THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 44 BENCANA DI MASA LALU PART 2


__ADS_3

       Dengan menggunakan tongkat merahnya-Ruyi dan manipulasi waktu milik Second, Sarayu dan Winner tiba di tepi pantai terdekat hanya dalam hitungan menit. Begitu tiba di pantai, Winner langsung muntah-muntah dengan hebatnya karena tidak terbiasa berada di punggung Sarayu yang membawa dirinya menaiki tongkat merah miliknya-Ruyi.


           “Hueeeeeekkkkk.”


           “Kau baik-baik saja, Winner??” Sarayu bertanya dengan wajah sedikit khawatir dan sedikit bersalah.


           “Kenapa kau tidak bilang-bilang jika menggunakan kemampuan itu akan membuatku mual dengan hebat, Sa-ra-yu???” Winner memandang tajam ke arah Sarayu. “Hueeek.”


           “Bukankah kau baik-baik saja saat tidak sengaja berpindah kemari?? Kenapa sekarang tiba-tiba kau mual-mual??” Sarayu merasa aneh dengan maksud dari ucapan Winner padanya.


           “Apa yang kau bilang dengan baik-baik saja?? Lihat, aku!! Sekarang aku mual-mual begini dan kau masih bilang jika aku baik-baik saja??”


           Sarayu yang masih merasa aneh kemudian teringat dengan fobia milik Winner yang dikenali oleh semua penggemar Winner. Di masa lalu, Sarayu tidak sengaja mendengar banyak hal tentang Winner dari teman-teman kampusnya yang begitu menggilai Winner. “Kau bukan takut karena aku menggunakan manipulasi waktu seperti milik Second, Winner. Yang kamu takutkan adalah ketinggian  di mana aku tadi membawamu, bukan? Mengaku saja, Winner??”


           “Hu-“ Winner langsung menghentikan mualnya dengan menahan mulutnya ketika mendengar ucapan Sarayu. “A-aku tidak takut dengan ketinggian. Hu. . .huek.”


           “Sudah mengaku saja. Meski aku ini bukan penggemarmu, aku tahu banyak hal tentangmu, Winner.”


           “Kau tahu banyak tentangku??” Winner langsung menghampiri Sarayu dengan mata berbinar dan penuh harapan. “Seberapa banyak kau tahu tentangku, Sarayu??”


           “Kenapa kau ingin tahu???”


           “Aku hanya ingin tahu saja.”


           Sarayu yang merasakan tatapan penuh harap di mata Winner, merasakan bahwa jawaban yang akan diberikannya kepada Winner mungkin bisa membuat Winner salah paham ke depannya. Jadi Sarayu memberi jawaban yang tegas dalam jawabannya kali ini. “Jangan salah paham, Winner. Aku tahu tentangmu itu karena terpaksa. Aku terpaksa mendengar teman-teman kuliahku yang selalu membicarakan banyak hal tentangmu dari apa yang kamu suka hingga apa yang kamu benci. Bahkan tipe wanita idealmu itu pun aku juga terpaksa mendengarnya. Aku benar-benar merasa heran teman-teman kuliahku yang sudah tahu bagaimana gadis yang menjadi tipemu itu masih sering berkhayal dan berfantasi menjadi kekasihmu.”

__ADS_1


           “Bagaimana denganmu?? Apakah kau pernah melakukan hal yang sama??” Winner mencoba bertanya dengan sedikit harapan.


           “Apa yang kamu maksud, Winner??”


           “Berfantasi tentangku. Apakah kamu pernah melakukannya??”


           Sarayu menggelengkan kepalanya tanpa ragu sedikit pun. “Tidak pernah. Berfantasi tentang idola sama dengan membuang waktu. Mereka tidak mengenalmu dan hanya kamu yang mengenal mereka, bukankah itu tragis sekali.”


           “Ta-tapi kamu kan mengenalku? Kita teman kuliah dan bukan dua orang yang tidak saling mengenal. Bukankah gambaranmu itu tidak cocok, Sarayu??” Winner yang tidak terima langsung membuka mulutnya untuk membalas.  


           “Tapi pada kenyataannya, aku memang tidak pernah berfantasi tentangmu. Bukankah sejak pertama bertemu, aku sudah mengatakan jika aku ini sedikit kesal padamu karena banyak wanita yang mengelilingimu dan hal itu membuat ketenangan yang aku suka rusak?”


            Winner tidak bisa membalas ucapan Sarayu yang diucapkan dengan penuh keyakinan dan tanpa rasa ragu sedikit pun. Winner kemudian melihat ke arah lautan yang masih belum bereaksi setelah guncangan hebat yang tadi terjadi. “Baiklah. . . apa yang akan kita lakukan di sini sekarang??”


           “Menunggu.”


           Sarayu duduk di atas pasir pantai putih dan duduk menunggu seperti ucapannya kepada Winner. “Itulah niatku datang kemari. Kita harus menunggu hingga tsunami itu datang, untuk melihat kenapa hanya kota J saja yang tidak diterjang oleh tsunami terburuk sepanjang sejarah.”


           Winner yang tadinya tidak ingin duduk dan bersikeras untuk berdiri, akhirnya duduk di samping Sarayu. Meski tubuhnya saat ini hanya berupa bayangan karena bukan merupakan bagian dari waktu saat ini, tapi Winner dapat merasakan teriknya sinar matahari yang menyengat dan angin kencang yang bertiup di sepanjang pantai.


           “Ini terlalu terik. Tidak bisakah kita duduk menunggu di tempat yang lebih teduh??” Winner berkata dengan suara lemas dan nada sedikit memohon.


           Sarayu tadinya merasa baik-baik saja dengan sinar matahari yang terik itu. Di masa lalu, Sarayu pernah bekerja di siang hari dengan sinar matahari yang jauh lebih menyengat dari ini dan berkat itu, tubuh Sarayu lebih mudah beradaptasi ketika berada di tempat yang terik. Tapi. . . Winner berbeda dengan dirinya. Winner adalah seorang publik figur yang harus menjaga dirinya baik wajah, tubuh, penampilan dan gaya hidupnya. Berada di tempat yang terik seperti ini, mungkin adalah hal yang buruk bagi Winner dan bagi karirnya nanti. Akhirnya demi Winner dan rasa tanggung jawabnya sebagai pengawal yang harus menjaga dan melindungi Winner, Sarayu menggunakan kemampuannya. Sarayu membuat pelindung angin di atas kepalanya dan atas kepala Winner demi melindungi Winner dari teriknya sinar matahari.


           “Bagaimana?” Sarayu menurunkan tangannya setelah membuat pelindung di atas kepalanya dan atas kepala Winner. “Apa masih terasa terik??”

__ADS_1


           Winner menggelengkan kepalanya dengan senyuman lebar di bibirnya. “Sudah tidak terasa terik lagi. Kemampuanmu ini benar-benar kemampuan unik yang cukup menguntungkan juga. Jika ada kau yang jadi pengawalku, maka aku tidak perlu membawa payung saat panas atau saat turun hujan. Bahkan aku tidak perlu membawa banyak pengawal jika harus dikerumuni oleh penggemarku.”


           “Maumu. Tidak selamanya aku jadi pengawalmu, Winner. Juga tidak selamanya aku bisa memiliki kemampuan ini,” jelas Sarayu sembari membiarkan angin pantai menerpa wajahnya.


           “Apa maksudnya dengan itu? Apa kemampuan ini bisa hilang begitu saja seperti angin yang datang dan pergi?”


           Huft. Sarayu menghela napasnya mendengar ucapan Winner yang aneh itu. “Kemampuan ini, kemampuan unik yang kami terima ini adalah sesuatu yang kami dapatkan ketika kami menyentuh pecahan meteor. Zero menyebutnya dengan nama God’s Blessing-berkah Tuhan.”


           “Nama yang aneh untuk sebuah meteor jatuh,” balas Winner.


           “Awalnya aku juga berpikir hal yang sama denganmu, Winner. Tapi nama itu adalah nama yang cocok menurutku. Zero-ketua kami dapat melihat gambaran masa depan dan itulah kenapa Zero menyebut meteor itu dengan nama itu.”


           Winner yang tadi menyepelekan sebutan dari meteor jatuh yang membuat beberapa orang memiliki kemampuan unik yang tidak bisa dimiliki oleh orang biasa pada umumnya, langsung menaruh perhatian ketika mendengar bahwa ketua dari Pasukan Perdamaian Dunia memiliki kemampuan untuk membaca masa depan.


           “La-lalu apakah Zero itu melihat masa depan kita yang penuh dengan perdamaian atau penuh dengan perang? Siapa yang menang nantinya? Aliansi Ingmar atau Aliansi Arael??” Winner langsung mencerca Sarayu dengan beberapa pertanyaan sekaligus karena rasa ingin tahunya.


           “Zero melihat dunia yang penuh dengan perdamaian. Hanya saja untuk mewujudkan perdamaian itu dibutuhkan seseorang untuk mengalahkan dan menaklukkan Aliansi Arael.”


           “Lalu kapan perdamaian itu akan datang? Setahun lagi? Dua tahun lagi? Atau mungkin enam bulan lagi?”


           Mendengar pertanyaan Winner yang kali ini sedikit kekanakan, Sarayu langsung  melemparkan tatapan tajam ke arah Winner. “Kau ini. . . kenapa pikiranmu sederhana sekali?? Kau pikir mudah membuat semua hal itu terwujud?”


           “Bukankah Zero sudah melihatnya di masa depan? Jika benar begitu, maka harusnya hal itu bisa dengan mudah diwujudkan.” Winner memberikan jawaban dengan enteng seolah perdamaian yang sedang diimpikan oleh banyak orang itu seperti membalikkan telapak tangan.


           “Kemampuan Zero itu-“

__ADS_1


           Brrrrrr, , , Sarayu tadinya ingin memberikan penjelasan kepada Winner dan otaknya yang sederhana itu, tapi guncangan terjadi lagi dan itu adalah gempa kedua yang menjadi pertanda dari bencana tsunami yang akan menerjang di seluruh pantai selatan pulau J.


__ADS_2