
Suasana pagi di kediaman orang tua Vita sehari setelah pertunangan, terdengar ibu dan Erwin sedang berbincang, sementara Vita masih tergeletak lemas di tempat tidur sambil mengamati kedua cincin berlian yang melingkar di kedua jari manisnya, cincin lamaran dan cincin pertunangan.
Vita melirik seserahan yang sengaja di letakan sebagian di meja sudut kamarnya dan sebagian lagi diletakan berjejer di ranjangnya sebelah kanan.
Dengan berdecak Vita merasa kesal alih-alih bahagia dengan semua seserahan yang dibawa oleh Mamat, dari semua box yang dia terima tertera disana brand terkenal, mungkin seserahan yang dia terima saat ini harganya bisa mencapai ratusan juta atau bahkan milyaran rupiah, karena terdapat satu set perhiasan bertahta berlian disana.
Tok tok.... tok tok....
Pintu kamarnya diketuk seseorang, membuat Vita yang awalnya masih ingin goleran di tempat tidur memilih bangkit dari rebahannya, mencepol rambutnya asal.
Kriet.... pintu terbuka, Vita melotot melihat sosok yang berdiri di hadapannya dengan muka yang terlihat segar.
"Hallo calon istri," sapa Mamat tak lupa mengecup kening Vita lembut.
"Kok udah sampai sini aja, bukannya kita janjian nanti siang buat lunch sama keluarga kamu sekalian melepas kepergian mereka pulang ke Jakarta?" tanya Vita berjalan keluar dari kamar dengan diikuti Mamat di belakangnya, tujuannya mana lagi kalau bukan teras samping rumah, tempat terfavorit untuk Vita.
"Kenapa sih yang kayak nggak ikhlas gitu aku dateng?"
"Ya bukannya gitu, kemarin selesai acara malem kan, nyampai rumah pasti udah malem, kok sepagi ini udah nyampai sini lagi, nggak capek emang?" terang Vita sama cowok posesif yang telah resmi jadi tunangannya tersebut.
"Nggaklah kan ketemu calon istri." Senyum lebar menghiasi wajah Mamat, membuat wajahnya berkali-kali lipat lebih ganteng, membuat jantung Vita berdetak lebih kencang lagi.
"Kok bengong gitu, terpesona ya," bisik Mamat sensual.
"Ish... nyebelin." Vita bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dapur untuk menyiapkan kopi untuk Mamat.
Tak lama kemudian Vita kembali ke teras samping membawakan secangkir kopi untuk Mamat.
Sepeninggal Vita tadi ke dapur ternyata Erwin menghampiri Mamat untuk sekedar berbincang.
Vita meletakkan kopi ke meja di dekat Mamat, dan tanpa aba-aba, Mamat menarik lembut tangan Vita hingga Vita terduduk di pangkuan Mamat.
Vita mendelik, lalu memukul tangan Mamat lembut." Nggak malu diliatin kakak ipar?"
"Nggaklah yang penting kita kan nggak mesum sebelum sah," sahut Mamat cuek sambil tangannya melingkar memeluk perut ramping Vita.
"Udah ih aku mau mandi, kamu ngobrol dulu sama mas Erwin," pamit Vita langsung berdiri dari pangkuan Mamat.
__ADS_1
Erwin hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan keduanya, ada rasa bahagia melihat adiknya bahagia.
Tak berapa lama Vita sudah keluar dari kamarnya dalam keadaan segar, rambutnya masih terlihat setengah kering.
Suasana rumah ibu terlihat semakin ramai dengan kedatangan Gina dan keluarganya.
"Vit...panggil mas Erwin sama mas Metiu buat sarapan," perintah ibunya yang sedang sibuk menata makanan di atas meja makan dibantu Laras, Gina dan Ines.
"Mas, Hun, dipanggil ibu buat sarapan," panggil Vita hanya melongokan kepala dari balik pintu.
"Ayo Mat," ajak Erwin lalu keduanya bangkit dari duduknya.
"Bapak-bapak makannya di meja makan saja, ibu-ibu ngampar di tiker sana," kata ibu membuat semuanya tersenyum.
"Aku kan belum ibu-ibu ti," protes Ines.
"Bentar lagi kalo dilamar juga jadi ibu-ibu," sahut Gina yang sedang melintas di sana.
Vita dengan cekatan menuangkan nasi, sayur dan sepotong ayam goreng ke piring Mamat.
"Itu juga kebanyakan mas, biasanya juga cuman sarapan omelet," jawab Vita lalu mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
"Lihat tuh Mat, dia makannya banyak, siap-siap kerja keras ya biar adikku nggak kelaparan nanti," goda Gina melihat sarapan yang ada di piring Vita.
Mamat hanya tersenyum menanggapi godaan Gina, rasanya bahagia sekali melihat suasana kekeluargaan di rumah calon mertuanya ini, suasana yang tak akan pernah ia temui di keluarga Sutama Praja yang lebih banyak ketegangan di dalamnya.
Sambil menikmati sarapan mereka asyik berbincang membuat pagi ini semakin berwarna saja, lalu Vita membereskan piring bekas makan Mamat dan kedua kakaknya, dan membawanya ke tempat cuci piring.
"Ganti baju sana, kita keluar," kata Mamat melihat Vita kembali berbaring di tikar yang tadi buat alas ketika mereka sarapan tadi.
"Kemana?" tanya Vita terlihat mager,
"Ke suatu tempat, ayok, habis dari sana langsung maksi sama keluargaku sebelum mereka balik ke Jakarta," ajak Mamat menarik kedua tangan Vita agar bangun dari rebahannya.
"Hobby kok nggak berubah tho dek," ledek Laras gemes sendiri dengan tabiat Vita yang hobby rebahan itu.
"Biarin mbak kalo hobby nya cuman rebahan gitu, aku malah suka apalagi kalo kami udah nikah nanti, sesuatu yang aku harapkan justru," sahut Mamat membuat semuanya tertawa sedang Vita mendengus tak suka karena tahu maksud Mamat tadi.
__ADS_1
Vita bergegas mengganti pakaian dengan menggunakan dress dibawah lutut berwarna biru pemberian Mamat waktu itu, dia meng-touch wajahnya dengan sapuan bedak tipis dan lipstik natural, tak lupa sepatu dan tas dari salah satu brand terkenal yang harganya bisa dipakai makan selama beberapa bulan itu.
Setelah selesai Vita melangkah keluar sambil menenteng tas di tangan kirinya dan kotak perhiasan seserahan kemarin di tangan kanannya.
"Ibu.... tolong simpenin dong," pinta Vita sambil mengangsurkan kotak tersebut ke tangan ibunya.
"Kenapa ndak disimpen sendiri tho nduk?" tanya ibu berniat menolak permintaan Vita barusan, bagaimanapun semua seserahan itu adalah haknya Vita.
"Titip dulu ke ibu, nanti kalo habis nikah aku ambil lagi." Vita tetap menyodorkan kotak tersebut kepada sang ibu, yang diterima dengan enggan olehnya, karena khawatir hilang dicuri orang, karena ini bukan perhiasan seharga sejuta dua juta tapi ratusan juta.
"Nanti kita cariin brangkas bu, biar ibu nggak kepikiran," usul Erwin melihat ibu masih kebingungan menerima kotak tersebut.
Lalu Vita dan Mamat keluar rumah dengan mengendarai mobil menuju tempat yang dimaksud Mamat.
"Kita mau kemana sih Hun?" tanya Vita penasaran, karena kendaraan menuju keluar kota Solo menuju ke kota tempat tinggal mereka.
"Rahasia," jawab Mamat mengusap lembut rambut Vita.
Vita mengerucutkan bibirnya kesal, karena dia tipe orang yang tak suka main tebak-tebakan.
Mobil yang mereka kendarai berhenti di sebuah rumah dengan halaman luas, rumah berlantai dua dengan beberapa pekerjaan yang sedang bekerja merenovasi rumah tersebut.
"Ini rumah siapa?" tanya Vita bingung.
Mamat tersenyum lalu turun dari dalam mobil dan membukakan pintu mobil untuk Vita, dengan lembut Mamat menggandeng tangan Vita dan mengajaknya masuk.
"Selamat datang di rumah baru kita," bisik Mamat lembut sambil menuntun Vita untuk memasuki rumah tersebut.
"Ini beneran?" tanya Vita dengan mata berkaca-kaca menahan haru.
Mamat mengangguk mantap." Nanti kamu lihat lagi, mana yang kurang sesuai dengan kamu biar diubah lagi sama tukangnya."
Jujur perasaan Vita begitu terharu, dalam statusnya yang sekarang justru dia dicintai dan dihargai dengan begitu dalamnya, rasanya bahkan semua untaian kata terima kasih tak sanggup ia ucapkan kepada Mamat.
"Boleh peluk nggak?" tanya Vita serak menahan tangis harunya.
"Sini," sahut Mamat menyambut pelukan Vita.
__ADS_1