THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 72 BATU HITAM PART 1


__ADS_3

            Winner langsung berada di sisi Sarayu ketika proses penyelamatan Sarayu berhasil. Winner bahkan menolak untuk kembali ke negaranya karena ingin memastikan keadaan Sarayu dan menemani Sarayu hingga dia membuka matanya.


            “Apa kau akan membiarkan Winner itu tetap di markas kita??” Dylan yang berjalan dan melihat Ethan dari luar ruangan Sarayu yang sedang dirawat bertanya kepada Ethan sembari melihat Winner yang duduk di samping tempat tidur Sarayu tanpa melepaskan tangan Sarayu.


            “Tadinya. . . aku berniat mengirimnya, Dylan-sahabatku. Tapi keputusan mengembalikan Winner ke negaranya seperti yang pernah kita lakukan, nyatanya justru menjadi bumerang bagi kita. Jika harus mengembalikannya, kita tidak bisa memberi pengawal yang biasa kepada Winner. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dan membuat rekanku berada dalam masalah lagi.” Ethan menatap Winner dan Sarayu yang masih tertidur dengan tatapan sedih.


            “Akhirnya kau memilih untuk membiarkan Winner di sini??” Dylan mengulangi pertanyaannya kepada Ethan. “Dan jika Winner nantinya harus kembali, kau akan mengirim Savior kembali menjadi pengawalnya lagi??”


            “Sepertinya tidak ada pilihan lain, mengingat saat ini Winner adalah satu dari kelemahan Savior yang menjadi incaran dari Knight Arael.”


            “Pada akhirnya cinta Winner yang berlangsung selama bertahun-tahun akan menang. . .”ucap Dylan sembari tersenyum melihat bagaimana Winner selalu berada di sisi Sarayu.


            “Sepertinya. . . kisah mereka tidak akan semudah itu, Dylan. Entah bagaimana. . . wanita itu-Savior kita itu terlibat banyak hal.”


            “Apa maksud ucapanmu, Ethan??” Dylan mengerutkan keningnya karena tidak memahami ucapan Ethan saat ini. “Apa ada sesuatu yang belum kamu ceritakan padaku, Ethan??”


            “Nanti. . . setelah aku mendapatkan kepastian, aku akan mengatakannya padamu, Dylan.”


            Ethan kembali menatap Sarayu yang masih tertidur dengan tenang di atas tempat tidurnya. Sembari melihat Sarayu, Ethan berbicara sendiri di dalam benaknya. Hidupmu. . . terikat dengan banyak hal, Sarayu. Pria pemilik batu itu. . . darah yang mengalir dalam dirimu, lalu dua pria yang memiliki hubungan denganmu. Satu di antaranya adalah seseorang yang harus kau lindungi dan satu lagi adalah seseorang yang mungkin adalah pemilik hatimu yang sesungguhnya. . . bagaimana caranya kamu bisa berada di titik ini, Sarayu? Pilihan-pilihan apa yang kau ambil sepanjang hidupmu hingga berakhir di sini dan membuat menerima takdir berat ini?


*


            “Kita bertemu lagi, Nak.”


            Sarayu terkejut ketika mendengar suara asing di telinganya. Kepalanya menengadah ke atas di mana suara itu berasal. Begitu melihat ke atas, mata Sarayu bertemu dengan sosok pria dengan kabut yang mengelilingi wajahnya lagi dan tidak butuh waktu lama bagi Sarayu untuk mengenali sosok itu.


            “Kau lagi???”


            “Bukankah kau harusnya merasa senang bertemu denganku, Sarayu??”

__ADS_1


            Sarayu bangkit dari tidurnya dan kemudian berusaha untuk menggapai pria yang melayang di udara itu. Namun sekuat apapun Sarayu berusaha untuk meraihnya, tangannya tidak pernah bisa menggapainya.


            Sial! Sarayu mengumpat di dalam benaknya karena merasa kesal. “Kali ini kenapa kau muncul di hadapanku lagi?? Kenapa aku ada di sini lagi dan bertemu denganmu lagi?”


            “Karena waktunya sudah tidak lama lagi. Sebentar lagi. . . kita berdua akan bertemu di dunia nyata dan karena aku sudah tidak sabar, aku ingin bertemu denganmu.”


            Cih, siapa yang akan percaya dengan ucapan itu??? Sarayu berbicara di dalam benaknya sembari memalingkan wajahnya.


            “Kau tidak percaya padaku?? Padahal aku selalu jujur padamu, Sarayu.”


            “Bagaimana kau bisa tahu apa yang aku pikirkan??” Sarayu langsung menolehkan wajahnya ke arah sosok itu dan kini menambahkan tatapan tajam dalam pandangannya.


            “Aku ini sudah mengawasi dalam waktu yang lama, Sarayu. Aku selalu menonton hidupmu di tempatku berada. Tidak hanya kau saja, aku juga menonton kehidupanmu dan saudara-saudaramu.”


            “Kau pasti stalker bukan??” ujar Sarayu.


            “Lalu untuk apa kamu melihat kehidupanku dan kehidupan saudara-saudaraku??” Awalnya Sarayu menanyakan kalimat itu dengan niat iseng saja, karena di dalam hatinya Sarayu sudah mengecap pria itu sebagai penguntit. Tapi jawaban yang diterima oleh Sarayu lebih dari cukup sebagai jawaban bagi Sarayu.


            “Untuk memilih satu dari kalian. Aku harus memilih satu orang dari kalian untuk memegang batu ini.” Di tangan pria itu, secara tiba-tiba muncul sebuah batu hitam yang dikenali oleh Sarayu.


            “Batu itu. . .”


            “Batu ini adalah milikku, Sarayu.”


            Sarayu terkejut mendengar ucapan singkat dari sosok pria yang berdiri tidak jauh darinya itu. Ini tidak mungkin. Bagaimana batu yang dikatakan oleh Ethan sebagai batu meteor itu adalah milik sosok ini?? Apa mungkin dia sedang berbohong padaku?? Tapi. . . jika dia berbohong, dia tidak akan bisa tahu bagaimana rupa dari batu itu karena selama ini yang kami terima semuanya adalah bagian dari batu itu yang telah terbelah??


            “Kau pasti tidak percaya dengan ucapanku bukan??”


            Sarayu menatap sosok pria itu dengan tajam karena sekali lagi, sosok itu mampu membaca apa yang ada di dalam pikiran Sarayu. “Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak percaya padamu??”

__ADS_1


            “Tidak ada. Aku tidak akan melakukan apapun.”


Sarayu melihat senyuman di bibir sosok pria itu. Meski wajahnya tertutup oleh kabut, anehnya beberapa kali Sarayu dapat dengan jelas melihat senyuman di bibirnya.


            “Aku. . . ini bukan tipe orang yang keras kepala ketika sesuatu terjadi. Bahkan sering kali aku berada dalam situasi genting sekalipun, aku akan bersikap santai dan menyerahkan semuanya kepada waktu. Kali ini pun sama. Jika kau memang tidak percaya padaku, aku tidak masalah karena kelak waktu akan menjawab menggantikanku dan jawaban yang diberikan oleh waktu adalah jawaban yang paling tepat di waktu yang tepat. Sayangnya. . . beberapa manusia selalu suka tidak sabaran dan menuntut jawaban pertanyaan mereka ketika mereka belum siap menerimanya.”


            Sarayu mengerutkan alisnya karena tidak memahami ucapan dari pria itu. “Jadi intinya. . . kau tidak akan  berkata lebih jauh lagi tentang batu itu dan alasan kenapa batu milikmu itu sekarang tersebar di tangan beberapa orang??”


            “Kalau untuk itu. . . aku akan mengatakannya padamu, Sarayu. Batu ini. . .” pria itu mengangkat batu hitam di tangannya, mendekatkannya kepada Sarayu dan membuat Sarayu melihatnya lebih dekat. “Batu ini harusnya keluar dari persembunyiannya di waktu yang telah ditentukan. Waktu yang aku maksud adalah waktu di mana seseorang yang mampu mengendalikan dan menggunakannya dengan baik lahir ke dunia. Pemilik batu ini kelak akan disebut sang penyelamat.”


            “Lalu. . . karena batu itu sudah keluar, apakah pemilik sesungguhnya sudah lahir? Dan di mana orang itu sekarang?” tanya Sarayu sembari mengatur pikirannya dan mencerna apa yang didengarnya.


            “Aku tidak bisa mengatakannya. Tapi satu hal yang pasti. . . sesuatu yang ditakdirkan menjadi milikmu, mereka akan tetap menjadi milikmu meski hilang sekalipun. Batu ini memiliki tuan sejak awal, tuan yang telah ditunjuk olehnya dan kelak batu ini akan kembali kepada tuannya.”        


            Sarayu menatap ke arah sosok pria itu dengan tatapan tajam. “Kau ingin mengatakan padaku jika suatu saat nanti kemampuanku ini akan hilang dariku bukan??”


            “Kamu tanggap sekali, Sarayu.” Sekali lagi. . . Sarayu melihat kilatan senyuman dari sosok pria asing itu.


            “Baiklah abaikan soal batu milikmu ini dan kecelakaan yang membawanya muncul ke dunia sebelum waktunya! Sekarang katakan padaku, kenapa kau selalu mengawasiku dan  saudara-saudaraku??”


            “Aku telah memilihmu, Sarayu.”


            “Maksudmu??”


            “Aku telah memilihmu, Sarayu. Aku telah memilihmu dari sekian banyak keturunanku. Aku mengawasimu sepanjang hidupmu hanya untuk membuat pilihan tentang siapa yang akan bisa menggunakan batu ini dengan bijak.”


           


 

__ADS_1


__ADS_2