THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 47 KEMBALI PART 2


__ADS_3

      “Sarayu!!!” Winner berteriak melihat Sarayu yang nyaris kehabisan semua energi dalam tubuhnya karena membuat pelindung angin berbentuk kubah yang sangat besar untuk pertama kalinya.


           “Aku baik-baik saja, Winner. Aku masih bertahan sedikit lebih lama hingga gelombang tsunami ini kembali lagi ke laut.” Sarayu ingat bagaimana Third mengajarkannya teknik pengobatan yang dimilikinya.


           “Pengobatan macam apa yang kamu kuasai, Third?”


           “Aku menguasai banyak jenis pengobatan, Miss Sarayu. Dari teknik tradisional dari berbagai negara hingga teknik medis yang perlu dipelajari dalam waktu yang tidak singkat.”


           “Benarkah itu? Bagaimana kau bisa memiliki kemampuan itu? Rasanya seperti aku sedang bertemu dengan dewa obat dari Cina saja,” puji Sarayu.


           “Orang tuaku adalah dokter sedang kakekku adalah ahli pengobatan tradisional. Jadi sepanjang hidup, aku besar dalam keluarga yang sudah tidak asing dengan teknik pengobatan. Hanya saja sebelum aku menerima kemampuan ini, aku adalah seseorang yang lahir dengan sedikit masalah di otak. Kalian biasanya menyebut hal ini dengan autis.”


           “Ah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu menceritakan sesuatu yang mungkin tidak ingin kau ceritakan, Third.”


           Third tersenyum. “Tidak, ini bukan sesuatu yang aku sembunyikan. Semua orang di Pasukan Perdamaian Dunia tahu kondisiku sebelum aku memiliki kemampuan dari pecahan meteor itu.”


           “Jadi. . . bisa kutebak, masalah yang kamu derita itu kamu sembuhkan sendiri dengan menggunakan kemampuan yang kamu dapatkan dari pecahan meteor itu??”


           Third menganggukkan kepalanya. “Ya, aku menyembuhkan kemampuan ini sendiri dan akhirnya aku tahu bagaimana cara orang kebanyakan melihat kami para penderita autis.”


           “Lalu. . . apakah ada cara jika sewaktu-waktu aku yang harus bertarung di lapangan melawan musuh ini kehabisan tenaga sebelum mengalahkan musuh??” Awalnya. . . Sarayu mengajukan pertanyaan itu hanya karena iseng saja. Tapi siapa yang akan menyangka jika Third tidak menganggap pertanyaan itu sebagai keisengan saja.


           “Bagus sekali pertanyaanmu, Miss Sarayu. Selama ini aku mendampingi First, aku selalu menemukan masalah ini dalam perjalanannya. Baik itu anggota kita dalam Pasukan Perdamaian Dunia atau pasukan yang ikut dalam perang.”


           “Lalu, apakah kau sudah menemukan jawaban untuk itu, Third?”


           Third menganggukkan kepalanya. “Ya, aku sudah menemukannya. Hanya saja tidak semua orang mampu menguasainya, Miss Sarayu. Bahkan First pun tidak bisa menguasai teknik itu.”


           “Teknik?”


           “Ya, teknik. Karena masalah yang berulang kali muncul, aku mencari banyak referensi untuk mengatasi masalah itu dan pencarianku terhenti pada teknik kuno di mana orang-orang di masa lalu selalu mampu berperang dalam jangak waktu yang lama tanpa sedikit pun merasa kelelahan.”

__ADS_1


           “Teknik apa itu?” Mata Sarayu berbinar-binar karena rasa ingin tahunya.


           “Membakar lemak dari tubuh dan mengubahnya menjadi energi yang kita butuhkan. Seperti yang kita ketahui tubuh kita terdiri dari banyak komponen dan di antaranya adalah lemak. Beberapa orang memiliki jumlah lemak yang tinggi dalam tubuhnya dan beberapa orang memiliki jumlah lemak yang rendah dalam tubuhnya. Dengan mengubah lemak di dalam tubuh kita menjadi energi, maka kita akan punya cukup banyak energi meski kita tidak makan, minum ataupun istirahat.”


           “Kau yakin??” tanya Winner lagi.


           “Aku yakin, Winner. Aku punya cara untuk mengatasi hal itu.”


           Setelah selama 30 menit bertahan membuat pelindung kubah untuk melindungi kota J dari amukan tsunami, perlahan gelombang tsunami mulai kembali ke laut dengan membawa banyak hal di dalamnya.


           “Ya, Tuhan!!!” Winner bergidik ngeri ketika melihat gelombang tsunami yang kembali ke laut dengan membawa banyak hal, termasuk banyak tubuh korban di dalamnya.


           “Jika kau tidak sanggup melihatnya, kau bisa menutup matamu, Winner.” Sarayu memberikan peringatan kepada Winner karena melihat ekspresi takut di wajah Winner.


           “Tidak! Aku tidak boleh menutup mataku. Aku harus memberikan penghormatan kepada mereka yang tewas dalam bencana ini. Melihat hal-hal seperti ini, bukan pertama kalinya bagiku, Sarayu.”


           “Baiklah kalau begitu.” Setelah mengatakan hal itu, Sarayu jatuh terduduk bersamaan dengan hilangnya pelindung angin berbentuk kubah yang melindungi kota J dari amukan gelombang tsunami. Sial! Siapa yang akan menyangka membuat pelindung sebesar ini-untuk melindungi satu kota saja selama kurang lebih tiga puluh menit, tenagaku benar-benar nyaris terkuras habis??? Jika selama pelatihan aku tidak iseng bertanya kepada Third mengenai cara untuk bertahan, mungkin aku hanya bisa bertahan selama sepuluh menit saja tadi.


           “Kau baik-baik saja, Sarayu??” Winner berlutut di samping Sarayu dan berusaha untuk membantu Sarayu bangkit.


           Winner kemudian berbalik dan menepuk punggungnya sendiri. “Naiklah ke punggungku, Sarayu! Aku akan membawamu di punggungku.”


           Mata Sarayu membelalak mendengar ucapan Winner kepadanya. Ini adalah pertama kalinya, Winner melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukannya. “K-kau?? A-apa kau benar-benar Winner yang aku kenal, huh??”


           “Apa maksud pertanyaanmu itu, Sarayu?? Tentu saja aku adalah Winner. Kau tanyakan saja pada semua orang, mereka pasti tahu aku adalah Winner yang tampan dan terkenal itu.”


           Sarayu memalingkan wajahnya dan tertawa kecil. “Hahahahaha. . . . Di sini tidak ada yang mengenalmu, Winner. Di waktu ini kau belum terkenal.”


           “Ah benar. Kalau begitu saat kembali nanti, kau bisa bertanya pada semua orang dan mereka pasti akan memberikan jawaban yang sama padamu, Sarayu.” Winner membalas ucapan Sarayu dengan wajah polosnya. Namun setelah beberapa saat Winner berjongkok, Sarayu yang masih duduk di tempatnya tidak segera bergerak naik ke punggung Winner dan membuat Winner menunggu lama. “Hei Sarayu!! Cepat naik! Kau membuatku menunggu terlalu lama!”


           “Kamu yakin??” Sekali lagi, Sarayu bertanya kepada Winner untuk memastikan lagi jika Winner tidak sedang berbasa basi saja.

__ADS_1


           “Yakin, dengan sangat yakin. Begini-begini aku adalah seorang pria. Aku tidak akan bisa membiarkanmu yang kelelahan itu, terus menjagaku sementara aku baik-baik saja. Harga diriku sebagai seorang pria tidak bisa membiarkan wanita yang terluka. Dan kau, Sarayu! Meski kau adalah pengawalku, meski kau adalah anggota Pasukan Perdamaian Dunia sekalipun, kau tetaplah wanita. Jadi sekali-kali, kau bisa memintaku untuk membawamu di punggungmu jika kau terluka atau kelelahan.” Winner menoleh ke belakang di mana Sarayu masih duduk dengan lemah.


           “Baiklah, hanya kali ini saja. Lain kali. . . aku tidak ingin berada di punggungmu, apalagi ketika berada di depan penggemarmu. Jika hal itu terjadi hidupku yang tenang ini, akan hilang begitu saja karena ulah penggemarmu itu, Winner.”


           Winner menganggukkan kepalanya mengerti. “ Aku mengerti, Sarayu.”


           Sarayu kemudian memanggil tongkat merah miliknya-Ruyi untuk kembali ke bentuk jarum yang biasanya berada di telinga kanannya. Setelah Ruyi kembali, Sarayu kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke punggung Winner yang sedang menunggunya dirinya.


           Hup. Sarayu sudah berada di punggung Winner dengan kedua tangannya yang sedang memeluk bahu Winner.


           “Sekarang aku akan berdiri,” ujar Winner memberi Sarayu peringatan.


           “Baik.”


           Winner bangkit dari posisinya yang berlutut dengan membawa Sarayu di punggungnya. Merasakan Sarayu berada di belakangnya dan mendapati kedua tangan Sarayu sedang memeluk dirinya, Winner tersenyum kecil merasa bahagia. Haruskah aku berterima kasih pada seseorang yang membuat kami berdua berada di sini? Berterima kasih karena bencana ini mungkin adalah salah tai berkat seseorang yang membuat kami berdua berada di sini, aku jadi punya kesempatan membawa Sarayu di punggungku, pikir Winner.


           “Apa aku berat?” tanya Sarayu dengan suaranya yang sedikit enggan.


           Winner menggelengkan kepalanya. “Tidak, kau sama sekali tidak berat. Aku justru merasa setelah kita kembali, sebaiknya kau makan dengan sangat banyak karena kau sangat ringan.”


           “Lemak di tubuhku sekarang mungkin sangatlah rendah. Tadi demi mempertahankan pelindung angin untuk melindungi kota ini, aku membakar hampir semua lemak di tubuhku.”


           Winner melirik ke arah Sarayu masih dengan senyuman di bibirnya. “Apakah cara seperti itu, ada??”


           “Ya, rekanku di Pasukan Perdamaian Dunia mengajarkanku caranya.”


           Winner tersenyum semakin lebar ketika kakinya melangkah dengan Sarayu di punggungnya. Sarayu yang memeluk erat karena takut terjatuh membuat Winner merasa semakin senang dengan keadaan ini. Winner berharap waktu ini berjalan sangat lambat dan seseorang tidak akan datang untuk menemukan mereka.


           Namun harapan Winner itu pupus begitu saja, ketika baru berjalan sebanyak 20 langkah.


           “Savior, Tuan Winner, kami datang menjemput kalian!”

__ADS_1


           “Sixth, Second!” teriak Sarayu mengenali dua rekannya yang muncul secara tiba-tiba di depannya dan di depan Winner.


           Sial! Baru saja aku membuat harapan agar mereka berdua tidak muncul di depanku dan sekarang mereka tiba-tiba saja muncul menghancurkan harapanku. 


__ADS_2