THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 74 BATU HITAM PART 3


__ADS_3

            “Tunggu sebentar!!” Sarayu mengangkat tangannya meminta waktu untuk mencerna semua penjelasan dari sosok pria di hadapannya itu. “Ini tidak benar, bukankah kau bilang jika pemilik batu itu belum lahir? Lalu kenapa kau memilihku? Apa tujuanmu memilihku??”


            “Menjaga batu itu hingga pemiliknya lahir, Sarayu. Kelak. . . kau juga akan menjadi penjaga dari pemilik batu itu hingga pemiliknya bisa menggunakan batu itu dengan baik.”


            “Bukankah itu artinya kau tahu kalau batu itu akan keluar sebelum waktunya??” balas Sarayu masih tidak mengerti.


            “Tentu saja. . . aku tahu. Bukankah aku adalah pemilik batu ini??”


            “Bagaimana caranya kau mengetahui hal i-“ Sarayu menutup mulutnya ketika menyadari kenyataan penting bahwa sosok di depannya adalah pemilik sesungguhnya dari batu hitam itu. “Kau bisa melihat masa depan seperti Ethan??”


            “Itu benar.”


            Kilatan senyuman muncul di bibir pria itu dan terlihat dengan jelas oleh kedua mata Sarayu. “Bukankah artinya seseorang yang bisa menggunakan semua kemampuan batu itu nantinya mampu mengendalikan banyak hal di dunia ini??”


            “Kau benar. Tapi. . . pemilik batu itu tidak akan melakukan hal buruk menggunakan batu itu nantinya. Aku bisa menjanjikan hal itu padamu, Sarayu.” Dari suaranya. . . Sarayu menangkap suara penuh keyakinan seolah apa yang dijanjikannya itu telah dilihat oleh dirinya sendiri. “Kembali kepada dirimu, Sarayu. Sekarang setelah kau tahu alasanmu berada di sini, di depanku dan bisa menggunakan banyak kemampuan dari batu milikku ini, apa kau bersedia untuk menerima tugas itu??”


            “Kau sekarang bertanya padaku??” Sarayu menatap tajam ke arah pria itu karena tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


            “Ya, aku sekarang bertanya padamu.”


            “Apakah aku punya pilihan untuk menolak??” Sarayu berbalik bertanya kepada sosok pria itu, masih dengan menatap tajam ke arahnya.


            Pria itu tersenyum sebelum memberikan jawaban kepada Sarayu. Pria itu bahkan sedikit memiringkan kepalanya ketika melihat Sarayu. “Sayangnya tidak, Sarayu.”


            “Lalu kenapa bertanya jika pada akhirnya tidak akan ada yang berubah??”


            “Sama seperti takdir yang kau jalani, kau tidak akan bisa memilihnya karena kau telah lahir ke dunia ini. Pilihan-pilihan yang kau pilih di sepanjang hidupmu, membawamu ke titik ini dan membuat berada pada titik di mana kau tidak akan bisa memilih selain menerimanya.” Pria itu mendekat ke arah Sarayu dan kemudian menarik tangan Sarayu sebelum akhirnya menggenggamnya dengan erat. “Aku bertanya hanya untuk memberitahumu bahwa pada akhirnya kau harus menerima hal ini. Di depan sana. . . sesuatu yang besar sedang menantimu dan semuanya bergantung pada tangan ini dan pilihan yang akan kau ambil ke depannya. Jadi. . . ketika pilihan datang padamu nantinya, pilihlah dengan bijak, Sarayu. Sama seperti pilihan-pilihan sebelumnya yang datang padamu, kau harus membuat pilihan dengan bijak.”

__ADS_1


            Alis Sarayu mengerut karena tidak mengerti maksud dari ucapan yang terdengar sebagai pesan di telinga Sarayu. “Kenapa aku merasa ucapanmu terdengar seperti pesan penting?? Apa kelak di masa depan aku akan salah membuat pilihan hingga membuat kerugian yang besar bagi dunia dan batu milikmu itu?”


            “Aku selalu percaya padamu, Sarayu. Kau yang terbiasa kehilangan, kau yang terbiasa tidak bisa memiliki dan kau yang terbiasa menahan sesuatu, bukanlah orang yang serakah ketika akhirnya semua keinginanmu yang selama ini tertahan akhirnya dikabulkan. Aku selalu percaya pada hati nuranimu itu dan aku selalu percaya pada pilihan yang kamu buat. Hanya saja. . . kau tetaplah manusia biasa yang punya keinginan dan hawa nafsu. Bisakah kau ingat pesanku ini ketika kau diharuskan memilih nantinya??”


            Sarayu menatap sosok pria itu dengan kepala miring dan perasaan ragu. Tidak lama kemudian Sarayu menganggukkan kepalanya dan menyetujui permintaan pria itu. “Aku akan mengingatnya.”


            “Baguslah. . . kalau begitu pertemuan kita berikutnya bukan di sini melainkan di dunia nyata. Aku benar-benar tidak sabar untuk segera bertemu denganmu, Sarayu.”


            Sosok pria itu tiba-tiba hilang setelah tertiup angin yang kencang bersama dengan kabut tebal yang selalu menutupi wajahnya selama ini. Tidak lama kemudian seluruh tempat di mana Sarayu berubah menjadi gelap gulita dan menyisakan kehampaan untuk sejenak. Dalam kegelapan itu, Sarayu bertanya-tanya di dalam benaknya. Kira-kira pilihan apa yang nantinya akan membuatku bisa salah mengambil jalan??


*


            Ethan yang diam-diam memperhatikan Winner yang menjaga Sarayu, akhirnya berjalan mendekat ke arah Winner ketika Winner keluar dari kamar Sarayu.


            “Mr Winner.” Ethan memanggil Winner dengan caranya yang sopan.


            “Bisakah kita bicara berdua saja, Mr Winner? Itu pun jika Tuan tidak keberatan.”


            Tadinya. . . Winner keluar dari kamar rawat Sarayu karena perutnya yang meronta-ronta hingga berbunyi dengan parah karena sejak pagi dirinya masih belum sempat makan. Winner merasa takut meninggalkan Sarayu dan tidak ada di sampingnya jika Sarayu akhirnya membuka kedua matanya setelah beberapa hari ini terus tertidur.


            Tapi. . . Ethan mencegatnya tidak jauh dari kamar Sarayu dan kini mengajaknya untuk bicara. Winner tadinya ingin menyembunyikan perutnya yang berteriak meronta-ronta dan menunda makannya setelah bicara dengan Ethan. Tapi perutnya benar-benar tidak bisa diajak kerja sama dan berbunyi ketika dirinya berdiri di depan Ethan. Jelas. . . Winner merasa malu dengan keadaannya itu.


            “Maaf Tuan Zero, sejak pagi saya tidak berani untuk meninggalkan Sarayu. Alhasil hingga jam segini saya masih belum makan apapun.”


            “Kalau begitu. . . kita bicara sambil makan, apakah Tuan Winner setuju dengan ide itu?” Ethan memberikan tawaran yang jelas tidak akan ditolak oleh Winner.


            Untuk pertama kalinya. . . aku benar-benar merasa senang seseorang mau mengajakku makan bersama, pikir Winner di dalam benaknya. Winner memasang senyuman di wajahnya dan kemudian menganggukkan kepalanya sebelum menerima tawaran dari Ethan. “Tentu, Tuan. Saya sangat setuju sekali.”  

__ADS_1


            Menu makan siang hari ini adalah Swedian meatball yang merupakan satu dari beberapa makanan favorit Winner. Makanan itu menjadi satu dari beberapa makanan favorit Winner sejak kuliah ketika mendapati Sarayu juga menyukai makanan itu. Siang ini. . . Ethan makan bersama dengan Winner di ruangan khusus yang hanya bisa digunakan oleh Pasukan Perdamaian Dunia saja.


            Ketika makanan tiba, Ethan membiarkan Winner untuk makan lebih dulu sebelum melaksanakan tujuannya dan hal itu membuat Winner menilai Ethan adalah atasan yang pengertian.


            “Apakah masakan ini sesuai dengan lidah Tuan?” Ethan mengajukan pertanyaan kepada Winner ketika melihat Winner nyaris menghabiskan makan siangnya.


            “Meski rasanya sedikit berbeda, tapi masakan ini benar-benar lezat. Mungkin ini adalah cita rasa sebenarnya dari masakan ini. . .” Winner menyendok satu sendok terakhir dari makanannya ke dalam mulutnya, mengunyahnya dan kemudian menelannya.


            “Senang mendengarnya, Tuan Winner. Senang jika Tuan juga menyukai makanan khas dari Eropa ini.”


            Winner meletakkan sendok dan garpunya, lalu memandang Ethan dengan tatapan yang lebih serius dari sebelumnya. “Saya sudah selesai makan, Tuan. Sekarang Tuan bisa bertanya kepada saya mengenai tujuan Tuan menemui saya. Apakah saya akan dikembalikan ke negara saya lagi??”


            “Tidak, Tuan Winner. Saya tidak akan melakukan hal itu. Kali ini saya akan memberi kebebasan kepada Tuan untuk tinggal di markas ini dengan syarat Tuan mematuhi aturan yang ada.”


            “Tentu saja, Tuan. Saya pasti akan mematuhi peraturan yang ada.” Winner menjawab dengan cepat dan memberi penekanan pada ucapannya kepada Ethan sebagai bentuk dari persetujuannya.


            “Senang mendengarnya. Jika Tuan ingin kembali ke negara asal, Tuan bisa menghubungi saya agar saya bisa mengirim Sixth dan pengawal khusus untuk Tuan untuk menemani Tuan.”


            “Saya pasti akan melakukan itu, Tuan Zero.” Winner merasa senang jika keberadaannya di samping Sarayu, tidak akan lagi menjadi sesuatu yang perlu dikhawatirkannya. Setelah mendapat berita yang menyenangkan itu, Winner kembali bertanya pada Ethan mengenai tujuannya datang menemui dirinya. “Apa Tuan menemui saya, hanya untuk mengatakan hal itu kepada saya?”


            “Tidak. Saya sebenarnya ingin bertanya pada Tuan.”


            “Apa itu?”


            “Apakah Tuan tahu seseorang yang dikenal oleh Savior dengan nama Redo??”         


            Mendengar nama Redo disebut oleh Ethan, Winner tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Winner tahu betul apa arti Redo bagi Sarayu. Hanya saja. . . dirinya benar-benar terkejut mendengar nama itu dari mulut Ethan dan bukan mulut Sarayu.

__ADS_1


 


__ADS_2