
Begitu kesepakatan dari kelompok negara netral masuk, Ethan sibuk meninju kesepakatan itu. Dari semua permintaan yang diajukan oleh pihak kelompok negara netral dan juga permintaan yang akan diajukan Ethan untuk Sarayu, Ethan benar-benar berhati-hati dalam membaca permintaan itu.
Dua hari kemudian, kesepakatan antara kelompok negara netral dan Pasukan Perdamaian Dunia secara rahasia akhirnya telah selesai disepakati.
“Besok kau akan pergi dengan Sixth, Savior.” Ethan menyempatkan dirinya untuk melihat Sarayu sebelum hari keberangkatannya besok.
“Ya, Zero. Aku sudah tahu itu.” Mendengar Ethan yang tidak lagi memanggil namanya sendiri dan memanggil dirinya dengan kode nama miliknya, Sarayu yang sedang membereskan keperluannya untuk tugas besok kemudian menyebut Ethan dengan kode namanya juga.
“Apakah kamu sudah mengecek sepatu itu?” Ethan yang melihat Sarayu sedang bersiap-siap kemudian melihat sepatu roda yang dibuat oleh Ninth dan Forth atas permintaan Sarayu.
“Sudah, Zero. Ninth sudah datang kemari untuk mengecek kondisi sepatu ini dan kondisinya juga baik-baik saja. Ninth bahkan menyiapkan beberapa parts di dalam markas ini jika dalam tugas nanti mungkin aku akan merusak beberapa bagian.”
Ethan tersenyum mendengar jawaban Sarayu. “Baguslah kalau begitu. Ninth rupanya lebih dulu bekerja sebelum aku ingatkan. Sebelum hari keberangkatanmu besok, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”
Sarayu menghentikan kegiatannya dan menatap Ethan dengan wajah serius. “Apa itu, Zero?”
“Jika bisa. . . jika kamu tidak sedang terdesak, kamu tidak perlu menggunakan sepatu itu. Kamu punya tongkat merah-Ruyi dan kemampuanmu dalam mengendalikan angin, kurasa jika tidak dalam situasi yang cukup berbahaya, menggunakan dua kemampuan itu sudah sangat cukup untuk melindungimu dan Winner nantinya.” Ethan memberi nasihatnya demi keselamatan Sarayu di masa depan dan juga membuat Sarayu tidak begitu mendapat perhatian dari Aliasi Arael.
“Aku mengerti, Zero. Aku akan mengingatnya.”
Ethan tersenyum mendengar Sarayu yang setuju dengan nasihatnya. Ethan kemudian teringat sesuatu yang penting karena misi Sarayu yang mengharuskan Sarayu untuk tinggal jauh dari markas Pasukan Perdamaian Dunia. “Bagaimana dengan ponselmu? Apakah Forth sudah memasang aplikasi khusus agar dia bisa melacak keberadaanmu?”
Sarayu menganggukkan kepalanya lagi. “Sudah, Zero. Forth sudah memberikan ponsel dan jam tangan pintar untukku agar dirinya bisa terus memantauku dan mengecek keberadaanku.”
“Oh baiklah kalau begitu. Sepertinya aku yang terlalu khawatir.” Ethan menggaruk kepalanya karena salah tingkah dengan kekhawatirannya yang sedikit berlebihan.
Merasakan kekhawatiran Ethan yang sedikit berlebihan, Sarayu kemudian membuat senyuman di wajahnya. “Zero, yakinlah padaku. Aku akan baik-baik saja. Bukankah kau sudah melihat bagaimana masa depanku nanti? Kau tidak perlu terlalu khawatir. Forth akan selalu memantauku. Sixth juga bisa datang kapanpun jika aku membutuhkan bantuan di masa depan.”
Ethan berusaha memasang senyuman terbaik di wajahnya ketika mendengar ucapan Sarayu yang berusaha untuk membuatnya merasa tenang. “Aku mengerti. Aku tidak akan terlalu khawatir lagi, Savior.”
Keesokan harinya-hari keberangkatan Sarayu.
“Saya berangkat dulu.” Sarayu berpamitan kepada seluruh anggota Pasukan Perdamaian Dunia sebelum pergi dengan Sixth kecuali Ninth yang masih sibuk bekerja di ruangannya.
__ADS_1
“Ingatlah pelajaran yang aku berikan,” ujar First dengan senyuman di wajahnya.
“Jika ada sesuatu yang mengganggumu, jangan sungkan untuk bertanya,” ujar Forth dengan suara datarnya.
“Kau juga bisa menghubungiku, Savior,” ujar Seventh dengan senyuman kecil di bibirnya.
Sarayu tersenyum mendengar rekan kerjanya yang sebulan lebih ini telah menemaninya. “Aku mengerti. Aku tidak akan sungkan untuk menghubungi kalian.”
“Jaga dirimu, Savior.” Dylan yang berada di samping Ethan, melangkahkan kakinya mendekat ke arah Sarayu dan memeluk tubuh Sarayu.
“Ya, Tuan Dylan. Saya pasti akan berhati-hati dan menjaga diri dengan baik.”
Dylan melepaskan pelukannya di tubuh Sarayu dan melihat ke arah Ethan dengan tatapan penuh tanda tanya. “Apa kau tidak ingin berkata apapun pada Sarayu, Ethan?”
Ethan yang sedang memikirkan kata-kata apa yang pantas dikatakannya pada Sarayu, dengan ragu membuka mulutnya untuk berkata. Namun niat itu terhenti, ketika Ninth yang tadi masih sibuk bekerja di ruangannya tiba-tiba berlari mendekat ke arah Sarayu sembari membawa koper kecil di tangannya.
“Savior, tunggu!” teriak Ninth dengan napas tersengal karena berlari sekuat tenaga dari ruangannya.
Jika Seventh sibuk mengomentari kedatangan Ninth yang sedikit berlebihan, First, Ethan, Dylan dan beberapa orang lainnya kecuali Forth, memandang ke arah koper yang dibawa oleh Ninth.
“Koper apa itu, Ninth?” First bertanya lebih dulu.
“Ya, Ninth. Apa itu?” Dylan yang juga sama penasarannya tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
“Ini untukmu, Savior,” ujar Ninth sembari menyerahkan koper putih itu kepada Savior. “Ini benda ketiga yang kamu minta. Maaf aku baru menyelesaikannya.”
Sarayu menatap ke arah koper putih dengan mata berbinar dan kemudian bergantian menatap Ninth dan Forth secara bergantian. Sarayu kemudian menerima koper itu dan langsung membukanya. Mata Sarayu benar-benar terpesona melihat dua benda di dalam koper itu. “Ini. . .”
“Benar. Itu benda yang kamu minta. Semalam Forth sudah selesai memasang programnya dan semalaman aku merakit setiap bagiannya termasuk menyimpan memori dari semua benda dan jumlah komponen penyusunnya. Hanya saja. . .”
“Hanya saja apa?” Dylan yang juga sama takjubnya dengan Sarayu saat ini memandang benda itu dengan mata berbinar dan penuh dengan rasa ingin tahu.
__ADS_1
“Hanya saja kemampuan benda ini terbatas. Ada dua mode dalam pistol ini. Di bagian yang seharusnya merupakan bagian pelatuk aku pasang empat tombol. Tombol pertama adalah mode pistol yang akan menembakkan peluru di dalamnya. Mode ini berfungsi sebagai alat serang utama. Mode kedua pada tombol kedua adalah mode penghancur komponen di mana pistol ini akan menembakkan frekuensi tertentu yang mampu membuat benda apapun di depannya terlepas dalam komponen-komponen. Mode ketiga pada tombol ketiga adalah kebalikan dari mode kedua. Cara kerjanya sama, tapi frekuensi yang ditembakkan adalah beda. Sedangkan tombol keempat masih kosong. Programnya masih belum selesai.” Ninth memberikan penjelasan panjang kepada Sarayu dan membuat semua orang di ruangan itu selain Forth tercengang.
“Bisakah aku mencobanya, Ninth?”
“Tentu saja.” Ninth kemudian melirik ke arah Seventh dan memberi isyarat kepada Seventh untuk mendekat padanya.
“Apa??” Seventh membalas lirikan Ninth karena tidak mengerti.
“Buatlah beberapa benda yang cukup besar. Satu benda sederhana seperti tembok yang besar. Kedua benda yang rumit seperti ponsel. Untuk benda kedua buatlah dengan jumlah seratus buah.”
Seventh membuka mulutnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari Ninth. “Sebanyak itu??”
“Ya, sebanyak itu. Sudah cepat buat. Semua sudah menunggu untuk melihat kehebatan dari benda itu.”
Seventh menghela napas panjang sebelum memiringkan sedikit kepalanya untuk membayangkan benda yang harus dibuatnya dalam waktu singkat. Bayangan pertama yang muncul di dalam benak Seventh adalah tembok besar Cina yang sangat ingin dilihatnya.
Boom.
Bagian dar tembok besar Cina muncul di dalam ruangan itu dan membuat getaran yang hebat ketika benda itu keluar dari dalam benak Seventh.
“Ini??” ujar Fifth terkejut. “Bukankah ini bagian dari tembok besar Cina?”
Dylan menganggukkan kepalanya setuju. “Benar, ini bagian dari tembok besar Cina.”
“Apa kau ingin menghancurkan gedung ini dengan membayangkan ini, Seventh?” ujra Sixth dengan mata membelalak terkejut.
Seventh yang masih fokus dengan pikiran di dalam benaknya, tidak menggubris komentar-komentar yang keluar dari mulut orang-orang di dekatnya saat ini. Seventh kembali membayangkan ponsel terbaru yang ingin dimilikinya namun tidak bisa dimiliknya karena kondisi perang yang saat ini sedang terjadi membuat distribusi ponsel itu begitu terbatas-Iphone 21.
Boom.
Dari langit-langit, Iphone 21 yang baru diluncurkan seminggu yang lalu berjatuhan ke arah tembok besar Cina.
__ADS_1
“Seventh!” Second berteriak karena terkejut melihat ponsel-ponsel yang mulai berjatuhan dari langit dan dalam hitungan detik akan jatuh menimpa dirinya dan juga orang lain di ruangan yang sama.. “Apa kau ingin membunuh kita semua dengan menjatuhkan semua ponsel itu dari langit-langit??”