jarang berinteraksi sama beliau karena kan aku cuman karyawan biasa, biasanya yang berhadapan langsung dengan pak Mathew sih manager ke atas, cuman kalo menurut aku pak Mathew orangnya baik ndak neko-neko," jawab Sinta mencari kalimat dengan hati-hati, di depannya kan ada calon istrinya, kalo dia menjelekkan bosnya tersebut bisa-bisa dia langsung dipecat, siapa yang mau, hari gini nyari kerjaan saja kan susah.


"Galak nggak?" tanya Vita ikutan kepo, setelah beberapa saat mendengar ghibahan karyawannya yang terdengar lucu itu.


"Um..... " Sinta menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung mau menjawab yang bagaimana.


"Nggak usah takut kali mbak, ngomong aja yang jujur, nggak bakalan diapa-apain ama mbak Vita kok kalo mbak Sinta jujur."


"Kamu takut Sin?" tanya Vita asal.


"Aku aja takut mbak, apalagi mbak Sinta yang karyawannya langsung," potong Susi kesal mendengar pertanyaan Vita tadi.


"Kalo menurut kalian Mamat tuh ganteng nggak?" tanya Vita kepo dengan jawaban ketiganya.


Ketiganya saling pandang, tentu bingung mau menjawab yang bagaimana.


"Hahahaha...... " tawa Vita berderai melihat ketiganya kebingungan mencari jawaban.


"Ehem.... ehem..... " suara deheman membuat keempatnya menoleh secara bersamaan


Mamat berdiri dengan bersandar pada pintu, Susi dan Sinta mengkeret sedang Vita tersipu malu karena ketahuan sedang ghibahin Mamat.


"Ayok lanjut lagi, saya mau denger pendapat kalian, saya ganteng nggak?" tanya Mamat dengan suara mengintimidasi, membuat yang ada disana (kecuali Vita) pada mengkeret.

__ADS_1


"Apaan sih, ayok ah jangan ganggu karyawan aku." Vita langsung meninggalkan pekerjaannya memberi kode kepada Sinta untuk melanjutkannya, lalu menarik Mamat menjauh dari sana.


Dengan senyum polos Vita duduk di kursi yang Mamat tarikan untuk dia, dimeja sudah ada beberapa menu untuk sarapan.


Ya sejak mereka berpacaran, setiap hari Mamat mengirim makanan yang dimasak langsung oleh chef di resortnya dengan takaran gizi yang diatur oleh Mamat sendiri untuk Vita dan karyawannya.


"Belum sarapan kan?" tanya Mamat lembut.


Bukannya menjawab pertanyaan,Vita malah asyik menggoda Mamat."Jangan galak-galak jadi bos, tuh anak buah pada takut."


"Siapa yang galak sih, ngomong aja jarang sama mereka kok."


"Lucu kali ya mengumpulkan kalian dalam satu ruangan, pasti mereka pada ngompol karena takut sama kamu." Ucap Vita sambil tangannya gesit memindahkan bihun dan telur ke piring mereka.


"Aku ndak takut sama mas Mamat." sahut Retno cuek, dia keluar dari dapur sambil menenteng plastik untuk dibuang ke tong sampah, tak sedikitpun melirik ke pasangan yang sedang bucin tersebut.


"Lo mah bar-bar, sama siapa juga nggak takut!" semprot Vita kesal yang tak mendapat sahutan dari Retno.


"Jadi kalo menurut kamu aku ganteng nggak?" tanya Mamat membuat Vita tersedak dan mukanya memerah karena malu.


"Hati-hati makannya," tegur Mamat sambil menyodorkan segelas air untuk Vita.


Vita meneguk air putih tersebut dan mengusap dadanya yang terasa panas.


"Jadi.... gimana pendapat kamu, aku ganteng nggak?" ulang Mamat membuat Vita merotasi matanya.


Mamat menopang dagunya, sambil menatap Vita dengan intens, tentu saja menuntut jawaban dari perempuan cantik tersebut.


Vita pada akhirnya jengah juga." Apaan sih Mat!?"


"Kamu belum menjawab pertanyaanku lho Yang, aku ganteng nggak?" Mamat menuntut jawaban.


Belum sempat Vita menjawab pertanyaan dari Mamat, sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya.


Dia mengusap layar tipis dalam genggamannya, dan membuka pesan dari kontak mas Erwin kakaknya

__ADS_1


Dek.... kalo ada waktu tengokin ibu ya, ibu kangen katanya, kepengen ketemu kamu.


__ADS_2