THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 23 KEDATANGAN DAN UJIAN


__ADS_3

Setelah berpisah dengan benar, Sarayu bersama dengan Sixth kemudian pergi ke Indonesia di mana Winner bersama dengan perwakilan kelompok negara netral sedang menunggu kedatangannya. Tidak lupa juga Sarayu mengenakan pakaian pria-setelan jas serba hitam dengan masker yang menutupi separuh bagian bawah wajah Sarayu. Selain mengenakan masker untuk menutupi separuh dari wajahnya, Sarayu juga mengenakan rambut palsu dan memilih model rambut dari Second: rambut kecoklatan yang tidak panjang juga tidak pendek dengan bagian poni di bagian depannya. 



Dengan membawa tas punggung dan tas tangan yang berisi senjatanya, Sarayu bersama dengan Sixth kemudian berpindah tempat dalam sekejap mata. 



“Welcome, representive of The Ingmar Alliance.” Orang pertama yang menyambut kedatangan Sarayu dan Sixth adalah duta dari negara Indonesia. 



Sixth yang lebih berpengalaman menghadapi situasi seperti ini, maju dan membalas sambutan itu. “It is an honor for us to receive a welcome from you, Sir.” 



Setelah sambutan kecil dari duta negara Indonesia, Sarayu dan Sixth kemudian dibawa ke dalam ruangan di mana Winner bersama dengan manajernya-Rudi sedang duduk menunggu bersama dengan beberapa duta dari anggota kelompok negara netral yang lain. Begitu Sarayu bersama dengan Sixth tiba di ruangan itu, seluruh duta dari kelompok negara netral sebanyak 10 orang-kecuali duta dari Indonesia, bersama dengan Winner dan Rudi-manajernya langsung menyambut kedatangan Sarayu dan Sixth dengan senyuman di wajah mereka. 



Sarayu dan Sixth kemudian menundukkan kepalanya sebagai balasan dari sambutan hangat itu dan kemudian duduk di kursi yang telah disediakan. 



Duta dari Indonesia yang duduk di kursi di samping Sixth, tanpa basa basi langsung bertanya kepada Sixth dan Sarayu. “So, which one of you will be teh bodyguard of our Winner?” 



Sarayu yang mendengar kata “Our Winner” kemudian memandang ke arah Winner yang duduk di samping duta negara Indonesia. Sepertinya mereka sangat menghargai Winner hingga tidak sungkan menyebut Winner dengan sebutan Winner kita. 



Tadinya Sixth ingin menjawab pertanyaan dari Duta Indonesia itu lagi, tapi Sarayu menghentikan niat Sixth itu dengan mengangkat tangannya. Sarayu kemudian membuat suaranya sedikit serak dan menjawab, “Saya, Tuan Duta.” 



Beberapa duta yang mengerti Bahasa Indonesia langsung terkejut ketika mendengar Sarayu yang memberikan jawaban dengan bahasa Indonesia. 



“Apakah Tuan ini bisa berbahasa Indonesia?” Duta Indonesia bertanya untuk memastikan bahwa telinganya tidak salah mendengar. 



“Ya, Tuan. Saya pernah tinggal di Indonesia selama beberapa tahun. Karena alasan itu, sayalah yang dipilih untuk menjadi pengawal bagi Tuan Winner.” Setelah menjawab pertanyaan dari duta dengan menggunakan bahasa Indonesia, Sarayu kemudian menerjemahkan ucapannya dalam bahasa Inggris agar Sixth juga bisa mengerti percakapan mereka sekaligus bisa melaporkannya kepada Ethan dan lainnya ketika kembali nanti. 


__ADS_1


“Kebetulan sekali jika begitu. Akan lebih mudah jika Tuan pengawal ini mampu berbahasa Indonesia dan berkomunikasi dengan baik ketika menjadi pengawal Winner.” Duta Malaysia yang juga bisa berbahasa Indonesia, memberikan komentarnya dengan senyuman di wajahnya. 



“Saya akan berusaha dengan baik, Tuan.” Sekali lagi, setelah menjawab dengan menggunakan bahasa Indonesia, Sarayu langsung menerjemahkan semua percakapannya ke dalam bahasa Inggris agar Sixth juga memahami percakapan itu. 



“Sebelum itu. . . bisakah saya meminta Tuan ini untuk menunjukkan keahlian Tuan dalam melindungi Winner nantinya? Dalam kesepakatan yang kami kirimkan, dijelaskan bahwa kami bisa menolak orang yang dikirim oleh Aliansi Ingmar jika kami merasa orang yang dikirim tidak cukup kuat untuk melindungi Winner kami.” 



Mendengar permintaan itu dari mulut duta Malaysia, Sarayu tersenyum di balik maskernya dan membalas. “Tentu, Tuan. Bagaimana cara saya menunjukkan kemampuan saya?” 



Merasa suasana di ruangan itu berubah menjadi sedikit tegang, Sixth kemudian berbisik pada Sarayu. “Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba tekanan di ruangan ini berubah?” 



“Mereka ingin aku menunjukkan kemampuanku, Sixth,” balas Sarayu dengan berbisik juga. 



“Benarkah itu?” 




“Sebelumnya bagaimana saya memanggil Tuan?” Duta dari Malaysia bertanya lagi kepada Sarayu. 



“Savior. Kode nama saya adalah Savior, Tuan. Lalu di samping saya ini adalah pria dengan kode nama Sixth.” 



Senyuman muncul di wajah duta Malaysia karena merasa nama yang digunakan Sarayu terkesan sedikit kekanakan. “Jadi bagaimana jika Tuan Savior ini melewati ujian yang kami buat? Apakah Tuan keberatan?” 



Sarayu menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab permintaan konyol itu. “Tentu, Tuan. Saya tidak keberatan. Di mana saya harus melakukan ujian itu?” 



Setelah itu para duta dari kelompok negara netral itu memandu Sarayu dan Sixth menuju sebuah ruangan dengan dikelilingi oleh kaca yang tebal. Sarayu yang akan menjadi pengawal dari Winner diminta untuk masuk ke dalam ruangan seorang diri, sementara Sixth menunggu di luar bersama dengan para duta, Winner dan manajernya. 

__ADS_1



“Karena sebelum ini Winner kami diserang oleh penembak yang menembakkan peluru mereka secara beruntun dan membunuh manajer lama Winner, kami ingin melihat bagaimana Tuan akan melindungi diri Tuan sendiri ketika hujan peluru itu datang kepada Tuan. Apa Tuan Savior keberatan dengan hal itu?” Kali ini yang bertanya adalah Duta dari Indonesia melalui mikrofon dari ruangan sebelah di mana penonton berada. 



“Tentu tidak, Tuan. Silakan melihat,” balas Sarayu. 



Setelah memastikan bahwa Sarayu menerima ujian itu, duta dari Indonesia kemudian membuka lubang-lubang dari dinding di mana Sarayu berada. Dari dalam lubang itu, keluar senapan yang akan menembakkan peluru ke arah Sarayu. 



1, 2, 3,. . . Sarayu menghitung senapan yang keluar dari dinding dengan cepat dan dalam waktu dua detik melihat bahwa senapan yang muncul berjumlah seratus buah. Ujian yang menyebalkan. Sarayu menatap ke arah Sixth dan melihat Sixth melihatnya dengan tatapan khawatir. Karena mengenakan masker yang menutupi bagian bawah wajahnya, Sarayu tidak bisa tersenyum ke arah Sixth agar Sixth tidak khawatir padanya. Sarayu kemudian mengerlingkan satu matanya kepada Sixth sebagai ganti dari senyuman yang tidak bisa dibuatnya. 



“Kita mulai, Tuan Savior.” 



Setelah kalimat itu terdengar dari pengeras suara, seluruh senapan yang berada di dalam ruangan di mana Sarayu berada, langsung menembakkan peluru ke arah Sarayu secara serentak. Dor. . dor. . . dor. . .


Menghadapi situasi seperti ini. . . Sarayu ingat bagaimana First yang mengajarnya dalam waktu cukup lama, pernah membuatnya menjalani situasi yang sama. Ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan latihan yang dibuat oleh First untukku.


Setelah berbicara sendiri di dalam benaknya, Sarayu kemudian membuat pelindung dari angin berdasarkan gesekan peluru yang membelah udara. Sarayu membuang pelindung angin yang berbentuk kubah seperti yang terakhir kali dibuatnya. Setelah membuat pelindung itu dan melindungi dirinya sendiri, Sarayu memanggil Ruyi yang tersimpan seperti bentuk jarum di telinganya. 



“Ruyi, keluar.” 



Asap tebal kemudian muncul bersamaan dengan jumlah peluru yang semakin banyak keluar dan menabrak dinding pelindung angin yang dibuat oleh Sarayu. Dalam keadaan itu, Sarayu tidak bisa melihat ke arah Sixth dan duta lainnya di ruangan lain. Hal yang sama pun berlaku bagi Sixth yang berdiri bersama dengan duta dari kelompok negara netral dan Winner. 



Sarayu memanfaatkan keadaan itu setelah memeperhatikan jeda dari senapan ketika melepaskan peluru dan kemudian memerintahkan Ruyi untuk membesar dan berputar menghancurkan seluruh senapan di ruangan itu. 



“Ruyi! Membesar, berputar dan hancurkan senapan yang ada di seluruh ruangan ini!” Setelah memberikan perintah itu, Sarayu menggunakan sedikit kemampuannya yang dipelajarinya dari Second-memanipulasi waktu dengan cara memperlambat waktu di luar pelindung dindingnya. Di saat peluru yang datang melambat, Sarayu membuka celah pada pelindungnya dan melemparkan Ruyi keluar untuk menghancurkan senapan di ruangan itu. 



Wush. Celah pelindung terbuka sedikit dan Ruyi langsung bergerak keluar. Wing. . wing. . . suara Ruyi yang berputar-putar di udara terdengar oleh Sarayu. Tidak lama kemudian suara Ruyi yang berputar itu berubah. Brak. Dash. Brak. Brak. Brak. Dash. Dash. Brak. Suara benturan diikuti suara senapan yang gagal melepas peluru terdengar di telinga Sarayu. Kerja bagus. Ruyi. Perlahan asap tebal itu mulai menghilang karena peluru yang lepas dan menghantam pelindung angin yang dibuat oleh Sarayu semakin berkurang. Asap tebal itu benar-benar hilang ketika Ruyi kembali ke dalam genggaman tangan Sarayu. 

__ADS_1



“Bagaimana, Tuan-Tuan? Apakah Tuan-Tuan puas dengan ini?” Sarayu bertanya dengan suara lantangnya.


__ADS_2