
Om Henry menyodorkan sebuah amplop ke hadapan Mamat.
"Apa ini om?" tanya Mamat menautkan alis dan menerima amplop tersebut.
"Dari mbak Vita," jawab om Henry.
"Vita tadi kesini?" tanya Mamat dengan mata berbinar.
Henry menggeleng." Tadi Sena yang mengantarnya."
Dengan tak sabar Mamat mengeluarkan kertas di dalamnya dan membaca surat pengunduran diri dari Vita dengan nafas memburu, bahkan Vita belum seminggu bekerja dengannya dan mengajukan resign?
"Saya rasa biarkan mbak Vita berfikir dulu tuan muda, jangan memaksanya, biar dia memutuskan mana yang terbaik buat dirinya." Nasihat bijak om Henry.
"Tapi aku nggak bisa ngelepasin dia begitu aja om, aku beneran udah cinta sama dia, dia yang aku mau selama ini," desah Mamat frustasi.
"Tuan muda tahu kan adanya takdir, kemana kaki mbak Vita melangkah, kalo jodohnya tuan muda pasti dia akan kembali dengan cara yang ajaib."
"Untuk hal ini, aku akan memaksakan takdir om, kalo perlu dengan caraku akan aku ikat Vita agar tidak bisa keluar lagi dari hidupku." Rahang Mamat mengeras, menahan amarah yang kembali menyeruak.
"Astaga! Tuan muda jangan takabur, inget Gusti yang punya sebaik-baiknya rencana."
Mamat hanya menghembuskan nafas kasar, ya memang terlalu takabur namanya kalo dia memaksakan kehendak seperti ini, tapi dia hanya bermimpi berumah tangga dengan Vita bukan yang lain.
"Sabar, perbanyak doa dan serahkan ke Yang Kuasa biar dimudahkan dan dilancarkan jalannya," lanjut Henry bijak.
"Thanks om atas nasehatnya, tolong minta Toni buat handle kerjaan Vita dulu ya om, aku belum acc surat pengunduran dirinya ini." Mamat kembali melipat kertas tersebut dan memasukkan dalam laci.
Setelah pembicaraannya dengan Henry selesai, Mamat melajukan mobilnya menuju ke kafe-nya Vita, biasanya kalo lagi banyak pikiran seperti ini, Vita akan menyibukan dirinya disana.
__ADS_1
Tak sampai lima menit Mamat berada disana, karena menurut pengakuan Sena tadi Vita hanya mampir sebentar untuk meminta tolong Sena mengantar surat ke Mamat, dan mengatakan untuk beberapa hari dia tak akan datang ke kafe.
Karena tak menemukan Vita di kafe, Mamat melajukan kembali mobilnya, tujuan selanjutnya adalah rumah Vita, ia menginjak gas dalam-dalam memburu waktu agar segera sampai ke tujuan.
Tapi lagi-lagi Mamat harus kecewa karena mendapati rumah itu dalam keadaan kosong, bahkan ia ketuk berulang kali tak mendapat respon si empunya rumah.
Tahu Vita melarikan diri lagi dari dirinya, Mamat kemudian membuka ponselnya dan memeriksa GPS yang ia pasang di ponsel Vita.
GPS tak menunjukkan sinyal apapun, sudah dipastikan Vita mematikan ponselnya, agar Mamat kehilangan jejak.
Huft.... rasanya separo oksigen yang Mamat hirup tak lagi sampai ke paru-parunya.
Kepergian Vita membuat dirinya kembali limbung, tak bisa Mamat bayangkan apabila Vita beneran menghilang dari kehidupannya, mungkin dunianya yang berwarna sejak kedatangan perempuan itu akan kembali menghitam dan suram.
Satu pertanyaan timbul dalam benaknya, kalo sampai Vita tak mau lagi berurusan dengannya karena ucapan maminya kemarin, bagaimana dengan dirinya?
Tak berapa lama Mamat melajukan mobil menuju ke Solo, rumah orang tua Vita yang menjadi tujuannya.
***
Sementara perempuan cantik yang sedang membuat Mamat blingsatan itu sekarang sedang asyik duduk di sebuah bangku kayu di taman kota yang banyak terdapat pedagang kaki lima yang menjajakan beraneka jenis makanan.
Baru lima menit yang lalu dua tusuk bakso bakar nangkring di ususnya, di tangannya kini sudah ada tahu bulat.
Dengan pelan Vita mencomot tahu tersebut dan memasukan dalam mulutnya, tak ada desisan kepedesan karena tahu yang tercampur bubuk cabe itu.
Deritan kursi terdengar karena seseorang duduk di sampingnya, kayunya sudah tua jadi ada pergerakan sedikit saja dirasakan olehnya, Vita menoleh seketika merotasi matanya, dia sedang ingin sendiri dan tak mau diganggu.
"Nggak papa kan aku duduk disini?" tanya Arya sopan meminta ijin.
__ADS_1
"Ini bukan bangku nenek moyang gue, jadi siapa aja boleh duduk disitu, yang penting jangan ganggu kenyamanan aja!" Ketus Vita berucap, jujur bertemu Arya disini secara kebetulan membuatnya malas.
"Vit...." panggil Arya pelan yang sayangnya tak mendapat respon berarti dari perempuan di sampingnya yang tetap asyik menikmati tahu bulat ditangannya.
"Aki....aku hanya ingin meminta maaf sama kamu, aku rasa aku belum meminta maaf secara layak sama kamu, maafin aku ya Vit," ucap Arya lirih, nadanya penuh penyesalan.
"Sudah berlalu, ngapain juga minta maaf. Gue juga sudah melupakan semuanya kok, semua juga sudah tak bersisa termasuk Galang yang memilih pergi dari kehidupan gue, dan gue yakin lo tak pernah tengok makamnya, kami bahkan tak pernah menjadi bagian penting dalam hidup elo, jadi basi kalo harus kembali mengungkit itu!"
"Vita aku tahu aku salah... "
"Pengakuan elo tak merubah apapun Arya, jadi mari kita jalani takdir kita masing-masing. Permisi!" Vita bangkit berdiri membuang tahu bulat yang masih bersisa beberapa buah itu ke tong sampah tak jauh dari tempatnya, lalu melenggang pergi.
Arya menghembuskan nafas lelah, sekarang ia meratapi segala kebodohannya yang terus berselingkuh di belakang Vita ketika dulu mereka masih terikat dalam pernikahan, hingga akhirnya Vita menyerah dan memutuskan pergi dari hidupnya.
Demi apapun sekarang Arya menyesal, harus terjebak dalam pernikahan dengan perempuan otoriter, posesif dan mau menang sendiri.
Karma is real right? Ya sekarang ia harus menerima semua karma atas semua perbuatan yang telah dilakukannya dulu, menukar Vita dengan kesenangan sesaat dan harus kehilangan perempuan sebaik Vita, sungguh penyesalannya kini tiada guna lagi.
Setelah pertemuan tak terduganya dengan Arya, alih-alih pulang, di tengah jalan Vita justru membelokkan langkahnya memasuki sebuah gerai ayam cepat saji.
Belum puas melampiaskan kekesalannya dengan orang tua Mamat dan sekarang ditambah pertemuannya dengan Arya, Vita memesan dua potong ayam, satu kentang ukuran medium dan sebuah burger tak lupa segelas besar cola sebagai pelengkapnya.
Astaga.... coba hitung berapa kalori yang masuk ke dalam tubuh Vita tatkala sedang stres, untung saja tubuh Vita tak gampang menggemuk.
Vita kembali asyik mengunyah makanannya, tak peduli tatapan orang sekitar yang menatap aneh kepadanya karena begitu banyaknya makanan yang ada di hadapannya.
Menghabiskan sedikit demi sedikit makanan di depannya, karena dia hanya ingin melampiaskan rasa lelah yang menyesakkan dadanya.
Karena besok ia akan kembali berdiri menjadi Vita yang kuat, tangguh dan tak terkalahkan oleh keadaan.
__ADS_1