THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 87 AMBANG KEKALAHAN PART 3


__ADS_3

 


            Ethan membuka matanya dan mendapati dirinya berada di ruangan asing.


            “Kau sudah bangun, Ethan?” Dylan melihat Ethan dengan tatapan sedih.


            “Kita di mana?” Ethan mencoba bangun dari posisi tidurnya. Begitu mengubah posisi tidurnya, Ethan kini melihat Winner di samping Dylan. “Ini. . .”


            Dylan menganggukkan kepalanya memberikan jawaban kepada Ethan. “Benar, ini di dalam bunker. Forth memukul tengkuk lehermu dan membuatmu tidak sadarkan diri. Forth meminta maaf karena telah berbuat tidak sopan kepadamu. Itulah pesan terakhirnya padaku.”


            “Lalu bagaimana nasib Forth dan Ninth?? Apa mereka selamat?”


            Dylan menggelengkan kepalanya merasa ragu. “Aku ingin sekali berharap bahwa Forth dan Ninth masih hidup, Ethan. Tapi. . . melihat batu milik mereka bergabung dengan batu milik Savior, aku hanya bisa mengatakan bahwa mereka berdua mungkin telah tewas.”


            “Kita harus keluar dari sini. Kita masih harus membantu Savior, Dylan.”


            Ethan bersama dengan Dylan dan Winner kemudian berusaha untuk membuka pintu bunker. Ethan merasa beruntung karena bunker yang dipilih Forth adalah baunker di ruang latihan di mana tidak memiliki banyak benda di dalam ruangannya.


            “Kau tetap di sini, Tuan Winner,” ucap Ethan begitu berhasil membuka pintu bunker dan berjalan keluar dari bunker.


            “Aku?? Kenapa hanya aku??” tanya Winner tidak terima. “Aku mengkhawatirkan Sarayu. Berdiam diri di dalam bunker hanya akan membuatku semakin gelisah.”


            “Kau adalah kelemahan Savior, Tuan Winner,” ucap Ethan. “Sewaktu-waktu, Knight One bisa kembali karena mencariku. Akan lebih aman jika Tuan tetap berada di dalam bunker sampai aku atau Savior sendiri yang menjemputmu, Tuan Winner.”


            “Tapi bagaimana dengan Sarayu? Aku sangat khawatir dengannya. Rekan-rekannya mati satu persatu, bagaimana jika akhirnya Knight One juga membunuh Sarayu.” Winner tetap bersikeras untuk keluar dari dalam bunker demi Sarayu.


            Ethan mendekat wajahnya ke telinga Winner dan kemudian berbisik kepada Winner. Setelah mendengar bisikan dari Ethan, Winner yang tadinya bersikeras untuk keluar langsung menurut dan masuk ke dalam bunker tanpa berkata apapun. Dylan yang melihat situasi itu langsung mengerutkan keningnya karena heran dengan perubahan Winner dalam waktu singkat.


            “Kotak yang membawa batu itu, tolong bawa, Dylan,” ucap Ethan sebelum menutup pintu bunker.

__ADS_1


            “Ah. . . ya.” Dylan membawa kotak yang berisi batu hitam yang sebelumnya dikira sebagai batu meteor yang jatuh. Kini satu-satunya pecahan yang dibawa Dylan dan belum menyatu dengan batu milik Sarayu, hanyalah pecahan batu  milik Ethan saja.


            Bruk. Kriittttt. Ethan menutup pintu bunker dan mengunci dengan kode yang hanya diketahui oleh anggota Pasukan Perdamaian Dunia.


            “Kita mau ke mana sekarang, Ethan??”


            Ethan memimpin jalan dengan hati-hati sembari terus memasang sikap waspadanya dan melindungi Dylan di belakangnya. “Ruang darurat milik Forth.”


            “Dia punya ruangan itu??”


            Ethan menganggukkan kepalanya. “Ya. Ini adalah ruangan yang hanya aku, Forth, Eighth dan Ninth yang mengetahui ruangan itu. Ruangan ini hanya digunakan ketika markas hancur dan semua komunikasi mati.”


            Ethan berjalan dengan hati-hati sembari melewati banyak mayat pasukannya yang tergeletak mengenaskan: beberapa tidak bisa dikenali karena terkena ledakan dari markas dan beberapa lainnya mati dalam keadaan sebagian tubuhnya hancur yang mungkin disebabkan ledakan atau terkena serangan dari Knight One.


            “Jika boleh, aku ingin bertanya, Ethan?”


            “Apa??” Ethan terus berjalan di depan Dylan sembari memilih jalan yang aman menuju ruang darurat.”


            “Kau penasaran, Dylan??” Ethan berbalik bertanya kepada Dylan dengan melirik Dylan sembari terus memilih jalan di depannya yang aman.


            “Tentu saja. Winner itu adalah orang yang sedikit keras kepala, jadi harusnya dia bukan orang yang akan menurut begitu saja ketika sudah berniat akan sesuatu.”


            “Kau benar, Dylan. Winner memang sedikit keras kepala.”


            “Jadi apa yang kau katakan pada Winner hingga akhirnya Winner menurut??” tanya Dylan lagi masih penasaran.


            “Masa depan yang menunggunya jika dia tetap di dalam bunker dan masa depan yang menunggunya jika dia keluar dari bunker itu.” Setelah berjalan beberapa waktu  dengan ekstra hati-hati dan waspada yang tinggi, akhirnya Ethan dan Dylan tiba di ruangan darurat yang dimaksud oleh Ethan. “Kita sudah sampai.”


            Dylan menatap heran melihat ruangan itu karena dia kenal betul ruangan itu. “Bukankah ini ruang tidur Seventh? Kenapa ruangan darurat ini ada di sini??”

__ADS_1


            Ethan tersenyum pahit melihat ruangan tidur milik Seventh yang telah berantakan dan nyaris hancur terkena ledakan yang mengenai markas. Mendengar nama Seventh disebut oleh Dylan, dalam sekejap wajah Seventh muncul di dalam benak Ethan. Ethan membayangkan betapa kesalnya Seventh jika mengetahui ruangan di mana dirinya tidur selama ini adalah ruang darurat yang dirancang khusus oleh Forth, Eighth dan Ninth. Dia pasti akan kesal sekali dan langsung menghujani kami dengan seribu kata omelannya.


            Ethan kemudian membuka lemari pakaian di kamar Seventh yang harusnya hancur tapi masih dalam keadaan baik-baik saja. Setelah masuk ke dalam lemari, Ethan menekan satu tombol yang tidak akan terlihat ketika pintu lemari terbuka.


            “Ini benar-benar ada,” ujar Dylan terkejut.


            Begitu tombol ditekan, dinding lemari itu terbuka dan membuat Ethan dan Dylan melihat ruangan kecil yang hanya berukuran 4x5 meter. Ukuran ini. . . jauh lebih kecil dari ruang komando yang sebenarnya. Begitu masuk. . . Ethan langsung menekan tombol daya darurat dan menyalakan semua mesin yang ada.


            “Savior.” Ethan langsung memanggil nama Sarayu dari saluran komunikasi darurat yang baru saja diaktifkannya.


*


            Sarayu yang nyaris ingin menyerah dan kehilangan semangatnya, tiba-tiba mendengar suara Ethan dari saluran komunikasi yang terhubung di telinganya.


            “Savior.”


            Sarayu ingin menjawab panggilan itu, tapi saat ini di hadapannya masih ada Knight One dan Knight Five yang sedang berselisih. Perselisihan yang berawal dari adu mulut itu kini berubah menjadi saling adu pukul satu sama lain.


            “Lepaskan aku, Knight Five!! Jika dia tidak tahu di mana Ethan berada, maka wanita ini tidak ada gunanya lagi untuk kita. Membiarkannya hidup hanya akan membuat kita dalam masalah nantinya.”


            Knight One berusaha untuk mendekati Sarayu berulang kali dan selama berulang kali itu Knight Five berusaha menghalangi Knight One bahkan beberapa kali menahan pukulan yang dilancarkan oleh Knight One.


            “Knight Two!!!” Knight One yang merasa kesal dengan Knight Five memanggil Knight Two dengan saluran komunikasi miliknya. “Bunuh Savior sekarang juga!!!”


            Setelah mengatakan hal itu, Knight One bergerak menjauh dari lokasi Sarayu untuk melindungi dirinya sendiri. Sementara itu misil yang dilepaskan oleh Knight Two atas perintah Knight One bergerak dengan cepat membelah udara menuju ke lokasi di mana Sarayu berada. Sarayu yang kedua tangannya dikunci oleh Knight Five dan kehilangan hampir seluruh tenaganya hanya bisa melihat bayangan kematiannya sembari membalas panggilan Ethan tadi.


            “Mungkin aku juga akan bersama dengan rekan-rekanku, Tuan.”


            “Tidak, kau akan hidup, Savior!!!”

__ADS_1


            Ethan dengan cepat membalas ucapan Sarayu yang pasrah dengan kematiannya itu dan di saat yang sama, Knight Five melepaskan kunci yang mengikat tangan Sarayu dan berdiri di depan Sarayu, berusaha melindungi Sarayu dengan mengeluarkan logam dari kedua tangannya.


 


__ADS_2